
Ghibran semakin mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan Aretha.
"Gak mau tahu, pokoknya aku marah sama kamu." ucap Ghibran lagi.
"Ya udah kalau kamu marah aku tidur di kamar bawah aja." ancam Aretha sambil menahan tawanya agar tidak pecah.
Mendengar itu seketika Ghibran mengubah posisinya menjadi terduduk menghadap Aretha yang masih tiduran.
"Kok gitu?"
"Ya kamunya marah, jadi ya mending aku tidur di kamar lain aja."
"Kan aku maunya di bujuk."
"Dih, masak ada cewek bujuk cowok, bukankah seharusnya cowok yang bujuk cewek?"
"Itu gak berlaku buat aku, pokoknya aku mau kamu bujuk aku titik." membalikkan badannya membelakangi Aretha.
"Dih kok maksa."
Terlintas ide jail dalam otak Aretha, dia berencana untuk menjahili Ghibran.
"Aku keluar dulu ya, selamat malam." pamit Aretha beranjak pergi.
"Ya udah sana pergi aja, tinggalin aku sendiri." balas Ghibran judes.
Aretha keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali. Sedangkan Ghibran membaringkan tubuhnya ke dalam selimut seperti tadi.
"Hihihi." tawa tertahan Aretha di luar kamar.
"Seru juga ternyata jahilin orang. Sekali kali ya kan, biasanya juga dia yang selalu jahilin aku." monolog Aretha.
Aretha menuruni anak tangga menuju dapur untuk mengambil air minum karena dia merasa tenggorokannya kering. Sampai di dapur Aretha segera minum dan membawakan satu gelas air putih juga untuk Ghibran. Aretha tahu pasti dalam keadaan marah tenggorokan Ghibran pasti kering seperti di Padang pasir.
Ceklek.
Pintu kamar di buka secara pelan-pelan oleh Aretha agar orang yang di dalam tidak menyadarinya.
"Hiks hiks hiks...."
Terdengar isak tangis seseorang yang membuat bulu kuduk Aretha merinding. Siapa yang menangis di malam hari seperti ini. pikir Aretha.
"Tunggu,"
Aretha segera berjalan dengan cepat menuju ranjang dan meletakkan air minum yang dia bawa tadi di meja samping tempat tidur.
"Hiks hiks hiks...."
Suara tangisan semakin terdengar jelas di telinganya Aretha. Aretha melihat sekeliling kamar yang hanya di terangi lampu tidur, tapi tak menemukan siapa siapa. Hingga pandangannya jatuh pada selimut yang menggunung tengah bergerak gerak seperti di dalamnya ada sesuatu. Aretha segera menyibakkan selimut itu untuk melihat ada apa di dalamnya.
"Ya Allah Ghibran." kaget Aretha yang melihat kondisi Ghibran tengah menangis sesenggukan di sana.
"Hiks hiks hiks, jahat kamu jahat hiks hiks...." ucap Ghibran sambil menangis.
"Kamu kenapa kok nangis gini?" tanya Aretha.
"Kamu jahat hiks hiks...."
"Maaf ya, udah jangan nangis gitu dong, nanti dadanya sesak." Aretha menenangkan Ghibran.
"Tapi kamunya jahat."
"Hiks hiks hiks...."
"Udah ya, jangan nangis aku minta maaf kalau udah sakitin kamu. Udah ya nangisnya nanti aku jadi ikutan nangis."
Ghibran segera bangun dan menatap Aretha.
"Jangan hiks, kamu jangan nangis. Aku gak suka lihat kamu nangis." ucap Ghibran memohon pada Aretha.
"Makanya kamu berhenti ya nangisnya, biar aku gak nangis." balas Aretha dan mendapatkan anggukan dari Ghibran.
Ghibran dengan kasar menghapus air matanya agar tidak terlihat habis menangis, walaupun masih sesenggukan.
"Tapi kamu tidur di sini ya!"
"Iya aku tidur di sini, tadi aku cuma jahilin kamu doang, ehh taunya malah nangis beneran." jujur Aretha
"Tuh kan kamu jahat, pokoknya aku marah sama kamu." menyilangkan tangannya di dada.
