AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 47



Aretha jadi melupakan rasa risihnya setelah melihat keadaan taman itu yang sangat menarik perhatiannya.


Mereka berdua duduk di bangku taman dan memandang keadaan sekitar hingga perhatian Aretha tertuju pada penjual gula kapas yang sedang di kerumuni pembeli.


"Kenapa, kamu mau beli itu?" tanya Ghibran yang melihat Aretha seperti berminat pada makan manis itu.


"Pengen sih, tapi rame banget malas ngantri." jawab Aretha menoleh pada Ghibran.


"Ya udah kamu tunggu sini dulu, biar aku yang beliin."


"Ehh jangan, mending beli jajanan yang lain aja." tahanan Aretha agar Ghibran tidak pergi ke penjual gula kapas itu, ya walaupun dia sangat ingin memakan itu. Kan kasian nanti suaminya yang tampan ini harus menunggu lama di sana, mana terik matahari panas banget lagi.


"Udah gak papa, kamu tunggu di sini jangan kemana mana. Kalau mau beli apa-apa pangil aku aja, nanti takutnya tempat duduk kita di ambil orang." ucap Ghibran dan segera berlalu dari sana.


"Hufft... ya sudahlah, toh aku gak maksa dia." gumam Aretha.


Aretha pun memainkan ponselnya mengscroll halaman sosmed nya, dari mulai Instagram, Twitter hingga berakhir di aplikasi tiktok.


Sedangkan Ghibran tengah mengantri dengan banyaknya orang yang ingin membeli gula kapas. Dengan sabar Ghibran menanti hingga di menit ke tiga puluh barulah sekarang giliran nya.


"Pak saya mau beli dua yang warna warni sama yang warna pink aja." ucap Ghibran pada penjual gula kapas.


Pesanan Ghibran pun segera di buatkan setelah selesai dia membayar dan kembali ke tempatnya tadi.


Tapi saat sudah dekat dengan tempat duduknya Aretha, Ghibran melihat Aretha tengah duduk dengan seorang laki laki yang sepertinya tengah berusaha untuk dekat dengan Aretha.


Ghibran pun mempercepat langkahnya agar segera sampai di sana.


"Assalamualaikum, maaf mas ini tempat saya." ucap Ghibran mengusir dengan halus laki laki itu tak lupa Ghibran juga mengucapkan salam.


"Waalaikum salam." balas Aretha dan menatap Ghibran.


"Akhirnya kamu kembali juga." lega Aretha dan beranjak berdiri menghampiri Ghibran.


Tanpa Ghibran duga, tangan Aretha melingkar dengan mesra di lengannya dan itu membuat semburat senyum di bibir Ghibran keluar. Dan tak lupa hatinya berbunga-bunga, apalagi perutnya, rasanya sedang banyak kupu-kupu yang terbang di sana.


Flashback on.


Tadi setelah kepergian Ghibran, beberapa saat kemudian ada laki laki yang tiba tiba saja duduk di samping Aretha.


"Permisi mbak, boleh saya duduk di sini." izin laki laki itu, padahal mah dia sudah duduk di sana.


Aretha tak menjawab, dia hanya menatap laki laki itu sekilas dan kembali fokus pada ponselnya. Ingin rasanya Aretha pergi dari tempat itu, tapi dia ingat pesan Ghibran tadi kalau dia tidak boleh kemana mana. Jadi sebagai istri yang patut Aretha pun tetap berada di sana.


"Boleh kenalan gak , nama aku Arthan kalau kamu?" ucap laki laki itu memperkenalkan dirinya.


Aretha diam saja, dia tak membalas perkenalan orang itu.


"Ooh ok, kamu ke sini sendiri?" tanya cowok yang bernama Arthan itu lagi.


Dan masih tetap sama, tidak ada jawaban dari Aretha. Hingga membuat laki laki itu diam dengan sendirinya, mungkin dia malu karena tidak di respon sama Aretha. Tapi apakah itu mungkin, sedangkan dia saja sepertinya tidak punya malu yang main duduk duduk aja di sampingnya.


