
Hahahaha asal lo tahu itu gw yang udah hapus rekaman cctvnya.
Balas pesan Arthan setelah Ghibran mengabarkan kejadian yang telah di alaminya di rumah.
Jadi bang Arthan tahu dong siapa pelakunya?
Tanya Ghibran membalas pesan Arthan.
Ya tahulah, bahkan gw sekarang udah tahu siapa dalangnya.
Balas Arthan.
Siapa?
tanya Ghibran penasaran tapi tak mendapatkan jawaban lagi dari Arthan.
"Iiisss bikin penasaran aja." decak Ghibran kesal.
Ghibran pun memutuskan untuk kebawah, karena acara pengajian akan segera di mulai.
Acara pengajian berjalan dengan lancar, keluarga Umi Fatimah pun menginap di kediaman Abi Umar.
"Nenek sama kakek kenapa gak tinggal di sini aja?" tanya Aretha berusaha menahan ibu nyai Halimah dan dan Kiyai Mahfudz agar tetap tinggal di rumahnya.
"Nenek sama kakek tinggal di rumah orang tua kamu aja ya, besok pagi nenek sama kakek pasti ke sini lagi kok." Balas ibu Nyai Halimah menolak permintaan Aretha.
"Huh, ya udah deh, tapi janji ya besok pagi harus ke sini."
"Insyaallah sayang." balas ibu Nyai Halimah.
Ya, ibu Nyai Halimah dan Kiyai Mahfudz sudah datang sore hari tadi karena mereka mendapatkan kabar kalau cucunya yang satu lagi di kabarkan meninggal.
Indentitas Arthan sebagai anak dari Abi Umar dan Umi Fatimah pun sudah menyebar di seluruh penjuru negeri. Tapi mereka tahunya setelah Arthan hilang, jadi mereka tidak bisa bertanya pada Arthan secara langsung mengenai bagaimana perjalanan hidup Arthan selama ini.
Akhirnya ibu Nyai Halimah dan Kiyai Mahfudz pun pergi meninggalkan rumah Ghibran menuju rumah Abi Umar untuk menginap malam ini.
"Ya udah yuk kita masuk." ajak Ghibran kepada yang lain.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Ghibran lagi. Kali ini mereka memutuskan untuk duduk di ruang tengah untuk saling berbincang satu sama lain.
"Aretha masih gak nyangka kalau bang Arthan beneran pergi ninggalin kita." sedu Aretha mengingat Arthan yang sudah pergi.
"Ssttt... udah dong jangan sedih gitu, nanti bang Arthan jadi ikutan sedih di sana." ucap Ghibran menenangkan Aretha.
"Iya kak, kak Aretha gak boleh sedih. Kata Abi nanti kalau kita sedih malah kak Ruby sama kak Arthan gak tenang di sana." timpal Haikal dengan pemikiran dewasanya.
"Tuh dengerin kata Haikal." sambung Ghibran.
"Tapi tetap aja aku sedih." Aretha memasukkan kepalanya dalam dekapan Ghibran.
Dia tidak mau yang lain tahu kalau dia tengah bersedih.
"Ssttt udah jangan nangis ya, nanti dedek bayinya jadi ikutan sedih loh." Ghibran mengelus punggung Aretha.
"Katanya kalian mau beli barang barang buat baby twins." ucap Umi Fatimah mengalihkan perhatian Aretha agar tidak sedih lagi.
"Oh iya Aretha lupa, maafkan bunda ya sayang udah lupain kalian." Aretha duduk kembali dengan posisi normal tak lagi berada dalam pelukan Ghibran.
"Tuh kan, kamu sih kebanyakan sedih jadi baby twins nya di lupakan deh." balas Ghibran.
"Iya maafkan bunda ya nak, besok kita langsung ke mall. Nanti bunda belikan kalian baju yang bagus bagus dan lucu lucu." ucap Aretha menggajak anak anaknya yang berada dalam perut berbicara.
"Bunda nakal ya nak, nanti sama ayah aja kalau ke mall." ucap Ghibran mengajak anak-anaknya berbicara juga.
"Iisss ayah kok gitu sih, kan bunda gak sengaja." kesal Aretha.
Abi Umar dan Umi Fatimah yang melihat itu pun tersenyum bahagia. Mereka bahagia karena tidak salah memilihkan suami buat Aretha. Mereka sangat bersyukur mempunyai menantu seperti Ghibran yang sangat memanjakan istrinya.
Sedangkan Haikal yang melihat itu pun ikutan senang juga, dia selalu berdoa semoga orang orang baik ini selalu di berikan kebahagiaan dan dan Kiyai jauhkan dari hal hal yang buruk.
Mereka ngobrol di ruang tengah sampai larut malam, Ghibran memutuskan untuk mengajak Aretha ke dalam kamar karena sudah waktunya bumil untuk istirahat.
...***...