
Pemakaman Aretha sudah selesai, semua orang merasa terpukul mendengar kematian Aretha. Arthan dan Ruby yang waktu itu tidak ada di samping Aretha di saat saat terakhirnya pun merasa sangat menyesal, mereka berdua sama sama merasa kehilangan.
Arthan kehilangan adik satu satunya yang dia sayang, Ruby yang kehilangan sahabat terbaik yang selalu membantu dirinya dalam keadaan apapun.
"Sudah nak, ayo kita pulang, ingat pesan Aretha kamu harus kuat tidak boleh bersedih, masih ada Githa yang membutuhkan kamu," ucap Abi Umar mengajak Gibran untuk pulang dari pemakaman.
"Abi sama yang lain duluan aja, Gibran masih mau di sini sebentar, Gibran titip Githa dulu nanti Gibran akan pulang kok," balas Gibran yang ingin meminta waktu sendiri di sana di atas makam istrinya.
"Ya sudah, jangan lama lama di sini, sedih boleh tapi jangan berlarut-larut, ada Githa yang masih membutuhkan kamu sebagai orang tuanya," balas Abi Umar.
"Iya bi," balas Gibran.
Abi Umar pun mengajak yang lainnya untuk pulang duluan, dia tahu pasti Gibran ingin sendiri dahulu.
"Kita duluan ya, Ingat masih ada Githa yang menunggu lo pulang," ucap Arthan kepada Gibran.
Gibran menoleh sebentar dan mengangguk setelah itu dia kembali menatap batu nisan istrinya.
Abi Umar pergi sambil menuntun istrinya yang sedari semalam pingsan, umi Fatimah sangat terpukul atas meninggalnya Aretha, Aretha adalah anak yang dia kandung dan dia rawat mulai dari bayi sehingga dia merasa sangat sangat sedih atas kehilangan Aretha.
Sedangkan Arthan, dia juga pergi menuntun Ruby yang sama sedari semalam yang menangis tidak henti hentinya setelah mendapatkan kabar kematian Aretha.
Arthan sebenarnya juga ingin menangis, tapi kalau dia bersedih juga bagaimana dengan istrinya, siapa nanti yang akan menenangkan dia.
Mereka semua pergi meninggalkan Gibran sendirian di atas makam Aretha, mereka mengerti gimana keadaan Gibran sekarang, Gibran pasti membutuhkan waktu untuk sendiri.
"Sayang...." ucap Gibran lemah.
"Kamu pasti di sana sekarang sudah bahagia, kamu pasti sudah bertemu dengan kedua mertua kamu, kedua orang tuaku. Maafkan aku yang tidak bisa menuruti permintaan kamu agar tidak bersedih di saat kamu pergi. Biarkan aku saat ini menangis di sini, dan setelah itu aku janji sama kamu aku akan menjadi orang yang kuat dan menjadi papa yang hebat untuk anak kita Githa," ucap Gibran sambil memeluk batu nisan istrinya.
Gibran terus mengutarakan isi hatinya hingga gerimis datang barulah dia beranjak pergi dari sana. Meskipun berat meninggalkan makam istrinya tapi Gibran harus kuat karena dia ingat masih ada anaknya yang sekarang masih berada di rumah sakit.
Gibran pulang ke rumahnya, dan setelah itu dia langsung pergi ke rumah sakit untuk menjaga putrinya dengan Aretha.
-
Sepertinya memang keluarga Abi Umar sedang di uji, setelah beberapa hari kepergian Aretha yang membuat semua orang sedih, sekarang keadaan ibu nyai Halimah asli tengah kritis, bahkan dokter sudah mengatakan kalau umur ibu nyai Halimah sudah tidak lama lagi.
Kiyai Mahfud yang setia menemani istrinya itupun sedih, dia sangat berharap kalau istrinya bisa sehat kembali, tapi kalau ini memang sudah takdir dari Allah maka dia akan menerima semuanya dengan lapang dada.
"Kek, kakek makan dulu dari tadi pagi kakek belum makan, ini Ruby bawakan makanan untuk kakek," ucap Arthan yang menemani kiyai Mahfud.
"Iya nanti kakek makan, sekarang kakek belum lapar," balas kiyai Mahfud.
"Kakek makan sekarang ya, bukannya kita ada Allah yang selalu menemani hambanya, jadi kakek jangan terus terusan bersedih seperti ini, kakek harus makan biar kakek tetap sehat dan bisa setiap hari menjaga nenek," timpal Ruby yang tadi baru datang membawakan makan siang untuk Arthan dan juga kiyai Mahfud.
"Iya nak, terimakasih ya kalian sudah menemani kakek di sini," balas kiyai Mahfud yang akhirnya mau memakan makanan yang Ruby bawakan.
"Itu sudah tugas kami sebagai cucu kakek," balas Arthan.
"Kamu gak makan juga?" tanya kiyai Mahfud kepada Arthan.
"Ini Arthan mau makan kok," balas Arthan yang membuka bekal yang juga di bawakan istrinya untuk dirinya.
Mereka berdua pun makan, dengan Arthan yang sesekali menyuapi istrinya makan.
"Gimana keadaan Hanifah?" tanya kiyai Mahfud setelah mereka selesai makan.
"Dia masih Arthan sadera kek, Arthan tidak akan membiarkan dia hidup karena sudah membuat adik Arthan meninggal. Kalau kakek mau melarang Arthan membunuh dia kali ini Arthan tidak akan menuruti itu kek, Arthan gak peduli kalau Arthan dapat dosa besar yang penting buat Arthan wanita itu harus menderita karena sudah membuat keluarga Arthan menderita," balas Arthan.
"Kakek tidak akan melarang kamu, terserah kamu kalau kamu mau melakukan itu, itu urusan kamu sama Allah. Kakek sudah pasrah sekarang, kakek hanya ingin sebelum nanti seandainya nenek kamu menyusul Aretha, kakek ingin berbicara dan meminta maaf sama dia," balas kakek Umar.
"Kakek harus yakin kalau nenek pasti akan segera sadar dan sembuh," balas Arthan.
"Oh iya gimana keadaan cicit kakek, apakah dia sudah boleh di bawa pulang?" tanya kiyai Mahfud menanyakan keadaan anak Aretha.
"Alhamdulillah kek, baru tadi pagi baby Githa pulang ke rumah umi dan Abi," jawab Ruby.
"Alhamdulillah, kakek doakan semoga kalian berdua cepat menyusul mempunyai momongan seperti Gibran,"
"Aamiin kek, terimakasih doanya," balas Arthan dan juga Ruby.
Mereka bertiga ngobrol sebelum akhirnya Arthan dan Ruby pamit pergi untuk mengunjungi keponakan mereka yang sudah di perbolehkan pulang.
-
Arthan baru saja selesai membereskan ibu Hanifah, dia tidak peduli dosa yang akan dia tanggung nanti, yang pasti dia sudah melenyapkan orang yang sudah membuat keluarganya menderita.
"Bereskan mayatnya dan buat pemakaman untuknya," pemerintah Arthan pada anak buahnya.
"Baik tuan," balas mereka.
Meskipun Arthan yang menghabisi ibu Hanifah, tapi Arthan tetap membuatkan pemakaman yang layak untuk saudara kembar neneknya itu.
Setelah membereskan semuanya, Arthan pun langsung pergi menghampiri istrinya yang saat ini tengah berada di toko roti milik Aretha yang sudah di pasrahkan kepada Ruby.
...***...