
Di suatu tempat, tepatnya di sebuah pinggiran sungai terlihat seorang lelaki yang tengah berusaha membangunkan wanitanya.
"Sayang bangun sayang, yang bangun." ucap lelaki itu berusaha membangunkan wanitanya yang ternyata adalah kekasihnya.
"Sayang, hei Ruby, bangun yang." ucap lelaki itu lagi yang tak lain adalah Arthan yang berusaha membangunkan Ruby.
"By bangun by, jangan buat aku semakin merasa bersalah seperti ini by."
"Kamu harus bangun by, jangan tinggalkan aku by." Arthan terus menekan dada Ruby berharap Ruby segera sadar.
"Gak ada cara lain lagi, maaf aku harus lakuin ini demi menyelamatkan kamu by." ucap Arthan.
Arthan pun mendekatkan wajahnya pada wajah Ruby hendak memberikan nafas buatan. Dengan ragu Arthan mendekat dan segera memberikan nafas buatan Ruby.
"Aku janji, setelah kita terlepas dari sini aku akan segera menikahi kamu." janji Arthan sebelum menyatukan bibir mereka guna memberikan nafas buatan.
"Uhuk uhuk...." Ruby terbatuk-batuk dan mengeluarkan banyak air yang tadi dia telan saat tengelam bersama Arthan.
"Sayang...." pangil Arthan menepuk pipi Ruby kanan dan kiri bergantian, tapi dengan tepukan tangan lembut tidak kasar.
"Ini di mana?" tanya Ruby setelah sepenuhnya sadar, tapi keadaannya masih lemah.
"Aku juga gak tahu kita ada di mana sekarang, yang pasti kita sudah selamat dari arus air yang begitu deras." balas Arthan membenarkan rambut Ruby yang berantakan.
"Hijab aku mana?" panik Ruby yang menyadari hijabnya sudah tidak berada pada kepalanya.
"sementara kamu pakai Hoodie aku aja dulu, ini ada kopiahnya biar bisa nutupin rambut kamu. Mungkin kerudung kamu terlepas saat kita tenggelam tadi." ucap Arthan.
Arthan pun membuka hoodie yang dia pakai di hadapan Ruby. Dengan cepat Ruby memejamkan matanya.
"Tenang aja, aku masih pakai kaos kok." ucap Arthan yang menyadari Ruby tengah memejamkan matanya.
"Ini kamu pakai dulu, maaf masih basah." Arthan memberikan hoodie nya pada Ruby.
Tanpa menunggu lama Ruby segera mengenakan hoodie Arthan dan memakai kupluk nya untuk menutupi rambutnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
"Terus sekarang kita harus bagaimana?" tanya Ruby setelah mengenakan hoodie Arthan.
"Kita cari jalan keluar dari sini, tidak mungkin kalau kita tetap menunggu bantuan di sini. Nanti yang ada malah musuh yang menemukan kita duluan." jawab Arthan.
"Yuk, kamu masih kuat jalan kan?" tanya Arthan dan di balas anggukan oleh Ruby.
Mereka berdua pun berjalan menyusuri sungai dengan Arthan yang setia memapah Ruby karena kondisi tubuhnya yang lemah sehabis bangun dari pingsan tadi.
-
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah Ghibran mereka semua sudah selesai melakukan sarapan bersama. Mereka semua sekarang masih berada di meja makan, dan setelah meja makan di bereskan dan sudah rapi, barulah Ghibran memulai pembicaraan.
"Haikal." pangil Ghibran.
"Iya kak," balas Haikal.
"Hari ini kamu gak usah masuk sekolah dulu ya." pinta Ghibran.
"Loh, kenapa kak? Nanti kalau Haikal gak masuk sekolah pasti kak Ruby bakalan marah."
"Kakak mau jelasin sesuatu sama kamu, tapi kamu janji jangan sedih ya." ucap Ghibran membuat alis Haikal terangkat.
"Maksud kak Ghibran bagaimana?" tanya Haikal tidak mengerti.
"Jadi gini, sebenarnya kakak kamu tidak lagi ke luar kota."
"Trus kalau gak keluar kota kak Ruby kemana? Kemaren kak Adam bilang kalau kak Ruby pergi keluar kota atas suruhan kak Aretha untuk memantau toko roti yang ada di sana. Trus kenapa sekarang kak Ghibran malah bilang seperti itu?" bingung Haikal.
"Itu kak Adam berbohong sama kamu, dan itu juga atas perintah kak Ghibran." jelas Ghibran.
"Kenapa harus berbohong? Bukannya bohong itu dosa?"
"Iya kakak mau minta maaf sama kamu karena sudah membohongi kamu. Dan kakak di sini mau jelasin yang sebenarnya tentang apa yang terjadi pada kak Ruby." Ghibran menjeda ucapannya sebelum menggungkapkan yang sebenarnya pada Haikal.
Dan Haikal diam menunggu kelanjutan dari apa yang akan di ucapkan Ghibran. Sedangkan semua orang hanya terdiam bungkam. Kecuali Umi Fatimah dan juga Aretha yang tengah berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah mengingat apa yang terjadi pada Arthan dan juga Ruby.
