AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 94



"Assalamualaikum bang." Salam Ghibran pada Arthan yang main nyelonong masuk ke dalam ruangan kerja Ghibran di cafe.


"Waalaikum salam." balas Arthan dan duduk di sofa yang ada di sana.


"Bang Ghibran mau makan siang sama apa?" tanya Ghibran.


Ghibran menghampiri Arthan yang sudah duduk tenang di sofa yang empuk itu.


"Terserah lo aja, asal bukan bangkai." balas Arthan cuek.


"Ya udah aku kasih ikan hidup aja." balas Ghibran.


Arthan menatap Ghibran dengan lirikan mautnya yang biasanya dapat membuat anak buahnya takut. Tapi tidak dengan Ghibran, dia malah menggoda Arthan dengan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum licik.


Tok tok tok....


"Itu sepertinya Abi sudah datang." ucap Ghibran berdiri untuk membukakan pintu untuk Abi, meninggalkan Arthan yang tengah menatapnya sinis.


"Assalamualaikum." salam Abi Umar.


"Waalaikum salam." balas mereka berdua.


"Mari masuk bi." ucap Ghibran mempersilahkan Abi Umar untuk masuk ke dalam ruangannya.


Abi Umar pun masuk mengikuti langkah Ghibran dan duduk di tengah tengah antara Ghibran dan Arthan.


"Ada apa Abi ngajak kita ketemu?" tanya Arthan to the poin.


"Huhhfff...." Abi Umar membuang nafasnya kasar.


"Perusahaan Abi lagi kacau, ada orang yang sudah merentas sistem keamanan perusahaan. Dan Abi tadi sudah berusaha untuk menanganinya, tapi selalu gagal. Abi pura pura baik baik saja di depan karyawan Abi, agar mereka tetap percaya dan tidak panik." jelas Abi Umar.


"Kenapa Abi gak bilang ke Arthan dari kemaren kemaren waktu Abi mulai curiga kalau ada yang mau mencoba masuk ke sistem keamanan perusahaan. Kenapa Abi baru bilang sekarang setelah semuanya menjadi parah?" tanya Arthan dengan serius.


"Abi kira Abi bisa menanganinya sendiri, karena kejadian seperti ini juga bukan sekali dua kali. Dan sebelum sebelumnya Abi selalu bisa menanganinya dengan baik." jawab Abi Umar.


"Abi gak perlu khawatir, serahin semuanya pada Arthan. Dan untuk masalah perusahaan bangkrut biar nanti perusahaan Arthan yang menyuntikkan dana ke perusahaan Abi." ucap Arthan meyakinkan Abi Umar.


"Kamu yakin kamu bisa, dia itu sepertinya bukan lawan yang mudah."


"Abi percayakan saja semuanya pada Arthan, nanti Abi tinggal tunggu beresnya saja."


"Lo gak mau bantu?" tanya Arthan pada Ghibran yang sedari tadi hanya diam sebagai pendengar saja.


"Maaf bi, bang. Untuk kali ini Ghibran belum bisa bantu, karena Ghibran gak bisa lama lama pergi jauh dari Aretha. Nanti yang ada malah semuanya makin kacau, karena nanti pasti saat Ghibran sibuk bantu perusahaan Abi dia pasti merengek agar Ghibran cepat pulang ke rumah. Mau di kerjakan dari rumah pun percuma, karena nanti pasti dia akan selalu mengerecoki Ghibran kerja." jawab Ghibran.


"Ya udah lah, lo urusin adek gw aja. Gw juga gak mau kalau sampai nanti dia marah sama gw, terus minta anah aneh sama gw." balas Arthan mengijinkan Ghibran.


"Abi juga gak nuntut kamu buat bantuin Abi kok, tapi kalau kamu mau bantu Abi sangat sangat berterima kasih. Tapi nanti Abi juga yang repot kalau sampai anak perempuan Abi merengek." timpal Abi Umar.


Drrtt drrtt drrtt.


dering ponsel Ghibran yang berada dalam saku celananya. Ghibran segera melihat siapa yang menelfonnya. Dan benar saja, belum lama Ghibran omongin ehh sekarang udah telfon.


"Siapa?" tanya Abi Umar.


"Tuan putri." jawab Ghibran dan langsung menggangkat Panggilan telfon dari istri tercintanya, siapa lagi kalau bukan Aretha.


'Assalamualaikum sayang.'


...***...