
Ghibran sudah bersiap akan pergi ke toko roti milik Aretha untuk mengantar Aretha ke sana. Sebenarnya tadi Aretha ingin pergi sendiri tapi Ghibran tidak mengijinkannya, melihat perut Aretha yang semakin membesar membuat Ghibran takut terjadi apa apa pada mereka bertiga.
Ya bertiga, Aretha dan kedua calon anaknya.
"Udah siap belum yang?" tanya Ghibran yang menunggu Aretha di sofa kamar mereka sambil memangku laptop di pahanya.
"Iya bentar lagi selesai." balas Aretha.
Tak sampai sepuluh menit Aretha keluar dengan memakai pakaian serba hitam. Gamis hitam, kerudung hitam dan tak lupa niqob hitam yang menutupi wajah cantiknya.
"Subhanallah...." kagum Ghibran melihat keindahan ciptaan Allah di hadapannya.
"Kenapa mas, gak cocok ya? Pasti kelihatan bulat tubuh aku." tak pede Aretha dengan penampakannya.
Memang ini pertama kalinya Aretha memakai niqob. Entah kenapa dirinya tiba tiba ingin segera memakai pakaian yang di beli beberapa hari yang lalu di mall.
"Enggak sayang, kamu cantik banget. Tubuh kamu juga cocok kok gak bulat seperti apa yang kamu katakan." balas Ghibran membenarkan tuduhan Aretha.
"Beneran mas?"
"Iya sayangku cintaku." balas Ghibran.
Ghibran pun menyimpan laptopnya kembali dan berjalan menghampiri Aretha yang tengah berdiri tak terlalu jauh dari Ghibran.
"Semoga kamu selalu Istikomah ya." ucap Ghibran di depan Aretha.
"Aamiin, bantu doanya ya mas."
"Tanpa kamu suruh, doa mas selalu untuk kamu sayang."
"Ya udah yuk kita pergi, nanti keburu makin siang." ajak Ghibran pasalnya ini sudah jam delapan tiga puluh tapi mereka masih berada dalam kamar.
Sampai di lantai bawah mereka bertemu kedua orang tua Aretha, mereka berdua pun berpamitan pada mereka.
"Umi, Abi Aretha sama mas Ghibran pamit dulu ya. Nanti kita pulangnya agak sorean karena sepertinya akan ada banyak yang harus Aretha kerjakan du toko.
"Iya sayang, kalian hati hati ya." balas kedua orang tua Aretha.
"Iya Bu, mi." balas mereka berdua.
"Ghibran jagain anak sama istri kamu ya." ucap Abi Umar pada Ghibran.
"Pasti bi, Ghibran akan selalu menjaga mereka." balas Ghibran.
Setelah itu mereka berdua pun pergi mengunakan mobil Ghibran menuju toko roti milik Aretha. AG bakery toko roti yang Aretha dirikan sejak dia masih kuliah dulu.
-
Sementara itu, Arthan membawa Ruby pulang ke rumahnya. Di sana mereka di sambut oleh para pekerja yang bekerja di rumah Arthan. Para pekerja pun merasa terharu dapat melihat tuan mereka lagi yang sudah di kabarkan meninggal.
Arthan berpesan pada mereka untuk tidak mengatakan kepulangannya kepada siapapun. Dan mereka pun menuruti apa kata Arthan.
"Kamar kamu di sini ya nanti, dan kamar aku ada di samping kamar kamu. Nanti kalau ada apa apa langsung pangil aku aja. Kalau aku gak ada di kamar berarti aku ada di ruang kerja." ucap Arthan sambil menunjuk ke arah ruang kerjanya yang berada di pintu kamar paling pojok sendiri dan di balas anggukan oleh Ruby.
"Ya udah gih kamu istirahat, jangan lupa bersihkan badan kamu dulu biar nyenyak tidurnya." lanjut Arthan.
"Ya udah aku masuk dulu ya." pamit Ruby dan di angguki Arthan.
Ruby pun masuk ke dalam kamarnya yang berada di rumah Arthan, sedangkan Arthan juga masuk ke dalam kamarnya sendiri yang bertempat di samping kamar Ruby.
...***...