AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 56



Ghibran tengah termenung di dalam kamar, dia bingung harus menceritakan semuanya kepada Aretha atau enggak. Saat Ghibran tengah melamun, tiba tiba ponselnya bergetar.


Drrtt drrtt drrtt....


Dengan segera Ghibran menggangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelfonnya.


'Assalamualaikum, halo.' sapa Ghibran.


'Waalaikum salam.' balas seseorang di sebrang sana yang membuat Ghibran melihat siapa nama kontak orang itu.


Oh ternyata Arthan yang menelfon Ghibran, ada kepentingan apakah dia menelfon Ghibran lagi? Bukankah tadi sudah? pikir Ghibran.


'Ada apa Tan?' tanya Ghibran to the poin.


'Enggak gw cuma mau ngajak lo ketemuan aja bisa gak?' tanya Arthan.


'Hah, ketemuan? Bukannya tadi aku udah bilang kalau aku lagi ada di Malang?' heran Ghibran.


'Iya gw tahu, ini gw juga ada di Malang. Barusan aja pesawat gw mendarat.' jelas Arthan.


'Ooh gitu. Ehh, tapi kamu ngapain ke Malang, bukan karena ingin ketemu aku kan?'


'Bukan kok, kebetulan tadi ada klien yang dari sini jadi sekalian mau ngajakin lo ketemuan. Apakah lo bisa?'


'Aduh gimana ya, kita lihat nanti saja ya. Nanti kalau aku bisa aku kasih kabar ke kamu.'


'Oke lah, padahal udah berharap banget ketemu bisa ketemu.' sedu Arthan.


'Mau ada perlu apa sih, kok sampai ngajak aku ketemuan?' heran Ghibran.


'Cuma mau curhat aja sih, soalnya gw gak ada teman buat dengerin cerita.' jelas Arthan sambil terkekeh.


'Ooh gitu, ya udah nanti aku usahain.'


'Nah gitu dong, kita kan pren.'


'Ehh lo kayak lagi banyak pikiran gitu, lo lagi ada masalah juga ya?' tebak Arthan yang mendengar suara Ghibran seperti ada tekanan.


'Gak terlalu besar sih masalahnya, cuma aku lagi bingung aja gimana ambil sikap.' jawab Ghibran.


'Emang masalah apa, maaf kalau gw lancang bertanya, tapi siapa tahukan lo butuh saran seseorang seperti gw gitu.'


'Huftt....' terdengar Ghibran menghela nafasnya dari sebrang sana.


Ghibran yang tadinya tiduran sambil kakinya masih berselonjor ke lantai pun mengubah posisinya menjadi duduk.


'Jadi gini, kan aku ke Malang itu ke rumah kakek neneknya istriku. Nah saat kita ada di sini ternyata di sini juga ada mantan aku. Aku bingung harus kasih tahu Aretha atau enggak.' curhat Ghibran.


'Oooh gitu, kalau menurut gw sih mendingan lo jujur aja sekarang. Dari pada nanti istri lo tahu dari orang lain makin ribet urusannya. Lagian juga cuma mantan, pasti istri lo juga terima. Ya kecuali kalau lo masih ada rasa sih sama mantan lo.' saran Arthan.


'Ya enggak lah, ya kali aku mau membuang berlian hanya untuk sebuah perunggu masa lalu yang bahkan dia dan keluarganya dulu aja gak pernah mikirin perasaan ku.'


'Nah kalau gitu tunggu apa lagi, mending lo kasih tau istri lo cepat cepat sebelum dia tahu dari orang lain. Terlebih lagi biasanya kalau orang lain yang cerita itu pasti bakalan di lebih lebihkan. Lo gak mau kan kalau istri lo nanti marah atau bahkan bisa pergi dari sisi lo hanya gara gara masalah masa lalu yang gak penting itu.'


'Oke habis ini aku bakal jujur sama dia. Thanks ya udah mau jadi tempat curhat gw.' Ghibran berterimakasih pada Arthan yang sudah memberikan saran dan masukan kepadanya.


