
"Gimana, enak gak?" tanya Ghibran yang melihat Aretha begitu lahap memakan gula kapas.
"Enak, kamu mau cobain?" tanya Aretha di balas gelengan kepala oleh Ghibran.
"Ya udah."
Aretha melanjutkan makan gula kapas nya hingga habis satu bungkus yang warna pink. Dan sekarang tinggal satu bungkus lagi yang berwarna warni.
"Mau di abisin?" tanya Ghibran.
"Enggak nanti aja sambil naik bianglala."
"Kita ke sana yuk." lanjut Aretha mengajak Ghibran.
Ghibran pun mengikuti kemana pun Aretha membawa dirinya, mungkin bila Aretha mengajak Ghibran terjun ke jurang pun Ghibran juga mau. Eeh enggak author becanda.
Langkah kaki Aretha berhenti di depan penjual aksesoris. Ada gelang, kalung, topi dan bando.
Aretha mengambil dua pasang gelang couple yang berwarna hitam.
"Kamu mau ini gak?" tanya Aretha pada Ghibran.
"Mau aja kalau kamu yang kasih." jawab Ghibran.
"Mas ini berapa?" tanya Aretha pada penjual aksesoris sambil menggangkat kedua gelang itu.
" Lima puluh ribu dua pasang mbak." jawab si penjual.
Aretha menadahkan tangannya ke Ghibran seolah minta sesuatu.
"Apa?" tanya Ghibran bingung.
"Uang kamu mana, sini bayarin." jawab Aretha meminta uang pada Ghibran.
"Lah katanya tadi kamu yang mau beliin." balas Ghibran menggambil uang satu lembar yang berwarna biru.
"Iya aku yang beliin tapi pakai uang kamu." jawab Aretha judes.
"Itu mah sama aja aku yang beli." Gumam Ghibran yang masih di dengar oleh Aretha.
"Apa, mau perhitungan sama istri?" garang Aretha membuat Ghibran otomatis menggelengkan kepalanya.
Selesai membayar gelang Aretha langsung menarik tangan Ghibran menuju bianglala.
"Kita naik itu ya." pinta Aretha.
"Ya udah kamu tunggu di sini sebentar biar aku bilang ke yang jaga." ucap Ghibran pergi menuju orang yang menjaga, setelah selesai dia kembali ke Aretha.
"Yuk." ajak Ghibran.
Mereka berdua pun naik di keranjang bianglala dengan wajah senang Aretha yang menghiasi.
Tanpa mereka sadari satu bianglala itu hanya mereka berdualah yang menaiki. Bahkan di pojok sana ada orang yang tersenyum licik memperhatikan interaksi keduanya.
"Gimana kamu senang gak?" tanya Ghibran yang melihat keantusiasan istrinya.
"Seneng banget." balas Aretha sambil melihat pemandangan dari atas pada malam hari.
Saat mereka tepat berada di paling atas tiba tiba saja bianglala itu berhenti. Aretha pun segera berpegangan pada tangan Ghibran karena takut.
"Ini kenapa?" tanya Aretha takut.
"Ssttt udah kamu jangan panik, ada aku di sini." balas Ghibran.
Ghibran pindah posisi duduk di samping Aretha dan membawa Aretha masuk ke dalam pelukannya.
Ghibran mengamati keadaan sekitar, dia baru sadar ternyata hanya ada mereka berdua yang menaiki bianglala ini. Dan pandangan Ghibran bertemu dengan seseorang yang memakai jubah hitam yang sedang memperhatikan dirinya dan Aretha dari bawah sana.
"Si*l*n ternyata ini jebakan mereka." batin Ghibran.
Ghibran tetap bersikap tenang agar Aretha tidak panik. Dia merogoh saku jaketnya dan mengambil ponselnya di sana. Setelah itu dia mengetikkan sesuatu dan dia kirim ke Arthan.
"Mas aku takut, apakah ini masih lama?" tanya Aretha ketakutan.
Bahkan Aretha semakin memeluk Ghibran dengan sangat erat seolah takut untuk di tinggal oleh Ghibran.
"Enggak kok palingan sebentar lagi juga jalan." balas Ghibran sambil mengelus punggung Aretha agar dia merasa tenang.
"Woy cepetan, ini kenapa gak jalan jalan." teriak Ghibran dari atas pada petugas pasar malam.
"Sebentar tuan, ini ada kesalahan sedikit." balas mereka.
Ghibran semakin geram saat melihat mereka bukannya mencoba untuk memperbaikinya, tapi mereka malah asik berkerumun yang entah membicarakan apa.
Tak berapa lama datanglah Arthan beserta segerombolan anak buahnya untuk membantu Ghibran dan Aretha turun dari sana.