"Jadi sebenarnya kak Ruby kecelakaan dan sampai sekarang belum di temukan keberadaannya." Ungkap Ghibran membuat Haikal diam mencerna apa yang Ghibran ucapkan.
"Gak mungkin, orang kemaren kakak masih ngantar aku ke sekolah kok, kita berangkat bareng. Kak Ruby ke toko dan aku ke sekolah." elak Haikal tak percaya.
"Sabar nak, ini memang benar. Kemaren mobil yang di naiki kakak kamu dan juga kak Arthan mengalami kecelakaan dan jatuh ke sungai. Sampai sekarang polisi dan Tim SAR masih berusaha mencari keberadaan mereka." ucap Abi Umar sambil mengelus pundak Haikal yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Enggak, kalian pasti bohong. Kak Ruby gak mungkin kecelakaan. Kak Ruby sudah janji gak akan tinggalin Haikal sendiri di sini. Kalian pasti bohong." elak Haikal tak percaya dan air matanya tanpa di suruh sudah mengalir dengan derasnya.
"Enggak kalian bohong, kak Ruby gak mungkin tinggalin Haikal sendiri di sini." Haikal terus mengelak.
Ghibran yang melihat itu pun tak tega dan segera mendekat pada Haikal dan segera merengkuh tubuh Haikal dalam pelukannya.
"Haikal yang tenang ya, kita semua di sini juga sedih atas apa yang menimpa kak Ruby sama kak Arthan. Tapi kita di sini gak boleh menangis, nanti kalau kita menangis dan sedih siapa yang mau cari keberadaan kak Ruby." ucap Ghibran menenangkan Haikal.
"Kak Ruby mana kak, Haikal mau ketemu."
"Sabar sayang, Haikal jangan menangis ya. Sebaiknya Haikal berdoa sama Allah biar kak Ruby cepat di temukan dalam keadaan selamat."
Ghibran terus membisikkan kata kata yang dapat menenangkan Haikal hingga Haikal sekarang tak lagi menangis. Tapi sekarang dia malah semakin banyak berdzikir kepada Allah dan hal itu malah sangat bagus.
"Gak boleh nangis lagi, oke?" ucap Ghibran.
"Oke kak." balas Haikal sambil tersenyum.
"Nah gitu dong, itu baru laki laki. Kan laki laki gak boleh cengeng." sahut Abi Umar.
"Ya udah sekarang Haikal mau ikut kakak cari keberadaan kak Ruby atau mau tetap di sini menunggu kabar dari kakak?" tanya Ghibran pada Haikal.
"Haikal mau ikut kak, Haikal mau bantu cari kak Ruby biar cepat ketemu dan bisa hidup sama Haikal lagi." jawab Haikal.
"Oke, kalau gitu sekarang kamu siap siap ya, kakak juga mau siap siap." suruh Ghibran.
"Oke kak, Haikal ke kamar dulu." pamit Haikal dan di angguki oleh Ghibran dan yang lainnya.
Haikal pun segera pergi ke kamarnya untuk bersiap, sedangkan di meja makan para orang tua tengah terdiam semua dengan pikiran yang ada di otak mereka masing-masing.
"Kamu yakin mau ajak Haikal?" tanya Abi Umar.
"Iya Bi, biar dia tidak bersedih di rumah." jawab Ghibran.
"Ya udah terserah kamu saja."
"Sayang kita ke kamar yuk." ajak Ghibran pada Aretha.
Aretha berdiri dari tempat duduknya pertanda kalau dia menerima ajakan Ghibran.
"Ghibran sama Aretha ke atas dulu, assalamualaikum." pamit Ghibran dan segera membawa Aretha ke lantai atas tepat kamar mereka berada.
"Waalaikum salam." balas mereka semua.
Setelah kepergian Ghibran, mereka semua pun memutuskan untuk pergi juga dari meja makan.
Dan Adam yang bertugas sebagai tangan kanan Ghibran du cafe, Adam pun segera pamit pergi ke cafe.
-
"Mas aku ikut juga ya." pinta Aretha.
"Jangan ya sayang, kamu di ruang saja. Kan kamu lagi hamil nanti kasian dedek bayinya capek kalau du ajak jalan jalan terus." larang Ghibran.
"Tapi aku pengen ikut mas." rengek Aretha.
"Lain kali kalau masalah ini sudah selesai mas ajak kamu jalan jalan, jadi sekarang kamu di rumah saja buat istirahat. Biar nanti kalau jalan jalan gak capek."
"Tapi mas...."
"Ssttt... nurut ya, kali ini aja mas minta kamu nurut sama mas ya. Ini semua demi kebaikan kamu."
Aretha diam tak menyahuti ucapan terakhir Ghibran.
"Hufft...." terdengar helaan nafas kasar Ghibran.
"Sayang dengerin mas ya, mas larang kamu karena mas sayang sama kamu. Mas takut sama sama dedek bayinya kenapa kenapa." ucap Ghibran memberikan pengertian.
"Ya udah aku gak ikut, tapi nanti kalau pulang beliin aku es krim ya."
"Iya nanti mas beliin yang banyak." balas Ghibran.
"Makasih mas ku sayang." Aretha memeluk tubuh Ghibran dengan erat.
"Sama sama istriku." balas Ghibran mengecup kening Aretha.
...***...