AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 32



Setelah Ghibran mencium kening Aretha, sekarang gantian Aretha yang akan memasangkan cincin di jari Ghibran.


Dengan perasaan gugup Aretha pun memasangkan cincin di jari Ghibran tanpa menatap Ghibran sedikit pun. Sedangkan Ghibran pandangan nya selalu fokus kepada Aretha yang tingginya hanya sepundaknya.


"Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri, dan semoga kalian segera di berikan momongan oleh Allah." ucap Kiyai Mahfudz.


"AAMIIN." balas semua orang kecuali Aretha, dia hanya diam saja.


"Kalau begitu mari kita ke bawah untuk mendatangi beberapa berkas pernikahan kalian." ajak Abi Umar.


Tanpa banyak bertanya mereka semua segera turun ke lantai dasar ke tempat di mana tadi di langsungkan nya akad nikah.


Ghibran berjalan sejajar dengan Aretha dan orang orang tadi setiap mengikuti di belakang Aretha dan Ghibran.


"Silahkan kalian tanda tangan di sini." ucap pak penghulu memimpin Aretha dan Ghibran untuk bertanda tangan di surat nikah mereka berdua yang berwarna merah dan hijau.


Setelah semuanya beres, mereka melaksanakan foto keluarga. Karena kedua orang tua Aretha tidak terlalu mengundang banyak orang hanya kerabat dekat saja maka tidak terlalu banyak orang yang berada di sana.


"Selamat ya sahabat gw tersayang, akhirnya lo gak jomblo lagi sekarang. Dan gw nitip ya, buatin keponakan yang lucu-lucu." ucap Ruby memberikan selamat kepada Aretha sambil memeluk tubuh Aretha.


Plak.


"Aduh sakit tauk." adu Ruby karena tangannya di tampar oleh Aretha.


"Makanya kalau ngomong tuh jangan ngasal."


"Loh gw ngomong sesuai fakta kok, ya gak kak Ghibran?" balas Ruby dan bertanya pada Ghibran di balas senyuman saja oleh Ghibran.


"Dih ngapain sih pakai senyum senyum gitu, di kira bagus kali." Batin Aretha menggerutuki Ghibran yang tersenyum pada Aretha.


"Tuh kan kak Ghibran aja setuju sama gw." senang Ruby karena merasa Ghibran mendukungnya.


"Udah deh, lo sana pergi gw mau temui Umi sama Abi dulu." usir Aretha pada Ruby.


"Dih, iya iya. Kak Ghibran selamat ya, jangan lupa nanti malam buatin keponakan yang lucu-lucu." ucap Ruby sebelum pergi dari sana.


"Iya makasih ya, tapi bisa gak kalau kamu gak usah pangil saya kakak, pangil Ghibran aja saya tidak terlalu tua." balas Ghibran.


"Hehehe iya kak, ehh maksudnya Ghibran. Kalau gitu aku ke sana dulu ya." pamit Ruby dan di angguki Ghibran.


Aretha yang melihat itu pun ingin rasanya mencongkel mata sahabatnya itu, tapi sayang itu dosa. Coba kalau tidak mungkin sudah Aretha lakukan dari dulu.


"Gak usah senyum senyum gitu, di kira ganteng apa." sinis Aretha berbicara pada Ghibran.


Mendengar itu pun seketika Ghibran melihat ke arah Aretha yang sedari tadi ada di sampingnya, "Kenapa, kamu cemburu?" goda Ghibran.


"Dih pede banget, siapa juga yang cemburu." malu Aretha dengan pipi yang sudah memerah, untung saja tadi di pipinya di pakaikan blus on coba kalau tidak makin kelihatan pipinya yang memerah seperti tomat itu.


"Masak sih, kok pipinya merah gitu?" goda Ghibran lagi yang melihat pipi Aretha memerah, mungkin menggoda Aretha akan menjadi kegiatan yang wajib Ghibran lakukan mulai detik ini. Karena itu sangat menyenangkan.


"Dih mana ada, orang ini blus on kok." salting Aretha.


