AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 31



Dua hari pun sudah berlalu, sekarang tepatnya di hari Jum'at akan di langsungkan acara akad nikah Ghibran dan Aretha.


Akad nikah di langsungkan di rumah Aretha sendiri dengan Abi Umar sebagai wali nikah dan di sampingnya juga ada Kiyai Mahfudz yang tak lain adalah kakek Aretha dari Umi Fatimah.


Sedangkan Aretha di berada di dalam kamarnya di temani oleh Ruby yang sudah dua malam ini menginap di rumah Aretha atas permintaan Aretha sendiri.


Aretha sudah di rias dari pagi hari tadi oleh mua terkenal di kota Jakarta, dengan memakai kebaya kekinian berwarna putih serta hijab yang senada dengan kebayanya.


Sedangkan Ruby juga tak kalah cantik dari Aretha, dia mengenakan gaun brukat yang dia pesankan oleh keluarga Aretha untuk dirinya. Mereka berdua sedang duduk di pinggir ranjang milik Aretha dengan wajah Aretha yang sedu.


"Udah dong jangan sedih gitu mukanya, jelek tauk." ucap Ruby agak Aretha tidak bersedih.


"Lo gak tahu sih rasanya menikah sama seseorang yang bahkan belum lo kenal banget." balas Aretha sedih.


"Ya makanya itu lo nikah sama dia biar lo makin kenal." balas Ruby yang membuat Aretha menatapnya dengan tajam.


"Hehehe santai santai, gak usah gitu liat nya." cengir Ruby ngeri melihat tatapan horor Aretha.


"Sepertinya percuma juga lo ada di sini. Bukannya tenang, gw malah emosi gara gara lo." sungut Aretha.


"Hehehe maaf, niat gw kan tadi cuma mau menghibur Lo."


"Oh lo mau hibur gw?" tanya Aretha dengan seringai liciknya di balas anggukan oleh Ruby.


"Ya udah lo jadi badut aja di acara pernikahan gw, lumayan kan buat hiburan anak anak yang ada di bawah."


"Sembarang lo kalau ngomong, masak cantik cantik gini lo suruh jadi badut sih." tak terima Ruby.


"Loh kan tadi lo sendiri yang bilang mau hibur gw, ya itu caranya." balas Aretha.


"Ya, ya gak gitu juga kali Ret."


"Ya terus mau lo gimana, dari pada lo bikin gw makin pusing mending lo jadi badut aja."


"Tau ahh, lo mah ngeselin." cemberut Ruby.


"Gak usah gitu mukanya gak cocok, lo udah tua bukan anak anak lagi."


"Lo kok makin ngeselin sih, gw jadi makin ikhlas kalau lo nikah sekarang. Gw doain semoga saja suami lo orangnya sabar ngadepin bininya yang kayak gini."


"Ya semoga saja." balas Aretha.


Setelah itu hening lagi di kamar Aretha, Aretha sibuk memikirkan gimana masa depan rumah tangganya nanti. Apakah mereka akan hidup bahagia? Sepertinya itu tidak mungkin karena mereka menikah bukan atas dasar cinta, tapi perjodohan.


Tak tahu saja Aretha kalau di hati Ghibran sudah terukirkan nama Aretha Hazna Shabira dengan sangat indah di sana. Bahkan Aretha juga melupakan kuasa Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Mungkin sajakan sehabis akan nikah ini hati Aretha akan berubah menjadi mencintai Ghibran bahkan bisa saja nanti Aretha menjadi salah satu budak cintanya Ghibran.


Sementara itu Ruby sibuk memikirkan hadiah yang akan dia berikan pada Aretha sehabis ini. Ya, Ruby sudah menyiapkan hadiah kepada Aretha, dan dia menitipkannya kepada adiknya yang nanti akan menyusul ke sini. Ruby jadi tidak sabar melihat betapa lucunya wajah Aretha nanti saat membuka kado pemberiannya. Membayangkan itu membuat bibir Ruby tersenyum sendiri.


