AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 37



"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." ucap Ghibran mengakhiri gerakan sholat dengan kepala menoleh ke kanan dan di ikuti Aretha.


Ghibran membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya kanannya ke Aretha.


"Hah?" cengoh Aretha yang tidak mengerti maksud Ghibran.


"Ini...." ucap Ghibran sambil menggerakkan tangannya.


"Kenapa sih, tangan kamu sakit habis pijat aku tadi?" tanya Aretha.


"Iisss." dengan cepat Ghibran menarik kepala Aretha dan mencium keningnya.


Cup.


Mata Aretha melotot sempurna mendapati apa yang Ghibran lakukan kepadanya. Dan tak lupa pula jantungnya yang rusak lagi.


Deg deg deg.


Detak jantung Aretha seperti diskotik atau bahkan sudah seperti beat jedag jedug.


"Nungguin kamu peka sampai ayam jalan pakai kepala juga gak bakalan peka peka." sindir Ghibran dan menghadap ke depan lagi untuk berdzikir.


"Aku gak peka kenapa sih?" tanya Aretha pada dirinya sendiri dengan lirih.


"Udah gak usah di pikirkan sekarang, lanjutin dzikir nya habis itu baru kamu pikir." sahut Ghibran tanpa menatap ke Aretha lagi.


"Nih orang kupingnya segede gajah apa ya, masak suara kecil kek gitu bisa denger." suara Aretha dalam hati.


"Gak usah ngomongin aku di hati, kalau berani bicara langsung depan aku." ucap Ghibran lagi.


"Hah, kok kamu tahu?" kaget Aretha.


"Astaghfirullah hallazim, astaghfirullah hallazim, astaghfirullah hallazim." bukannya menjawab Ghibran malah mengeraskan dzikir nya.


Melihat itu Aretha pun ikutan berdzikir dan tak lagi memikirkan masalah barusan.


-


Di sebuah kamar yang bergitu megah terdapat seseorang yang tengah duduk di sebuah kursi kerja sambil memandangi bingkai foto yang ada di tangannya.


"Sekarang kamu sudah menikah, kakak doa in dari sini semoga rumah tangga kalian selalu di selimuti kebahagiaan dan di jauhkan dari masalah."


"Nanti kalau waktunya sudah tepat dan kakak sudah menemukan pelaku itu pasti kakak akan temuin kamu secara langsung, tidak seperti sekarang yang hanya bisa memandang kamu dari jarak jauh."


Orang itu terus memandangi bingkai foto itu tanpa ada lelah di matanya, seolah itu malah menjadi penyemangat baginya. Hingga dia tertidur dengan posisi duduk barulah matanya tidak lagi memandang ke arah bingkai foto.


-


Sementara di tempat pengantin baru, mereka sekarang tengah ribut masalah batas yang Aretha berikan di tengah tengah tempat tidur dengan menggunakan bantal guling.


"Pokoknya kamu gak boleh sampai melewati batas ini, kalau sampai kamu lewati berarti besok kamu tidur di sofa." ucap Aretha menjelaskan maksud dari garis batas itu.


"Kalau kamu yang melewati batas bagaimana?" tanya Ghibran.


"Ya itu tidak akan mungkin, karena aku gak mungkin sampai di tempat kamu." yakin Aretha.


"Oke kita lihat aja besok, siapa yang bangun pagi berada di kandang musuh dia lah pemenangnya dan boleh meminta apapun pada si yang kalah."


"Oke dill."


Mereka berdua berjabat tangan seperti hendak melakukan pertandingan yang sangat sengit.


"Udah sana aku mau tidur jangan ganggu." ucap Aretha dan menaikkan selimut sambil di lehernya.


"Aku juga mau tidur bye." ikut Ghibran membaringkan tubuhnya di samping Aretha tapi ada sekat tengah di antara keduanya.


"Selamat tidur sayang, semoga mimpi yang indah ya. Maaf kalau aku orangnya selalu bikin kamu kesel."


Cup.


Kecupan Ghibran tinggalkan di kening Aretha sebelum dia juga beranjak menuju alam mimpinya.


Tadi setelah memastikan Aretha tertidur dengan pulas Ghibran langsung melancarkan aksinya dengan berbicara seperti itu.


Mereka berdua pun tertidur sama sama nyenyaknya. Hingga saat menjelang pagi Aretha yang merasa kedinginan beringsut mendekati Ghibran dan masuk dalam pelukan hangat Ghibran. Aretha yang merasa nyaman pun memeluk Ghibran dengan erat dan di balas Ghibran memeluk pinggangnya.


...***...