
"Sayang." pangil Ghibran karena Aretha diam saja.
"Jangan marah ya." lanjut Ghibran.
Ghibran menarik tangan Aretha untuk menggenggamnya dan menciumnya.
"Plis aku mohon jangan marah sama aku ya." ucap Ghibran lagi.
"Yang."
"Hmm." balas Aretha.
"Kamu gak marah kan?" tanya Ghibran was was.
"Hufft...." Aretha menarik nafasnya panjang.
"Sebenarnya aku gak marah kalau kamu punya mantan, toh itu masa lalu kamu juga. Tapi yang bikin aku kesal plus marah tuh karena mantan kamu Nafisah. Kenapa harus dia sih jadi makin kesal aja." ucap Aretha yang sedari tadi diam.
"Ya aku juga tidak tahu kenapa harus dia, dan kenapa juga aku harus punya mantan." balas Ghibran.
"Kenapa kamu gak tahu, seharusnya kamu tahu dong. Kan kamu yang ngelakuin."
"Ya kan semua itu berjalan begitu saja, jadi ya gitu deh."
"Aku kira cowok seperti kamu itu gak pernah pacaran, taunya eh malah udah punya mantan." sindir Aretha.
"Ya kan aku juga manusia yang." ngelas Ghibran.
"Manusia manusia, kamu kira aku bukan manusia gitu." garang Aretha.
"Ya bukan gitu maksudnya, kamu kan beda dari yang lain."
Cup.
"Apaan sih main cium cium orang aja." sungut Aretha karena Ghibran mengambil ciuman di pipinya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Ya gak papa dong, kan cium istri sendiri." balas Ghibran.
"Udah ya jangan marah, nanti cantiknya ilang loh." lanjut Ghibran.
"Apa kamu bilang, aku jelek Hah?" marah Aretha.
"Ehh gak gitu, aku gak bilang kamu jelek kok."
"Halah ngeles mulu kayak bajaj, udah ahh aku mau mandi." Aretha berdiri akan meninggalkan Ghibran.
"Ehh tunggu dulu." tahan Ghibran.
"Mau apa?" sinis Aretha.
"Mandi bareng yuk." ajak Ghibran sambil menaik turunkan alisnya menggoda Aretha.
"Ogah, udah sana aku mau mandi. Awas kalau sampai ngintip, aku doain mata kamu bintitan." ancam Aretha.
"Iiih seremmm...."menampilkan wajah ketakutan yang sangat menggemaskan bagi Aretha.
"Dih apaan sih, jijik tau gak." ucap Aretha yang tak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.
Aretha pun pergi menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Ghibran yang akan menahannya lagi.
-
Sholat dhuhur pun selain dengan Ghibran yang menjadi imam di masjid pesantren. Setelah sholat dhuhur mereka berkumpul di ruang tengah di rumah Kiyai Mahfudz untuk melakukan makan siang.
Semua sudah berkumpul hanya tinggal menunggu pengantin baru, siapa lagi kalau bukan Aretha dan Ghibran.
"Ya udah yuk kita mulai makannya." ajak ustadz Karim.
"Tunggu sebentar, cucu sama cucu menantuku belum datang." tahan kiyai Mahfudz.
"Apaan sih lama banget, gak tahu apa yang lain udah pada leper." ngedumel ustadz Karim tapi tidak ada yang menghiraukan.
"Assalamualaikum semua, maaf kami telat hingga membuat kalian semua menunggu lama." udah Ghibran merasa tidak enak.
Ghibran datang bersama Aretha, dengan tangan keduanya yang saling bertaut satu sama lain.
"Waalaikum salam." balas orang orang yang ada di sana kecuali ustadz Karim.
"Ya udah yuk silahkan kalian duduk kita mulai acara makannya sekarang." ajak Kiyai Mahfudz.
Dan semua itu tak luput dari perhatian Nafisah, dia memandang Ghibran dan Aretha. Nafisah bertanya tanya, ada hubungan apakah di antara mereka berdua.