Anak buah Arthan segera mengotak atik mesin bianglala yang ternyata tidak terjadi apa apa, tetapi mereka mematikannya.
"Maaf tuan ini mesinnya tidak ada yang rusak, tapi sepertinya mereka sengaja mematikan mesinnya." jelas anak buah Arthan pada Arthan agak berbisik agar tidak ada yang mendengar.
"Si*l*n mereka, awas aja nanti gw kasih pelajaran." umpat Arthan.
"Ya udah cepat kamu hidupkan mesinnya dan turunkan mereka berdua dengan selamat." perintah Arthan pada anaknya buahnya.
"Baik tuan." balas anak buahnya dan segera menjalankan perintah Arthan.
"Aaa...." teriak Aretha ketakutan saat tiba tiba bianglala yang dia naiki bergoyang.
"Ssttt bentar lagi akan jalan." ucap Ghibran menenangkan Aretha.
Dan benar saja setelah itu bianglala berjalan dengan normal seperti semula. Bahkan pengunjung pasar malam yang tadi panik melihat mereka berdua di atas pun bernafas lega.
Sedangkan para petugas pasar malam tadi pun pada berlari untuk kabur dari sana. Karena sepertinya rencana mereka sudah kebaca oleh seseorang.
Ghibran dan Aretha sampai di bawah dan segera keluar dari keranjang bianglala. Ghibran langsung merangkul pundak Aretha yang masih bergetar akibat ketahuan.
"Makasih bang." ucap Ghibran berterimakasih kepada Arthan.
"Oke santai aja, mending lo bawa istri lo pulang dulu. Nanti kita bicarakan ini lagi." suruh Arthan dan Ghibran pun segera pamit pergi membawa Aretha pulang.
Ghibran membawa Aretha pulang menuju rumah Abi Umar agar Aretha nanti ada temennya kalau dia tinggal ketemuan sama Arthan.
"Kita mau kemana mas?" tanya Aretha setelah tenang.
"Kita tidur di rumah Abi dulu ya, biar nanti kalau mas tinggal pergi keluar kamu ada temannya sama Umi." jawab Ghibran.
"Ya udah, tapi kamu mau kemana?"
"Aku masih ada urusan sama bang Arthan, kamu nanti gak usah banyak pikiran ya. Pokoknya nanti sampai sana kamu harus segera tidur. Oke?"
"Iya mas." balas Aretha.
"Good girl." mengelus puncak kepala Aretha.
Mobil Ghibran sudah sampai di pelataran rumah Abi Umar. Ghibran segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Aretha.
Setelah itu Ghibran merangkul pundak Aretha dan membawanya masuk ke dalam rumah Abi Umar.
"Assalamualaikum." salam keduanya saat memasuki pintu rumah yang sudah terbuka.
"Waalaikum salam." balas Umi Fatimah yang sedang menerima tamu.
"Loh sayang kamu kenapa?" tanya Umi Fatimah yang melihat keadaan Aretha agak pucat.
"Umi Ghibran boleh gak titip Aretha di sini malam ini. Ghibran masih ada urusan sama teman Ghibran." bukannya menjawab Ghibran malah meminta tolong pada Umi Fatimah.
"Ya udah kamu tinggal saja gak papa, biar nanti Aretha Umi yang temenin." balas Umi Fatimah yang mengetahui ada yang sedang tidak beres dengan mereka.
"Ghibran antar Aretha ke kamar dulu mi." izin Ghibran dan di angguki oleh Umi Fatimah.
"Nanti Umi akan menyusul, setelah urusan Umi selesai." balas Umi Fatimah.
"Aretha ke atas dulu mi." pamit Aretha.
Ghibran pun membawa Aretha ke dalam kamar Aretha dan mendudukkannya di atas ranjang.
"Kamu jangan takut lagi ya, kan kita udah turun dari sana." ucap Ghibran.
"Iya, tapi kamu mau kemana? Aku mau kamu di sini aja temani aku." pinta Aretha.
"Kamu di temani Umi dulu ya, nanti aku pasti pulang kok setelah urusan ku sama bang Arthan selesai." Ghibran mencoba untuk membujuk Aretha.
"Ya udah tapi kamu harus janji sama aku kalau nanti kamu pasti pulang dan gak akan kenapa kenapa."
"Iya sayangku."
Ya udah mas pergi dulu ya, Assalamualaikum." pamit Ghibran mencium kening Aretha.
"Waalaikum salam, hati hati mas." balas Aretha mencium punggung tangan Ghibran.
Ghibran pun pergi dari sana dan di bawah dia juga berpamitan pada Umi Fatimah.
...***...