
"Besok kita ke sana ya." ajak Aretha.
Aretha sangat tergiur dengan ide Ghibran barusan. Pasti seru deh petik cabe dari kebunnya. Aaahh Aretha jadi gak sabar.
"Jangan sekarang sekarang ini ya yang, plis mas mohon banget. Soalnya kan ini akhir bulan mas lagi sibuk sibuknya di toko." balas Ghibran memohon.
"Ya udah gapapa, aku juga mau urusin pengeluaran sama pemasukan toko dulu." balas Aretha.
"Oke sayang ku, kamu jangan capek capek ya. Kalau bisa mas mohon banget kamu gak usah kerja, biar mas aja. Mas takut kamu kenapa kenapa."
"Mas tenang aja, nanti kalau aku capek pasti aku minta Ruby buat bantuin. Lagian nanti kalau perut aku udah besar aku juga mau ambil cuti." balas Aretha.
"Ya udah terserah kamu aja, asal mas gak mau denger kamu kecapekan." peringat Ghibran.
"Iya mas ku sayang." balas Aretha.
Ghibran pun melanjutkan membuat nasi goreng pedas untuk Aretha. Setelah jadi Ghibran segera menghidangkannya di meja makan dan di sambut antusias oleh Aretha.
"Eemmm... baunya...." seru Aretha menghirup aroma harum dari nasi goreng pedas buatan Ghibran.
Ghibran hanya memandang istrinya sambil tersenyum saja. Dia menunggu Aretha untuk memakan nasi goreng buatan dirinya. Tapi Ghibran heran, hampir sepuluh menit Aretha tak juga memakannya atau bahkan mencicipinya.
Ghibran masih berpositif tingking dengan berfikir mungkin saja Aretha menunggu nasi gorengnya hingga dingin. Tapi setelah di pikir pikir lagi, bukankah akan lebih nikmat kalau panasnya masih ada.
"Sayang kok di lihatin doang, kenapa gak kamu makan?" tanya Ghibran.
"Aku cuma mau lihatin aja kok, gak mau makan. Kan tadi kata kamu nanti sakit perut kalau makan yang pedes pedes." balas Aretha membuat mata Ghibran membola sempurna.
"Terus ini siapa yang makan?" tanya Ghibran.
"Ya kamulah, mau siapa lagi." jawab Aretha santai.
Huuwaaaa....
Ghibran rasanya ingin sekali menangis, bagaimana tidak. Itu nasi goreng buatannya sangatlah pedas. Sedangkan Ghibran tak menyukai pedas.
"Ya iya aku tahu. Tapi kan anak kamu mau lihat ayahnya nakan nasi goreng terus sambil bibirnya kepedesan."
"Tapi yang...."
"Udah ayo cobain, aku yakin kamu nanti bakalan suka. Kan kamu sendiri yang masak." suruh Aretha memotong ucapan Ghibran.
"Tau bakal gini tadi gw kurangi cabenya." batin Ghibran.
"Kenapa, ayo cepat sini makan." suruh Aretha menyodorkan satu piring nasi goreng pedas pada Ghibran.
Dengan ragu Ghibran menerima dan memakannya. Entahlah Ghibran hanya pasrah saja pada apa yang akan terjadi nanti di perutnya.
"Minum minum minum." pinta Ghibran agar dirinya segera di berikan minum.
Satu suapan saja Ghibran langsung kepedesan. Bagaimana nanti kalau menghabiskan satu piring nasi goreng buatan Ghibran. Apakah nanti Ghibran akan baik baik saja.
"Nih minum dulu." suruh Aretha menyodorkan satu gelas air putih.
Glek glek glek....
Dengan cepat Ghibran memasukkan satu gelas air putih dan meneguknya hingga tandas.
"Udah ya yang, pliss." pinta Ghibran yang sudah tidak kuat.
"Satu suapan lagi ya, aku janji bentar lagi akan pulang." janji Hufft... akhirnya Ghibran menurut saja.
Setelah selesai dengan suapan ke dua. Aretha minta lagi satu suapan, dan setelah satu suapan Aretha meminta lagi satu suapan.
"Dosa gak sih bunuh istri." batin Ghibran.
...***...