AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 129



...Hai, aku mau kasih tahu. Kalau kalian mau baca cerita di part ini ulangin baca part yang sebelumnya ya, soalnya tadi aku revisi aku tambahin partnya biar panjang....


...~...


"Sini biar nenek yang suapin." tawar nenek Rahma menggambil makanan dari tangan kakek Rahman.


"Gak usah nek, biar Ruby makan sendiri saja."


"Udah biar nenek suapin kamu, tangan kamu kan masih lemas." balas nenek Rahma.


Akhirnya mau tak mau Ruby pun menerima suapan dari nenek Rahma. Nenek Rahma dengan telaten menyuapi Ruby, sesekali nenek Rahma juga mengelap sisa nasi yang tertinggal di sudut bibir Ruby.


Hal itu membuat hati Ruby menghangat, sudah terlalu lama dia tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.


"Kamu kenapa nak?" tanya nenek Rahma khawatir saat melihat mata Ruby yang berkaca kaca.


"Gak papa nek, Ruby hanya teringat sama orang tua Ruby yang sudah pergi nek. Ruby rindu sama mereka, Ruby sudah lama tidak merasakan di suapin makan oleh mereka. Bahkan ketika Ruby sakit sekarang biasanya Ruby harus makan dengan tangan Ruby sendiri nek." jawab Ruby dengan air mata yang sudah menetes.


"Ya Allah nak, kasian sekali kamu. Sekarang kamu tidak perlu sedih lagi ya, kamu bisa anggap nenek ini nenek kamu sendiri kok. Nanti suatu saat kalau kamu kangen bisa langsung ke sini temui nenek." balas nenek Rahma yang merasa terharu dengan nasib Ruby.


"Makasih nek, sudah mau menerima Ruby dan Arthan di sini."


"Iya sekarang kamu makan lagi ya, habis ini kamu minum obat. Kata nak Arthan kepala kamu masih pusing."


"Iya nek."


Sementara itu, kakek Rahman yang tidak tega mendengar cerita Ruby pun pergi dari sana agar tidak ikutan bersedih. Dia mencari kesibukan lain agar tidak menggangu Ruby dan nenek Rahma.


-


Sementara itu, di kediaman Ghibran tengah mengadakan acara pengajian anak anak yatim-piatu untuk mendoakan Ruby dan Arthan agar segera ketemu dan di lindungi di mana pun mereka berdua berada.


Acara sudah selesai dan satu persatu anak anak yatim pamit pulang. Tak lupa ada amplop dan bingkisan yang keluarga Abi Umar berikan kepada mereka.


"Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar, semoga saja Ruby dan Arthan segera di temukan." ucap Umi Fatimah.


"Aamiin...." balas mereka semua.


"Haikal sebaiknya kamu segera tidur, kan besok kamu harus masuk sekolah." ucap Aretha pada Haikal.


"Iya kak, kalau begitu Haikal pamit ke kamar dulu. Assalamualaikum." pamit Haikal dan pergi dari sana setelah mendapatkan jawaban.


"Waalaikum salam." balas mereka.


"Kita harus bagaimana lagi ini, semua upaya sudah kita lakukan. Bahkan Abi sampai mengambil tim sar dari luar kota untuk membantu pencarian mereka. Tapi hasilnya masih tetap nihil." frustasi Abi Umar.


"Benar bi, Ghibran juga bingung. Soalnya tadi Ghibran sama Adam udah melacak JPS di mobil bang Arthan ehh ternyata mobilnya sudah di temukan tapi gak ada orangnya." timpal Ghibran yang juga ikutan frustasi.


"Abi sama mas jangan menyerah gitu aja dong, Aretha yakin kok kalau bang Arthan sama Ruby baik baik aja. Kan mereka berdua itu orang yang kuat, jadi ya mungkin sekarang mereka sudah selamat tapi entah keberadaan mereka ada di mana." ucap Aretha.


"Benar apa kata Aretha, Umi juga yakin kalau anak Umi itu semuanya pada kuat kuat. Jadi Abi sama Ghibran harus tetap semangat dalam mencari keberadaan Arthan dan Ruby." timpal Umi Fatimah yang setuju dengan Aretha.


