AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 120



"Mau langsung pulang atau mau mampir ke mana?" tanya Arthan sebelum menjalankan mobilnya kembali.


"Kan motor aku ada di toko, jadi ya antar aku ke sana aja." jawab Ruby.


"Oh iya aku lupa. Ya udah kita ke toko sekarang."


Arthan pun mulai menjalankan mobilnya menuju toko roti AG bakery. Tanpa Arthan tahu ternyata ada sesuatu cairan yang bocor dari mobilnya.


Arthan terus melajukan mobilnya, hingga dia menyadari ada beberapa mobil yang tengah mengikuti mobilnya. Arthan pun menambah kecepatan laju mobilnya untuk menghindari mobil mobil di belakangnya.


"Kenapa?" tanya Ruby yang menyadari ada perubahan dari raut wajah Arthan.


"Ada seseorang yang tengah mengikuti kita." jawab Arthan dengan pandangan fokus menatap ke depan.


Ruby pun menoleh ke belakang, dan benar saja ada beberapa mobil yang tengah mengikuti mereka.


"Kamu gak usah panik, ingat ucapan ku tadi, aku akan melindungi kamu." ucap Arthan menenangkan Ruby.


"Kita lewat jalan pintas aja, biar lebih cepat sampai di toko." usul Ruby.


"Jalan pintas? Kamu tahu jalannya?"


"Iya aku tahu, aku sering lewat sana kalau sudah kesiangan."


"Ya udah ayo tunjukin di mana jalannya."


Ruby pun menunjukkan jalan mana yang harus Arthan lewati. Ternyata jalanan itu jalanan sepi dan berada di pinggir sungai yang mengalir deras.


Arthan terus melajukan mobilnya dengan cepat, hingga saat di depannya ada belokan dan Arthan akan mengerem mobilnya dia baru menyadari kalau rem mobilnya sudah tidak berfungsi.


"Sial*n, ternyata ini sudah di rencanakan." batin Arthan.


"Sayang cepat kamu duduk di pangkuanku." perintah Arthan gila.


"Kamu jangan gila ya." tolak Ruby.


"Udah ayo cepat, mobil ini akan jatuh ke sungai." tegas Arthan.


"Maksud kamu?"


"Mobil ini remnya blong, ayo cepat naik." Arthan membuka sabuk pengaman Ruby dan menarik Ruby agar duduk di pangkuannya.


"Ingat jangan lepaskan pelukanku. Dan pegang janji ku, aku akan menyelamatkan kamu apapun itu resikonya." janji Arthan.


Mobil Arthan semakin dekat dengan belokan dan dengan cepat Arthan membelokkan mobilnya dan jatuh ke sungai.


BYURRR....


Mobil Arthan terjun dengan bebas ke sudah dan terbawa arus sungai yang begitu derasnya.


Mobil mobil yang mengejar mobil Arthan pun berhenti untuk melihat keadaan.


"Waduh gimana ini, tuan Arthan terbawa arus. Gimana nanti kalau bos marah." panik orang orang yang mengejar Arthan tadi.


"Ayo kita pergi dari sini dulu sebelum ada warga yang melihat kita, urusan bos itu nanti saja kita pikirkan." balas salah satu dari mereka.


Mereka pun segera menaiki mobil lagi dan pergi dari sana sebelum nanti ada yang melihat mereka.


Entah nanti mereka harus bagaimana menanggapi kemarahan bos mereka karena incarannya hilang lagi, bahkan bisa jadi Arthan telah mati.


Padahal tadi bos mereka sudah berpesan untuk membawa Arthan dengan keadaan hanya luka luka saja, tidak sampai hilang atau bahkan mati. Tapi semua ini di luar prediksi mereka, mereka tak menyangka kalau mobil Arthan akan melewati jalanan pinggir sungai seperti ini.


-


Pyaar....


"Astaghfirullah hallazim." kaget Umi Fatimah karena tidak sengaja menyenggol gelas saat tengah membereskan meja makan.


"Kenapa Umi?" tanya Aretha panik.


"Ini Umi gak sengaja menyenggol gelas, jadi pecah deh." jawab Umi Fatimah.


"Aretha kira tadi ada apa, soalnya suaranya sampai di ruang tengah."


"Ya udah Aretha bersihin dulu pecahan gelasnya."


"Jan...."


"Auw...."


