AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 113



"Ehh, ini bukannya HP ya?" ucap salah satu dari mereka yang membuat semua ibu ibu menatap kearahnya.


Ibu itu menggambil ponsel yang tepat berada di bawah dia berhenti, yang tak lain adalah punya Arthan yang jatuh tadi.


"Wah iya." balas yang lainnya kompak.


" Punya siapa ini?" tanya mereka bingung.


"Jangan jangan ini punya pemuda tadi lagi." lanjut yang lainnya.


"Bener pasti ini punya pemuda yang tadi. Kasian banget ya HPnya jatuh, mana ini harganya pasti mahal banget." timpal yang lainnya.


"Terus gimana ini?"


"Ya udah kita kasih aja ke Ruby, kayaknya pemuda tadi itu orang yang sering antar Ruby pulang deh." usul salah satu dari mereka yang sering melihat Arthan.


"Kamu tahu?" tanya ibu Susi.


"Iya aku tahu, aku sering lihat dia bawa mobil mewah antar Ruby pulang kerja." jawabnya yang membuat semua orang melorotkan kepalanya.


"Terus kalau kamu tahu, kenapa kamu tadi gak bilang kalau dia bukan orang jahat?"


"Ya aku kan hanya ikut ikut kalian." jawabnya santai.


"Aduh gimana ini nanti kalau pemuda itu sampai lapor polisi, mana tadi aku sempat lempar dia pakai sepatu lagi." takut dari ibu yang tadi melempar Arthan dengan sepatu.


"Udah gak usah takut, nanti kapan kapan kita minta maaf sama pemuda itu. Sekarang kita harus kembali dan nanti kalau ketemu Ruby kita balikin HP dia." usul ibu Mina.


"Iya betul itu, ayo kita kembali."


Mereka pun membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Sebelum nanti mereka akan ke rumah Ruby untuk mengembalikan ponsel Arthan.


-


"Ada apa sih kok kayak berisik banget." ucap Ruby yang merasa tidurnya keganggu.


Ruby pun beranjak keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi di luar rumahnya. Saat dia melihat keluar, ternyata keadaan sangat sepi bahkan tak ada satu orangpun yang lewat di depan rumahnya. Alhasil Ruby pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Tas gw kok ada di sini ya?" gumam Ruby sambil mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu.


Setelah itu Ruby memutuskan untuk kembali ke kamar untuk meletakkan tasnya dan mandi segar tubuhnya merasa segar.


-


Arthan yang berhasil kabur dari kejaran ibu ibu berdaster pun memutuskan untuk kembali ke rumah Ghibran. Dia akan mengadukan apa yang telah dia alami kepada orang orang yang ada di sana berharap dapat belas kasihan dari mereka. Maklum Arthan kan sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, jadi sekarang dia mau mencaper dulu.


Sampai di rumah Ghibran, Arthan langsung nyelonong masuk, tapi tak lupa dia juga mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, orang ganteng datang." Teriak Arthan saat memasuki rumah Ghibran.


"Waalaikum salam." balas Kiyai Mahfudz yang kebetulan berada di ruang tamu sendirian.


"Mereka semua kemana kek, kok sepi?" tanya Arthan memanggil Kiyai Mahfudz dengan sebutan kakek karena dia tak melihat ada orang di sana, jadi aman aman saja.


Arthan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu tepat di samping Kiyai Mahfudz berada.


"Mereka semua lagi istirahat di kamar masing-masing." jawab Kiyai Mahfudz.


"Oooh, terus kakek kenapa kok gak ikut istirahat?"


"Kakek gak ngantuk, tadi habis sholat ashar langsung duduk di sini sambil nunggu nenek kamu selesai wudhu, kakek sama nenek mau murojaah Al Qur'an apakah kamu mau ikut?" tawar kiyai Mahfudz.


"Hehehe gak dulu deh kek, Arthan belum banyak hafal surat surat dalam Al Qur'an." tolak Arthan secara halus.


"Kenapa kamu gak ikutan ngaji aja di pesantren kakek, biar kakek bisa pantau kamu?"


"Soal itu nanti dulu kek, biar Arthan pikir pikir dulu."


