AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 22



"S**l" umpat Bani setelah membaca isi kertas itu.


Jangan sekali-kali lo sentuh Aretha seujung ujung kuku pun, atau lo akan tahu akibatnya.


"Siapa yang berani ngancam gw kayak gini, belum tahu aja gw siapa. Lo lihat aja apa yang akan gw lakuin buat dapatin apa yang gw mau, gak ada di dunia ini gak gak bisa gw miliki. Semuanya akan jadi milik gw apapun itu." geram Bani sambil mengertakkan giginya.


"Maaf tuan ini minumannya."


"Astaghfirullah ini kenapa tuan?" kaget pak supir setelah melihat kaca jendela mobil yang pecah.


"Kamu urus mobil ini, saya mau pulang naik taksi." Bukannya menjawab pertanyaan pak supir, Bani malah pamitan pergi.


"Baik tuan." patuh pak supir gak banyak tanya, karena itu akan sangat berbahaya bagi dirinya sendiri.


Bani mencari taksi dan secara kebetulan ada taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya di depan Bani, Bani pun segera masuk ke dalam taksi dan menyuruh sopir taksi untuk mengantarnya ke apartemen.


-


"Gimana?" tanya seseorang pada anak buahnya.


"Lancar bos, sepertinya dia sudah membaca ancaman kita." jawab anak buahnya.


"Kerja bagus, silahkan kembali ke tempat kalian nanti akan saya kirimkan bonus buat kalian."


"Terimakasih bos, kami pamit dulu." setelah mendapatkan anggukan dari bos nya, beberapa orang itu pun pergi dari sana meninggalkan seorang misterius itu sendiri.


"Itu belum apa apa, bahkan aku belum memulainya. Kalau lo masih aja mau deketin Retha, lihat saja nanti apa yang akan terjadi." gumam seseorang itu sambil tersenyum licik.


-


Sepulang dari toko, Aretha mengajak Ruby untuk pergi ke GA cafe. Aretha akan menagih janji Ruby yang ingin mentraktirnya makan selama satu Minggu ini.


"Kita makan di sini Ret?" tanya Ruby setelah keluar dari mobil Aretha.


"Enggak lah ya kali kita makan di parkiran." balas Aretha.


"Iihh, maksud gw tuh di dalam cafe ini." kesal Ruby.


"Iya, di sini makanannya enak enak plus halal."


"Udah yuk masuk, gw udah gak sabar." ajak Aretha.


Aretha lupa kalau di dalam sana ada Ghibran. Yang ada di pikiran Aretha hanya makan gratis dan enak. Meskipun orang berada dan tidak kekurangan uang saku. Tapi Aretha adalah salah satu kaum pecinta makanan gratisan, terkecuali dia tidak tahu siapa yang memberinya maka dia akan menolak seperti waktu itu.


Seperti biasa, saat memasuki cafe mereka di sambut dengan ramah. Sama seperti Aretha waktu itu, Ruby juga terkagum melihat pelayanan yang ada di cafe itu.


"Wah Ret sepertinya konsep ini bisa kita tetapkan di toko roti Lo." bisik Ruby pada Aretha.


"Ssttt jangan ngomongin itu di sini, tar kita omongin di mobil aja." balas Aretha ikutan berbisik juga.


Mereka memilih tempat duduk di bagian pojok dekat jendela yang menampilkan pemandangan taman yang di penuhi tanaman hijau. Sepertinya taman itu juga salah satu fasilitas dari cafe ini.


Aretha yang sudah beberapa kali ke sini baru menyadari jika ada taman di sana, kemana saja dia selama ini. Mungkin karena saking fokusnya pada makanan serta konsep yang ada di dalam cafe sampai sampai dia tidak melihat ke adaan di luar.


"Bukan cuma pinter aja, tapi jenius sih kalau menurut gw. Dia sangat pintar menempatkan sesuatu yang dapat menarik pengunjung untuk datang ke sini." balas Aretha.


"Gw jadi penasaran sama orangnya, lo tahu gak siapa yang punya cafe ini?" tanya Ruby.


"Jangankan Lo, gw juga penasaran banget siapa yang punya cafe ini. Gw juga pengen banget ketemu sama orangnya biar nanti gw bisa minta bantuan untuk majuin toko roti gw." balas Aretha.


Untung saja Ghibran tidak ada di sana,coba kalau ada, mungkin dia sudah terbang di atap saking senangnya.


"Permisi mbak, ini pesanannya. Selamat menikmati semoga suka dengan masakan kami." ucap ramah pelayan cafe pada Aretha dan Ruby.


"Iya mbak, makasih." balas Aretha dan Ruby tak kalah ramah.


Ruby pun segera mencicipi pesanannya.


"Gimana enak gak?" tanya Aretha.


"Eemmm.... ini mah enak banget. Fix besok kita harus ke sini lagi. Oh iya gw harus bungkusin adik gw sih, pasti dia bakal senang." puji Ruby.


"Ya udah sana lo pesenin, biar nanti kita gak nunggu lama lama." suruh Aretha.


"Ya udah bentar." Ruby pun segera memesankan makanan buat adiknya yang berada di rumah. setelah selesai dia kembali menyantap makanannya dengan lahap.


-


Sementara itu Ghibran baru saja keluar dari ruangannya yang berada di dalam cafe.


"Mau pulang bos?" tanya Adam yang berpapasan dengan Ghibran.


"Iya, saya titip cafe sama kamu ya."


"Siap bos." balas Adam.


Ghibran pun segera berlalu dari sana, tapi saat dia melewati beberapa meja, tak sengaja pandangannya bertemu dengan Aretha. Ghibran pun menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk menghampiri Aretha.


"Ghibran." gumam Aretha lirih saat pandangannya bertemu dengan Ghibran.


Aretha memutuskan kontak mata dengan Ghibran, dia semakin ketar ketir saat melihat Ghibran berjalan ke arah mejanya. Terlebih sekarang dia sedang bersama Ruby, apa yang akan dia jawab nanti kalau Ruby tanya siapa Ghibran.


"Aduh kenapa dia ke sini sih." lirih Aretha.


"Lo ngomong apa Ret?" tanya Ruby.


"Hah, enggak kok, salah denger kali Lo." kilah Aretha.


"Assalamualaikum."


Deg.


...***...