AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 28



Ghibran dan ibu Yuni sudah sampai di kediaman Aretha. Dia segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk ibu Yuni. Terlihat di teras sana sudah ada Abi Umar serta Umi Fatimah yang sepertinya menunggu kedatangan mereka berdua.


"Assalamualaikum Abi, Umi." salam Ghibran.


"Assalamualaikum." salam ibu Yuni.


"Waalaikum salam." balas Abi Umar serta Umi Fatimah.


"Mari silahkan masuk." ajak Umi Fatimah mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


Tak lupa orang orang yang Ghibran juga ikut serta masuk sambil membawa beberapa barang seserahan. Orang orang Ghibran pun memberikan barang barang itu kepada pelayan yang ada di rumah Aretha, setelah itu mereka pamit undur diri.


"Mari silahkan di minum." ucap Umi Fatimah mempersilahkan tamunya minum serta mencoba hidangan yang sudah di siapkan di sana.


"Iya nyonya terimakasih, maaf sudah merepotkan." balas ibu Yuni dan meminum minumannya.


"Enggak kok, gak ngerepotin sama sekali."


"Oh iya sebelumnya perkenalkan ini ibu Ghibran Bi, mi. Namanya ibu Yuni." ucap Ghibran memperkenalkan ibu Yuni pada Abi Umar serta Umi Fatimah.


"Yuni." sambung ibu Yuni sambil tersenyum.


"Umar dan ini istri saya Fatimah." balas Abi Umar.


"Eemmm..." ibu Yuni bergumam, "Jadi kedatangan saya ke sini atas permintaan Ghibran. Mungkin tuan dan nyonya sudah tahu keadaan Ghibran yang hanya tinggal seorang diri. Jadi saya sebagai ibu asuh Ghibran di panti berniat untuk melamar kan Aretha untuk anak saya Ghibran sebagai istrinya." ucap ibu Yuni.


"Iya Ghibran sudah berbicara sama saya tempo hari lalu, dan saya sebagai orang tua sekaligus wali buat Aretha menyerahkan semua jawaban pada putri saya Aretha." balas Abi Umar.


"Mi, coba kamu pangil Aretha ke sini." perintah Abi Umar pada Umi Fatimah lantaran si yang bersangkutan yang tak lain adalah Aretha belum juga menampakkan batang punggungnya.


"Iya Bi, mari saya permisi dulu." pamit Umi Fatimah sopan dan di balas anggukan serta senyuman oleh ibu Yuni.


"Ayo mari silahkan di makan. Ayo nak Ghibran di makan, kok kamu jadi pendiam seperti ini sih." gurau Abi Umar yang melihat Ghibran hanya diam saja dan ada keringat yang menghiasi pelipisnya, Abi Umar tahu pasti Ghibran tengah gugup sekarang.


"Abi mah gitu, kayak Abi gak pernah muda aja." balas Ghibran setegah malu.


"Santai saja deh kamu ini, orang biasanya juga kamu main ke sini."


"Tapi ini kan beda Bi."


"Iya dah terserah kamu, asal kamu gak pingsan aja di sini."


"Abi...."


"Iya iya Abi minta maaf." ngalah Abi Umar, dari pada nanti Ghibran nangis, kan susah nyari balon bentuk kotak.


Ibu Yuni yang melihat kedekatan Ghibran dan keluarga ini merasa bersyukur, lantaran anak yang dia didik sedari kecil sekarang sudah bisa menemukan seseorang yang dapat menghibur serta menyayanginya.


"Ibu kenapa diam? Ghibran salah ya?" tanya Ghibran yang melihat ibu Yuni hanya diam saja.


"Ehh enggak kok, ibu cuma senang aja karena kamu sudah menemukan seseorang yang dapat menyayangi kamu. Maafkan ibu yang akhir akhir ini jarang sekali ada waktu buat kamu."


"Ibu ngapain minta maaf sih, Ghibran ngerti kok ibu kan sekarang sibuk ngurusin adik adik Ghibran di panti. Seharusnya itu Ghibran yang minta maaf karena bukannya membantu ibu di panti Ghibran malah tinggal jauh dari ibu."