"Kamu tahu gak, aku juga punya saudara kembar. Doa itu cewek mungkin juga seumuran dengan kamu. Tapi sayang kita berdua gak bisa hidup bersama, bahkan dia pun tidak tahu kalau dia punya saudara kembar. Ingin sekali aku datang menemuinya, tapi aku takut kalau nanti dia syok dan gak bisa menerima keadaan ini." ucap orang itu tiba tiba setelah dia diam beberapa saat.


Aretha yang tadinya fokus dan tak menghiraukan laki laki itu pun menajamkan pendengarannya. Aretha agak tertarik dengan cerita lelaki itu, tapi Aretha tetap pura pura fokus pada ponselnya.


"Kalau menurut kamu, saudara kembar aku gimana reaksi nanti saat tau dia punya saudara kembar?" tanya orang itu meminta pendapat dari Aretha.


Saat Aretha akan menjawab, Ghibran sudah tiba di sana. Dan dengan cepat Aretha menghampiri Ghibran dan memeluk lengan Ghibran.


Flashback off.


"Tadi kamu tanyakan aku di sini sama siapa, ini aku di sini sama suami aku." ucap Aretha pada orang itu membuat Ghibran senang.


"Ooh iya, perkenalkan nama saya Arthan." balas Arthan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Ghibran.


"Ghibran." balas Ghibran meskipun dia agak bingung, karena dia tidak tahu akar masalahnya sebelum dia sampai.


Sementara Aretha, dia kaget karena sikap Arthan malah kelihatan baik baik saja. Doa kira Arthan bakal jeles atau apa gitu. Secara kan dari tadi kelihatannya Arthan itu mau deketin Aretha. Tapi ini kok biasa biasa saja setelah Aretha memperkenalkan Ghibran.


"Kalian baru menikah?" tanya Arthan penasaran.


"Iya kita baru menikah kemaren."Jawab Ghibran.


"Ooh berarti masih pengantin baru banget ya."


"Bisa di bilang seperti itu." nada bicara Ghibran sedari tadi hanya datar, dia bingung harus berekspresi seperti apa.


"Eemmm... boleh gak kalau kita jadi teman?"


Ghibran bingung harus menjawab apa, dia menatap Aretha meminta pendapat. Dan di balas anggukan oleh Aretha.


"Iya boleh kok." balasan Ghibran.


Mereka pun bertukar nomor telepon dan setelah itu Arthan pamit pergi. Karena sudah waktunya sholat ashar, Ghibran pun mengajak Aretha menuju musholla yang ada di dekat sana. Baru setelah itu mereka kembali ke taman lagi untuk memakan gula kapas yang Ghibran beli tadi.


"Kamu mau?" Aretha menawarkan gula kapas pada Ghibran.


"Enggak buat kamu aja." tolak Ghibran.


"Ya udah." Aretha pun melanjutkan makan gula kapas sambil menikmati rasa manis yang ada di mulutnya.


Melihat ekspresi Aretha membuat Ghibran jadi ingin merasakan rasa gula kapas. Jujur Ghibran sedari kecil belum pernah makan makanan itu. Jadi dia tadi menolak saat di tawari Aretha.


"Emang enak ya?" penasaran Ghibran.


"Enak banget, apalagi kalau udah di mulut, rasanya manis banget."


"Emang kamu belum pernah coba?" lanjut Aretha bertanya pada Ghibran dan di balas gelengan oleh Ghibran.


"Mau coba?"


"Tapi aku maunya kamu suapin."


"Ya udah kalau gak mau."


"Iih kok gitu, suaminya minta di suapin loh. Masak istrinya gak mau sih."


"Ya udah sini." akhirnya Aretha mengalah.


Aretha menyodorkan tangannya yang terdapat gula kapas ke mulut Ghibran dan Ghibran pun mendekat pada Aretha.


Cup.


Bukannya mengambil yang ada di tangan Aretha, Ghibran malah mengecup bibir Aretha yang tadi ada sedikit gula kapas.


"Manis." ucap Ghibran sambil tersenyum.


"Ghibran...."


Oh no, Aretha itu sangat sangat pelupa. Entahlah nanti Ghibran akan memberikan hukuman seperti apa pada Aretha. Semoga author masih memberikan keselamatan pada Aretha dari jeratan Ghibran.


...***...