
"Mas aku izin pergi ke kampus ya." izin Aretha pada Ghibran yang tengah memainkan ponselnya di sofa dalam kamar.
"Ya udah yuk aku antar, sekalian aku mau ke cafe." balas Ghibran berdiri hendak mengantar Aretha.
"Gak usah mas aku bisa bawa mobil sendiri kok, lagian kan kamu libur kerjanya." tolak Aretha secara halus.
Astaghfirullah Ghibran lupa belum memberitahukan yang sebenarnya kepada Aretha tentang pekerjaannya yang sebenarnya.
"Udah ayo aku antar, nanti pulangnya kamu hubungi aku biar aku jemput sekalian aku mau tunjukin sesuatu sama kamu." balas Ghibran tak menerima bantahan.
"Ya udah deh." pasrah Aretha.
Ghibran pun mengambil jaket dan berganti sepatu di ruang ganti, setelah itu mereka berdua keluar dari rumah tak lupa berpamitan dengan bi Wati.
"Kamu ada jam di kampus?" tanya Ghibran penasaran.
"Enggak ada kok kan aku udah selesai skripsi. Aku ke kampus cuma mau lihat pengumuman wisuda saja." jawab Aretha.
"Kenapa harus datang ke kampus, kan pengumuman bisa lewat ponsel?"
"Ya gapapa, satu kelas ku mereka semua sepakat kalau pengumuman nya tidak di share di ponsel. Karena kita mau sekalian kumpul kumpul mumpung masih belum sibuk dengan kegiatan masing-masing." jelas Aretha dan hanya di balas Oh saja oleh Ghibran.
"Nanti kalau aku wisuda kamu harus datang ya." pinta Aretha menatap Ghibran yang tengah fokus mengemudi.
"In syaa Allah aku datang kalau tidak ada halangan." jawab Ghibran.
"Iih kok gitu, jadi nanti kalau kamu lagi ada kerjaan kamu bakal mementingkan kerjaan kamu gitu dari pada aku."
"Gak gitu sayang, kan kita tidak tahu nanti gimana. Kalau memang aku di takdirkan buat datang ke acara wisuda kamu aku juga bakalan datang." jelas Ghibran memberikan pengertian buat Aretha.
"Ya udah." ngambek Aretha.
"Hei jangan ngambek dong, nanti aku cium loh."
"Bodo." bersindekap dada.
Ghibran menepikan mobilnya di pinggir jalan dan melepaskan sabuk pengamannya.
"Kita mau ngapain, ini belum sampai loh?" heran Aretha.
Cup.
Dengan gerakan cepat Ghibran memberikan kecupan di bibir Aretha yang membuat mata Aretha melotot sempurna. Setelah itu tanpa merasa bersalah Ghibran menjalankan mobilnya kembali.
"Udah gak usah gitu juga mukanya, mau aku cium lagi?" ucap Ghibran menyadarkan Aretha.
"Kamu apaan sih, suka banget curi ciuman orang." kesal Aretha.
"Dih mana ada cium istrinya sendiri itu nyuri." balas Ghibran santai.
"Tau ahh kamu makin kesini makin ke sana." kesal Aretha memandang keluar jendela tak mau menatap Ghibran.
"Makin ke sini makin ke sana gimana?" tak mengerti Ghibran dengan maksud Aretha.
"Bodo." balas Aretha bodo amat.
"Kalau saja kamu gak lagi buru buru ke kampus, udah aku ajak kamu belok ke hotel." gurau Ghibran.
"Kilih siji kimi gik ligi biri biri ki kimpis, idih iki ijik kimi bilik ki hitil." menye menye Aretha sambil pandangannya tetap menatap ke arah luar jendela.
"Iiih gemes banget sih." gemas Ghibran sambil mencubit sebelah pipi Aretha dengan tangan satunya.
"Auw sakit tauk." ringis Aretha sambil mengelus pipinya yang memerah akibat cubitan Ghibran.
"Makanya jangan bikin aku gemas kayak gitu, jadi aku cubit kan." balas Ghibran sambil terkekeh.
Ghibran tak lagi menyahuti ucapan Aretha, nanti yang ada malah dia gak jadi mengantarkan Aretha ke kampus melainkan beneran belok ke hotel.