"Kenapa lo senyum senyum kayak gitu, jangan bilang lo kerasukan jin di kamar gw?" tanya Aretha mengagetkan Ruby.


"Astaghfirullah hallazim, Umi kenapa anak Umi yang satu ini begini banget sih. Gw jadi curiga, jangan jangan lo bukan anak kandung Umi sama Abi deh." cerocos Ruby.


"Sembarang lo kalau ngomong, gw ini anak satu satunya Umi sama Abi ya. Bahkan gw ini anak tersayang mereka." Balas Aretha.


"Masak sih, kok sifatnya beda. Umi sama Abi tuh orangnya lemah lembut, lah lo cewek tapi kelakuannya kayak cowok."


Plakk.


Hadiah terindah dari Aretha kepada Ruby.


"Lo ngomong apa barusan, sekali lagi lo ngomong gitu di kamar gw, gw yakinin tuh mulut gak akan ada lagi di tempatnya." tegur Aretha yang tak suka kata kata yang di keluarkan oleh Ruby.


"Hehehe sorry, kelepasan." cengir Ruby.


"Udah deh, lebih baik lo diam aja, pusing gw lama lama."


"Lah, kan situ sendiri yang ngajakin ngobrol dari tadi." gumam Ruby.


"Apa lo bilang?" garang Aretha.


"Enggak kok, gw gak ngomong apa apa. Mungkin lo salah dengar." kilah Ruby dan beranjak ke depan cermin untuk merapikan penampilannya sekaligus untuk menghindari Aretha.


"Hufft...." hela nafas Aretha.


-


"Gimana?" tanya seseorang kepada anak buahnya.


"Nona Aretha akan segera menikah hari ini juga dengan laki laki pemilik cafe itu tuan." jawab anak buahnya.


"Biarkan saja, sepertinya dia laki laki baik. Silahkan kalian lanjutkan pengamatan kalian dan jangan sampai kecolongan." perintah orang itu.


"Baik tuan."


"Semoga saja dia bisa melindungi kamu Ret." gumam orang itu sambil menatap foto Aretha di ponselnya.


Dan orang itulah yang dulu memberikan ancaman kepada Bani. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi Aretha nya dari bahaya manapun. Tak terkecuali laki laki yang berniat jahat kepada Aretha.


-


Acara akad nikah pun selesai, sekarang Ghibran dan Aretha sudah sah menjadi suami istri.


Ghibran di antar kan oleh Abi serta kiyai Mahfudz menuju kamar Aretha hendak bertemu dengan Aretha.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum." ucap Abi Umar mengucapkan salam setelah mengetuk pintu kamar Aretha.


"Waalaikum salam." balas Umi Fatimah yang berada dalam kamar Aretha.


Ceklek.


Pintu kamar Aretha di buka oleh Abi Umar dan menampilkan Aretha yang sudah cantik dengan balutan kebaya warna putih serta make up yang tidak terlalu tebal sehingga menambah kecantikan Aretha.


"Masyaallah cantiknya istri hamba." kagum Ghibran dalam hati.


Ghibran segera tersadar saat Kiyai Mahfudz dan Abi Umar menarik Ghibran masuk ke dalam kamar Aretha.


"Ayo nak silahkan pasang cincin kalian." perintah Kiyai Mahfudz dan langsung di laksanakan oleh Ghibran.


Ghibran mengambil cincin yang berada dalam saku jasnya, setelah itu dia membuka dan mengambil cincin yang akan dia kenakan di jari manis Aretha. Setelah selesai Aretha mencium punggung tangan Ghibran dan Ghibran membacakan doa setelah itu dia usapkan di kening Aretha, tak lupa pula Ghibran mencium kening Aretha untuk pertama kalinya.


Deg.


Entah kenapa jantung keduanya tiba-tiba berdetak, kalau Ghibran sih gak usah di tanyakan karena dia sudah mencintai Aretha. Tapi kalau Aretha, entahlah apa maksudnya itu yang jelas hanya author lah yang tahu.


...***...