"Dih marah kok bilang bilang, aku keluar lagu nih."
"Jangan jangan, aku kan mau di peluk sama kamu masak di tinggal keluar lagi sih."
"Ya makanya jangan marah, nanti gantengnya ilang loh."
"Emang aku ganteng?"
Tuh kan, sepertinya Aretha salah dalam berbicara. Jadi bingung kan mau balasnya gimana.
"Udah yuk kita tidur udah malam, besok kan kita harus ke Malang." ajak Aretha mengalihkan pembicaraan.
"Yuk, peluk aku ya!"
"Iyah."
Dengan senang hati Ghibran membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang dan di susul Aretha di sebelahnya.
"Kamu mau minum gak, tadi aku bawain juga buat kamu?" tawar Aretha pada Ghibran dan di angguki oleh Ghibran.
Aretha pun mengambil segelas air putih yang tadi dia bawa dan memberikannya pada Ghibran.
"Bangun dulu dong, masak mau minum sambil tiduran." suruh Aretha.
Ghibran pun segera bangun, bagai anak kecil yang di perintah oleh ibunya dan di ancam akan di berikan permen.
Glek glek glek.
Tiga kali cegukan seperti sunah nabi Ghibran meminum air putih itu.
"Dah. Makasih sayang." ucap Ghibran.
"Sama sama." balas Aretha dan membaringkan tubuhnya di susul Ghibran yang langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Kamu kan janji semalam siapa yang menang boleh meminta apapun itu dan yang kalah harus menurutinya. Boleh gak aku meminta janji itu?" tanya Ghibran dalam pelukan Aretha.
"Ka-kamu mau mi-minta apa?" gagap Aretha takut kalau Ghibran meminta hak nya.
"Boleh apa enggak?" tanya Ghibran tak menjawab pertanyaan Aretha.
"I-iya boleh." jawab Aretha meskipun ada keraguan dalam hatinya.
"Aku gak minta anah aneh kok, aku cuma minta sama kamu boleh gak kalau kamu jangan lagi pakai celana seperti sebelum sebelumnya. Kamu pakai gamis aja agar lekuk tubuh kamu tidak di lihat oleh orang lain selain aku. Ya walaupun celana kamu tidak ketat tapi itu bagiku sama saja." Pinta Ghibran dengan serius mendongakkan kepalanya menatap Aretha.
Aretha diam tak menjawab permintaan Ghibran. Dia bingung harus menjawab apa, iya atau tidak. Padahal dia sudah tahu yang di minta Ghibran itu adalah yang terbaik buat dia sendiri.
"Aku mohon untuk yang satu ini aku agak memaksa sama kamu, karena ini demi kebaikan kamu dan aku juga nanti. Kamu tahu kan kalau sekarang kamu bukan lagi tanggung jawab Abi, sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab aku. Jadi apapun yang kamu lakukan itu semua akan aku pertanggung jawabkan nanti di akhirat." mohon Ghibran.
"Iya aku mau." putus Aretha setelah menimang apa yang harus dia lakukan.
"Alhamdulillah makasih sayang."
Cup.
Ghibran langsung memberikan kecupan di bibir Aretha setelah bersyukur dengan keputusan Aretha.
"Tapi kalau untuk bercadar aku belum bisa." ucap Aretha sambil menundukkan kepalanya.
"Aku gak maksa kamu buat bercadar, kamu mau Makai gamis saja aku sudah senang. Tapi suatu saat nanti kalau kamu ada keinginan buat memakai cadar aku adalah orang pertama yang akan setuju dengan keputusan kamu." balas Ghibran lembut.
"Makasih kamu sudah menjadi suami yang baik dan pengertian buat aku, maaf aku belum bisa membalas perasaan kamu."
"Hei, kan aku sudah bilang. Aku yang akan membuat kami jatuh cinta sama aku. Kalau seandainya sampai nanti kamu belum juga jatuh cinta sama aku, itu berarti aku yang salah bukan kamu."
...***...