Sampai di kampus Aretha segera keluar dari mobil setelah berpamitan pada Ghibran. Sebenarnya tadi Ghibran berniat untuk membukakan pintu mobil untuk Aretha, tapi Aretha menolaknya karena dia takut nanti akan ada yang tahu dan menjadi pembicaraan orang orang di kampus.
"Aku pergi dulu sayang, jangan lupa nanti hubungi aku kalau kamu sudah selesai." pamit Ghibran.
"Iya mas, hati hati di jalan." balas Aretha.
Ghibran pun pergi meninggalkan pelataran kampus Aretha dan Aretha juga masuk ke dalam kampus untuk bertemu dengan temannya yang lain.
-
Sementara di Malang, tepatnya di rumah Wahyu. Nafisah sudah di marahi habis habisan oleh Wahyu akibat perbuatannya itu. Tapi Nafisah tak membantah dia malah membuat drama nangis nangis hingga akhirnya Wahyu luluh dan memaafkannya.
Untung saja kedua orang tua Wahyu sedang pergi ziarah wali. Coba kalau ada di rumah, makin runyam pastinya nanti.
"Mas kita pulang kapan?" tanya Nafisah pada Wahyu yang tengah fokus di depan laptop.
"Lusa ya, kita tunggu mama sama papa pulang dulu." jawab Wahyu tanpa menatap Nafisah.
"Yah masih lama ya mas, padahal aku ada janji ketemuan sama temen ku yang baru pulang dari luar negeri dan besok dia udah balik lagi ke luar negeri." sedu Nafisah mengambil duduk di samping Wahyu dan bergelayut manja di lengan Wahyu.
"Terus gimana, mas gak bisa kalau harus pulang sekarang. Pekerjaan mas masih ada di sini untuk menggantikan papa sementara sampai papa pulang lusa."
"Gitu ya," pura pura sedih Nafisah.
"Eeemmm bagaimana kalau aku pulang sendiri saja mas?" usul Nafisah.
"Enggak, mas gak izinin kamu pulang sendiri." tolak Wahyu tak menyetujui usul Nafisah.
"Plis dong mas, emang kamu gak kasian sama aku yang sudah kangen banget sama sahabat kecil aku. Kita udah lama loh mas gak ketemu." mohon Nafisah.
"Tetap sayang, mas gak setuju."
"Iih mas mah gitu, emang mas gak punya sahabat yang pergi jauh apa. Mas pasti tau dong gimana kangennya seseorang yang sudah lama gak saling ketemu. Ehh giliran ada kesempatan untuk ketemu malah kita gak bisa. Itu sakit mas." Nafisah memainkan dramanya lagi dengan menangis di samping Wahyu.
"Ehh kok nangis lagi, udah ya jangan nangis. Ya udah deh masak izinin kamu buat pulang sekarang." putus Wahyu mengalah dari pada istrinya bersedih.
"Beneran mas?" senang Nafisah.
"Hmm, mas izinkan kamu pulang duluan tapi dengan syarat nanti kalau sudah sampai di rumah kamu harus hubungi aku." syarat yang Wahyu berikan pada Nafisah.
"Siap bos." hormat Nafisah yang sudah tidak menangis lagi.
"Ya udah sana kamu siap siap, biar aku urus dulu keberangkatan kamu." suruh Wahyu.
Dengan semangat Nafisah menyiapkan semuanya barang-barang yang dia bawa untuk pulang, termasuk oleh oleh untuk keluarganya.
"Nanti kalau ada apa apa di jalan langsung hubungi mas ya." pinta Wahyu sebelum melepaskan kepergian Nafisah.
"Iya mas, mas gak perlu khawatir. Lagian juga dulu sebelum menikah Nafisah juga sering perjalanan jauh sendirian." balas Nafisah.
"Ya udah mas Nafisah berangkat dulu, Assalamualaikum." pamit Nafisah.
"Waalaikum salam." balas Wahyu.
Nafisah memasuki kereta untuk menuju pulang ke Jember dengan hanya membawa satu tas saja. Karena tadi Wahyu sudah menyuruh seseorang untuk membawakan barang barang dirinya dan Nafisah sampai tempat tujuan.
Setelah kereta yang di tumpangi Nafisah berangkat, Wahyu pun kembali pulang menuju rumahnya.
...***...