"Ya udah kek, kalau gitu Arthan mau ke kamar dulu." pamit Arthan dan pergi dari sana setelah mendapatkan anggukan dari Kiyai Mahfudz.


Tak lama setelah kepergian Arthan, ibu nyai Halimah datang dan mereka berdua pun segera melakukan murojaah agar tidak hilang hafalan yang sudah mereka punya.


-


Setelah makan malam, para laki-laki tengah berkumpul di ruangan kerja Ghibran untuk saling berbicara mengenai bisnis yang sedang mereka jalani. Terutama masalah Arthan yang sekarang tengah berusaha memecahkan masalah yang ada di kehidupan keluarganya.


"Gimana tadi, udah ketemu Ruby nya?" tanya Ghibran penasaran.


"Boro boro ketemu Ruby, yang ada malah gw hampir benyok di serbu ibu ibu berdaster." sewot Arthan.


"Lah, kok bisa?"


"Ya bisalah, gw gedor gedor pintu kontrakan Ruby dan tetangga tetangga Ruby pada terganggu. Terlebih lagi mereka mengira kalau gw ini penjahat jadi mereka semua kejar kejar gw. Mana HP baru gw jatuh lagi." jelas Arthan.


"Buahahaha...." tawa Ghibran dan Abi Umar, sedangkan Kiyai Mahfudz hanya diam saja.


"Kenapa kalian tertawa?" galak Arthan.


"Gimana gak ketawa, lo aja bisa lawan banyak penjahat. Nah ini, masak lawan ibu ibu aja gak bisa, cemen Lo." balas Ghibran sambil menahan tawanya agar tidak pecah lagi.


"Sial*n Lo."


"Arthan kamu gak boleh ngomong kasar seperti itu sama adik ipar kamu." tegur Kiyai Mahfudz.


"Iya kek maaf, habisnya Ghibran ngeselin." balas Arthan sambil menundukkan kepalanya.


Sedangkan Ghibran ingin sekali dia tertawa melihat sikap Arthan yang sangat patuh kepada Kiyai Mahfudz.


"Lain kali gak boleh kamu ulangin lagi."


"Iya kek."


"Tapi gak janji." lanjut Arthan dalam hati.


Bagaimana bisa Arthan tidak mengucapkan kata kata kasar, sedangkan itu sudah menjadi kebiasaannya. Terlebih lagi apa nanti kata musuh musuh Arthan kalau mereka tahu Arthan menggunakan kata kata yang lembut. Yang ada nanti mereka akan menertawakan Arthan.


"Terus gimana sekarang, kamu sudah berhasil menemukan orang itu belum?" tanya Abi Umar mengalihkan pembicaraan.


"Hufft... ini sangat menyusahkan. Arthan sudah menangkap salah satu orang yang membantu penculikan Arthan waktu bayi dulu, tapi dia gak mau mengaku Siapa yang sudah menyuruh mereka." jelas Arthan.


"Terus sekarang dia di mana?" tanya Abi Umar penasaran dan ingin bertemu dengan orang itu.


Arthan diam, dia bingung harus menjawab apa. Masak iya dia harus jawab kalau orang itu sudah Arthan bunuh. Apa nanti kata Kiyai Mahfudz, yang ada nanti Arthan bakal di kasih hukuman.


"Eemm...."


"Orangnya berhasil kabur lagi Bi." potong Ghibran sebelum Arthan menjawab, karena Ghibran tahu apa yang sudah kakak iparnya itu lakukan.


"Iya kan bang?" lanjut Ghibran dan di angguki Arthan.


"Bagiamana bisa kabur lagi, apakah kamu tidak menyuruh orang untuk menjaganya?" tanya Kiyai Mahfudz.


"Arthan kecolongan kek, dia ada yang bantu buat kabur." jawab Arthan bohong.


"Hufft... sepertinya mereka penjahat yang sangat pintar." gumam Kiyai Mahfudz.


Dan tanpa mereka berempat sadari, ada seseorang yang tengah mengguping pembicaraan mereka berempat sambil tersenyum licik.


Dan setelah mendapatkan info yang sangat penting, orang itu segera pergi dari sana sebelum ketahuan.


...***...