"Enggak kamu gak usah minta maaf, ibu bangga sama kamu karena kamu sudah berhasil menjadi orang sukses sesuai dengan apa yang kamu cita citakan dahulu."


Tak tahan lagi, Ghibran segera memeluk ibu Yuni sambil menangis dalam diam. Abi Umar yang melihat itu pun terharu, dia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Ghibran dahulu.


-


Sementara itu di kamar Aretha, dia sudah tampil sangat cantik dengan gamis Malaysia berwarna hitam dan di hiasi hijab pashmina yang dia model sedemikian rupa hingga membuat penampilannya sangat anggun dan cantik.


Ya, Aretha sedari tadi hanya sibuk memandangi dirinya dalam cermin. Padahal dia sudah selesai dandan sejak lima belas menit yang lalu, tapi dia tidak segera keluar dari kamar. Dia sibuk menilai penampilannya sendiri sudah cantik atau belum.


"Aaaahh gw kenapa sih, seharusnya kan gw tampil jelek aja biar si Ghibran ilfil dan gak jadi ngelamarnya gw, bukannya malah tampil cantik gini." Heran Aretha pada dirinya sendiri.


Tok tok tok.


"Retha Umi masukkan ya." ucap Umi Fatimah dari luar pintu kamar Aretha.


"Iya Umi." balas Aretha.


Ceklek.


"Ayo kita turun, tamunya sudah nunggu kamu dari tadi." ajak Umi Fatimah.


" Umi Fatimah takut." ucap Aretha memegang tangan Umi Fatimah.


"Takut kenapa hmm?" tanya Umi Fatimah sambil mengelus kepala Aretha.


"Aretha belum siap Mi kalau harus menikah sekarang."


"Kamu gak perlu takut, jalani aja apa yang ada. Percaya sama Abi, mungkin ini memang yang terbaik buat kamu. Banyak berdoa sama Allah, minta petunjuk kepadaNya." nasihat Umi Fatimah.


"Keluar yuk yang lain udah nungguin kamu. Kamu tenang dan coba ikhlas, Umi yakin kamu pasti bisa." ajak Umi Fatimah.


Aretha menarik nafas dan mengeluarkannya dengan pelan untuk netralkan rasa gugupnya.


"Bismillahirrahmanirrahim." ucap Aretha dan berjalan keluar dari kamarnya dengan tangan yang setia mengandeng tangan Umi Fatimah.


-


"Subhanallah cantiknya ciptaan Mu ya Rabb." puji Ghibran dalam hati yang melihat kedatangan Aretha dengan balutan gamis hitamnya.


"Sini sayang kamu kenalan dulu sama ibunya nak Ghibran." suruh Abi Umar saat Aretha sudah berada di sana.


"Assalamualaikum Tante, saya Aretha." sapa Aretha dengan di awali salam.


"Waalaikum salam nak Aretha, kamu jangan panggil ibu Tante ya, pangil ibu saja biar sama seperti Ghibran." balas ibu Yuni.


"Iya i-bu." agak gagap.


"Emmm kita langsung saja, tadi ibu Yuni sudah menjelaskan semuanya sama Abi, dan Abi menyerahkan semua jawabannya sama kamu." ucap Abi Umar pada Aretha di saksikan oleh mereka semua.


"Jawaban apa Bi?" tanya Aretha pura pura tidak mengerti.


"Jadi gini nak Aretha...."


"Biar aku saja Bu." potong Ghibran.


"Mungkin kamu sudah tahu apa maksud kedatangan aku ke sini, tapi aku akan berbicara mulai dari awal lagi." ucap Ghibran serius pada Aretha.


"Aretha Hazna Shabira, kedatangan aku kemari berniat untuk melamar kamu. Jadi tanpa berbasa basi, mau kah kamu menerima lamaran aku?" lanjut Ghibran to the poin.


Aretha diam, dia tak menyangka bahwa Ghibran akan seberani ini ngomong langsung di hadapan keluarganya serta keluarga Ghibran. Dia kira Ghibran adalah salah satu laki laki yang berdiri di belakang ketiak orang tuanya, tapi nyatanya....


"Gimana nak, kamu mau kan?" sambung ibu Yuni menunggu jawaban Aretha.


"Eemmm...."


...***...