"Oooh blus on...." mengangguk anggukan kepalanya, tapi dalam hati Ghibran pun ingin tertawa melihat sikap Aretha yang sangat salting itu.


Ghibran pun tak tinggal diam, dia segera pergi menyusul istrinya yang sudah berjalan terlebih dulu meninggalkannya.


"Sayang tungguin dong." pangil Ghibran.


Blus.


Aretha semakin salah tingkah mendengar panggilan sayang Ghibran kepadanya. Untuk menutupi itu Aretha pura pura tidak mendengarnya.


"Sayang tungguin dong." pangil Ghibran lagi semakin kencang. Ghibran tahu kalau istrinya itu tengah pura pura tidak mendengar panggilannya maka dari itu dia akan membuat Aretha mendengarkannya.


"Retha kamu di pangil suamimu itu loh." ucap Ibu Nyai Halimah nenek Aretha sekaligus istri dari Kiyai Mahfudz.


"Inggih nek Retha denger." balas Aretha sopan.


"Assalamualaikum Ibu Nyai." salam Ghibran pada ibu Nyai Halimah setelah sampai di samping Aretha.


"Waalaikum salam nak, pangil nenek aja biar sama seperti Aretha." balas ibu Nyai Halimah.


"Inggih nek." patuh Ghibran sambil membungkukkan badannya sedikit.


"Udah sana kamu ajak suami mu temuin Umi sama Abi kamu di sana." suruh ibu nyai Halimah pada Aretha.


"Inggih nek." Aretha pun segera menyeret tangan Ghibran menuju Umi Fatimah dan Abi Umar yang tengah duduk di sebuah sofa.


"Umi...."


Bruk.


Pangil Aretha dan memeluk Umi Fatimah dengan sangat erat dan menangis.


"Ssttt... Udah dong jangan nangis, nanti make up kamu luntur loh." usap Umi Fatimah pada punggung Aretha untuk menenangkan Aretha.


"Maafin Retha Mi hiks, maaf kalau Aretha belum jadi anak yang berbakti pada Umi dan Abi hiks hiks hiks." ucap Aretha sambil sesenggukan.


"Iya, Umi juga minta maaf kalau Umi selama ini sering marahin kamu. Kamu sekarang sudah menjadi istri jadi kamu harus nurut dan berbakti pada suami kamu, karena sesungguhnya surga istri ada pada suaminya." tutur Umi Fatimah pada anaknya.


"Kamu jangan membantah pada suami kamu, dengarkan apa kata dia kalau itu baik buat kamu. Umi gak mau anak Umi ini membantah pada suaminya." lanjut Umi Fatimah.


"Iya Umi Aretha akan menjadi istri yang baik buat Ghibran, Aretha nanti juga akan belajar memasak agar bisa memasakkan suami Aretha." balas Aretha yang luluh dengan perkataan Umi Fatimah.


Entah kemana Aretha yang sangat tidak menerima pernikahan ini, entah kemana Aretha yang sangat membenci Ghibran. Nyatanya sekarang Aretha sudah seperti wanita yang menikah dengan laki-laki yang sangat dia cintai, mungkin kah Aretha sudah menyukai Ghibran? Eeemmm entahlah nanti keputusan author.


Sedangkan Ghibran sekarang tengah duduk di lantai dan tangan yang mencium tangan Abi Umar.


"Abi, Ghibran minta doanya sama Abi agar Ghibran bisa membawa Aretha menuju surgaNya bersama Ghibran kelak." ujar Ghibran.


"Abi selalu mendoakan yang terbaik buat kalian berdua. Abi Titip anak Abi ya, jagain dia jangan sakiti dia. Nanti kalau kamu sudah bosan kamu bisa mengembalikannya pada Abi seperti kamu memintanya pada Abi." pesan Abi Umar.


"Aretha memang kelihatannya anak yang kuat dan tidak bisa di atur, tapi dalamnya dia adalah anaknya penurut dan tidak pernah membantah apa yang Abi katakan. Dan dia juga sama seperti wanita kebanyakan, hatinya sangat rapuh bila ada seseorang yang menyakitinya." lanjut Abi Umar.


...***...