'Santai aja kali, kan itu gunanya pren.' balas Ghibran sambil terkekeh.


'Ya udah aku tutup dulu ya, takut nanti istri gw ke sini.'


'Bisa kok, ya udah aku tutup dulu. Assalamualaikum.' pamit Ghibran.


'Waalaikum salam.' balas Arthan.


Tut.


Panggilan telepon pun terputus oleh keduanya. Ghibran segera bangkit untuk mencari istrinya untuk membicarakan masalah yang tadi dia curhatkan pada Arthan.


-


Sementara itu di posisi Arthan, dia tengah duduk di dalam kamar hotel sendirian sambil memandangi pemandangan kota Malang yang sangat indah dari lantai kamar hotelnya melalui jendela kaca.


"Gw ke sini gak ada urusan apapun, klien pun gw gak punya yang dari sini. Gw ke sini cuma mau ketemu sama lo aja." monolog Arthan sambil tangannya memutar mutarkan ponsel apel gigitnya.


"Tapi kalau seandainya lo gak bisa juga gak papa, gw juga sih yang salah udah ganggu acara keluarga Lo." lanjutnya lagi.


Tok tok tok.


Pintu kamar hotel Arthan di ketuk, Arthan pun segera berjalan untuk membukakan pintu kamar hotelnya.


"Permisi tuan, ini makanan anda sudah siap." ucap anak buah Arthan yang membawakan makanan untuk Arthan.


"Hmm, taruh saja di sana." tunjuk Arthan dengan arah matanya pada meja yang ada di kamarnya.


Anak buah Arthan pun segera meletakkan makanan milik tuannya di atas meja yang sudah di perintahkan tadi. Setelah itu dia pamit undur diri agar tidak menggangu kegiatan makan tuannya.


"Saya pamit undur diri dulu tuan, nanti kalau ada perlu apa apa bisa pangil saya dan yang lain di luar." pamit anak buah Arthan.


"Hmm." balas Ghibran sambil tangannya melambai mengusir anak buahnya.


Anak buah Ghibran pun berlalu pergi, tak lupa dia juga menutup pintu kamar tuannya. Baru setelah itu Arthan menyantap makanan yang sudah dia pesan pada anak buahnya tadi.


-


Sementara itu, di dapur tempat para perempuan memasak dan lain sebagainya. Nafisah tengah melamun memikirkan Ghibran mantannya yang tadi dia lihat di depan.


Untuk apa Ghibran ke sini, bukankah Ghibran sebelumnya tidak pernah ke daerah Jawa timur selain ke Jember tempatnya tinggal? pikir Nafisah.


Dan dengan siapa Ghibran ke sini, apakah Ghibran akan meminang salah satu santri yang ada di sini? Enggak, Nafisah tak akan membiarkan hal itu terjadi, karena Ghibran hanya miliknya seorang.


"Gw harus cari tahu apa yang Ghibran lakukan di sini." batin Nafisah.


Saking asiknya melamun sampai sampai dia yang tengah memotong bawang tergores jarinya.


"Auw...." ringis Nafisah dan melihat jarinya yang sudah berdarah.


"Ya Allah Nafisah jari kamu kenapa?" heboh orang orang yang ada di sana.


Karena Nafisah adalah istri dari alumni santri yang sangat teladan dan di kenal banyak orang di pesantren. Maka dari itu banyak juga orang yang mengenal dan menghormati Nafisah. Bahkan banyak dari mereka para santri yang ngefans sama Nafisah karena kecantikan Nafisah yang sampai bisa memikat hati santri Wahyu yang dulunya juga sebagai idola para santri Wati.


"Gak papa kok ustadz, ini tadi hanya tergores sedikit." jawab Nafisah sambil meniup jarinya agar tidak perih.


"Ana tolong kamu ambilkan P3K di dalam ya." perintah ibu Nyai Halimah.


"Inggih ibu Nyai." jawab santri yang di perintah untuk mengambil kotak P3K oleh ibu Nyai Halimah.


...***...