"Lagian juga masih sehari, masak kalian sudah menyerah." lanjut Aretha.


" Benar apa kata kamu sama Umi, Ghibran jadi ingat waktu bang Arthan bilang kalau dia dulu pernah juara dalam lomba renang. Jadi mungkin bang Arthan membawa Ruby keluar dari mobil dan menepi untuk menyelamatkan diri." Setuju Ghibran.


"Ya udah, terus sekarang kita harus mencari mereka kemana lagi?" tanya Abi Umar.


"Untuk saat ini saran Ghibran sih sebaiknya kita istirahat dulu, agar besok bisa berfikir kemana kita akan mencari mereka berdua." usul Ghibran.


"Ya udah, Abi setuju sama kamu. Berarti kita sekarang istirahat, dan besok kita mulai lagi pencarian mereka." setuju Abi Umar.


"Kita ke kamar yuk." ajak Aretha pada Ghibran.


Mereka berdua pun pamit pergi ke kamar, dan setelah kepergian mereka berdua, Abi Umar dan juga Umi Fatimah pun ikutan kembali ke kamar mereka sendiri yang berada di lantai bawah.


-


"Mas." pangil Aretha.


"Kenapa hmm?" tanya Ghibran sambil mengelus rambut Aretha yang tengah bersandar di dadanya.


"Es krim pesanan aku mana?" tanya Aretha yang baru mengingat janji Ghibran, mungkin tadi karena saking sibuknya mengurus acara pengajian sampai dia lupa pesanan dia.


"Ada, aku taruh di lemari es. Kan tadi kamu sibuk banget jadi yang aku simpan di sana." jawab Ghibran.


"Kenapa, mau di makan sekarang?" lanjut Ghibran.


"Boleh?" tanya Aretha, pasalnya ini sudah malam hari dan biasanya Ghibran akan langsung melarangnya kalau makan es krim di malam hari.


"Untuk hari ini boleh, tapi tidak boleh banyak banyak ya."


"Siap bos." hormat Aretha dengan tangan kanan yang berada di ujung alis.


"Ya udah kamu tunggu di sini ya, biar mas ambil dulu di bawah." ucap Ghibran dan di angguki Aretha.


Aretha pun menyingkir dari dekapan Ghibran dan membiarkan Ghibran pergi keluar dari kamar mereka untuk mengambilkan es krim untuknya.


Setelah beberapa saat, Ghibran kembali dengan tangan yang membawa satu cup es krim rasa coklat yang sangat di sukai oleh Aretha.


"Biar mas yang suapin, nanti kalau kamu makan sendiri bisa comot kemana mana." ucap Ghibran menahan tangan Aretha yang ingin mengambil es krim di tangannya.


Aretha cemberut dan menuruti ucapan Ghibran.


"Gak usah gitu bibirnya, mau mas cium?" tanya Ghibran yang seketika membuat Aretha menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Dasar mesum."


"Mesum sama istri sendiri ya gak papa, lagian udah lama juga kita gak main." ucap Ghibran ambigu.


"Main apa?" tanya Aretha polos.


"Main kuda kudaan." jawab Ghibran.


"Hah, kuda kudaan? Sejak kapan kita pelihara kuda?" entah memang Aretha yang polos atau otaknya saja yang lagi gesrek.


"Iiihhhh gemes banget sih, sini aaaa...." Ghibran menyodorkan satu suapan es krim pada Aretha dan di terima dengan senang hati oleh Aretha.


Ghibran terus menyuapi Aretha es krim sesekali dirinya juga ikutan makan agr Aretha tidak makan es krim terlalu banyak, hingga es krim pun sekarang sudah habis tak tersisa di dalam cup itu.


"Dah habis." ucap Ghibran memperlihatkan kondisi di dalam cup es krim.


"Main kuda-kudaan apa sih?"


"Ya Allah."


Ghibran menyesali mulutnya sendiri yang main asal ceplos aja. Udah tahu istrinya ini akhir akhir ini rada gak bener. Jadi panjang kan masalahnya.


...***...


Hai semua, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Dan aku mau ngasih tahu kalau aku ada cerita novel batu yang berjudul Si Penipu Pacar Tuan Psikopat. yuk buruan mampir, dan semoga kalian suka 🥰🥰🥰