Belum selesai Umi Fatimah ingin melarang Aretha melakukannya karena takut Aretha terkena pecahan gelas, ehh jari Aretha sudah terkena duluan.


"Bentar Umi ambil obat dulu." Umi Fatimah pun segera pergi mengambil kotak P3K.


"Kenapa perasaanku jadi gak enak ya." gumam Aretha.


Aretha tak menghiraukan jarinya yang terus berdarah, tapi dia tengah memikirkan sesuatu yang entah apa itu.


"Sayang kamu diman... na. Jari kamu kenapa?" panik Ghibran menghampiri Aretha dan langsung menyesap darah yang ada di jari Aretha dan membuangnya sembarangan.


"Iih ini kotor tahu." Aretha menjauhkan jarinya saat Ghibran akan menyesapnya lagi.


"Ini kenapa jari kamu sampai kayak gini?" tanya Ghibran memandangi jari Aretha.


"Gak papa, Hany terkena pecahan gelas aja." jawab Aretha.


"Sini Umi obatin." ucap Umi Fatimah yang baru saja datang sambil membawa kotak P3K.


"Biar Ghibran aja Umi." ucap Ghibran.


Umi Fatimah pun menyerahkan kotak P3K itu pada Ghibran, dengan lembut Ghibran mengobati jari Aretha. Tak lupa juga Ghibran meniup jari Aretha saat meneteskan obat merah agar Aretha tidak merasakan perih.


"Udah, lain kali hati hati, biar bi Wati aja yang bersihin." tegas Ghibran.


"Iya mas, lagian juga cuma gini doang, gak usah panik. Gak sampai di amputasi juga."


"Hustt... Bibirnya kalau ngomong di jaga." tegur Ghibran.


" Mi, kenapa perasaan Aretha jadi gak enak ya." ucap Aretha pada Umi Fatimah yang tengah terdiam.


"Sama, perasaan Umi juga tiba tiba gak enak." balas Umi Fatimah yang merasakan hal yang sama.


"Coba Umi telfon Abi." suruh Aretha.


Umi Fatimah pun segera menelfon Abi Umar yang tengah berada di kantor.


"Gimana mi?" tanya Aretha setelah Umi Fatimah selesai menelfon Abi Umar.


"Abi baik baik saja, bahkan sekarang Abi sudah dalam perjalanan pulang." balas Umi Fatimah.


"Mungkin ini cuma perasaan Umi sama kamu aja sayang, lebih baik kita berdoa agar di berikan keselamatan dan di jauhkan dari segala marabahaya buat kita sekeluarga." saran Ghibran.


"Ya udah Umi mau ke kamar dulu." pamit Umi Fatimah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." balas Aretha Dan Ghibran.


"Kita ke kamar juga yuk." ajak Ghibran.


"Gendong." manja Aretha.


Dengan seneng hati Ghibran menggendong Aretha, ya meskipun punggungnya nanti akan terasa encok tapi tidak apa apa asal istrinya merasa senang.


-


Warga desa X menemukan tas serta ponsel di pinggir sungai. Mereka meyakini itu adalah ponsel milik orang yang berada dalam mobil yang jatuh dan terbawa arus sungai.


Judul artikel dan berita yang baru saja beredar di sosial media maupun di televisi beserta foto bukti bukti yang ada. Mulai dari bekas roda mobil, dan juga palang pinggir sungai yang rusak akibat tertabrak mobil yang terjatuh ke dalam sungai.


Drrtt drrtt drrtt.


Ponsel Ghibran bergetar, dia langsung menjawab panggilan telepon dari Adam tangan kanannya di cafe.


'Assalamualaikum Dam, ada apa?' salam Ghibran.


'Waalaikum salam bos, bos cepat lihat berita yang ada di TV channel CC.' Balas Adam.


Ghibran pun menyalakan televisi dan mencari Chanel televisi yang di kasih tahu oleh Adam. Dengan cermat Ghibran membaca dan melihat berita itu masih dengan sambungan telepon yang terhubung dengan Adam.


'Makasih informasinya Dam, aku tutup dulu telfonnya. Assalamualaikum.'


'Waalaikum salam.'


Tut.


Panggilan telepon pun terputus, Arthan melirik istrinya yang tengah tertidur dengan pulas di sampingnya. Dia pun memutuskan untuk keluar mencari Abi nya yang sudah pulang dari kantor tadi.


...***...