"Jangan bilang kalau mereka itu adalah suami istri." batin Nafisah setelah mengingat apa yang tadi Kiyai Mahfudz ucapkan. Cucu sama cucu menantu, berarti kan mereka itu....
Setelah semuanya siap, Kiyai Mahfudz memimpin doa dan acara makan pun berjalan dengan lancar tanpa ada yang berbicara satu pun.
Setelah selesai mereka semua kembali ke ruang tamu untuk berbincang bincang. Kecuali para wanita, mereka pergi membereskan bekas makan siang tadi.
"Nak Ghibran kamu belum kenalan kan tadi dengan nak Wahyu, ayo kalian kenalan biar nanti kalau sewaktu waktu kalian bertemu bisa saling menyapa satu sama lain." ucap ustadz Suaib.
"Iya ustadz, perkenalkan nama saya Ghibran suami dari Aretha cucu kakek Mahfudz." ucap Ghibran memperkenalkan dirinya pada Wahyu.
"Wahyu alumni pesantren sini." balas Wahyu menjabat tangan Ghibran dengan di iringi senyuman.
"Kamu asal sini?" tanya Ghibran.
"Iya, kebetulan mama saya asal Malang, tapi kalau mama saya asalnya dari Yogyakarta." jawab Wahyu.
"Ooh berarti jawa tulen ya."
"Hehehe iya, kalau kamu?" balik tanya Wahyu pada Ghibran.
"Saya asli orang Jakarta." jawab Ghibran.
"Ooh, boleh dong nanti kapan kapan kalau saya ke Jakarta mampir ke rumah kamu."
"Boleh boleh silahkan, nanti kamu bisa langsung hubungi saya kalau berada di Jakarta." balas Ghibran.
"Boleh minta nomor kamu?" tanya Wahyu.
"Oh iya boleh,"
Wahyu pun menyodorkan ponselnya dan di terima oleh Ghibran. Ghibran segera mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Wahyu, setelah selesai dia mengembalikannya.
Wahyu segera memberikan nama Gus Ghibran di nomor ponsel Ghibran dan kebetulan Ghibran melihatnya.
"Aduh aku bukan gus loh." ucap Ghibran.
"Udahlah nak Ghibran tidak apa apa. Toh emang kamu itu Gus." sahut ustadz Suaib.
"Nah berhubung kalian sudah saling kenal, mari kita membicarakan pembangunan yang akan di laksanakan di pesantren ini. Tepatnya di pondok putri." ucap Kiyai Mahfudz mengajak rundingan.
"Sepertinya sesuai dengan rencana awal saja Romo yai, biar kita nanti yang atur dananya." ucap ustadz Suaib.
"Loh gak bisa gitu, kita juga harus menyuruh orang tua para santri untuk membantu pembangunan ini. Enak banget dong mereka mencari ilmu di sini tapi tidak membantu sama sekali." sangah ustadz Karim.
"Maaf ustadz, tidak baik bicara seperti itu. Lagian juga tidak semua santri di sini anak orang kaya, ada juga yang hanya orang gak punya." tegur Kiyai Mahfudz dengan sopan.
"Nih orang ustadz KTP apa, masak gelar ustadz tapi sikapnya kayak abu lahan." batin Ghibran menilai sikap ustadz Karim.
"Astaghfirullah hallazim, istighfar Ghibran. Kamu gak boleh gitu sama orang tua." batin Ghibran lagi.
"Ya maaf Romo yai, kan sekarang semuanya serba naik. Jadi pasti kita juga memerlukan biaya yang cukup banyak untuk pembangunan ini." bela ustadz Karim.
"Mohon maaf kek, pak ustadz, untuk soal biaya kalian tidak perlu khawatir. Biar nanti Ghibran saja yang tanggung semuanya." sela Ghibran menengahi pembicaraan mereka, walaupun Ghibran belum tahu seberapa besar biaya pembangunan nanti.
"Tidak usah nak, biaya pembangunannya tidaklah murah. Kalau kamu mau membantu boleh boleh saja Tapi tidak usah menanggung semuanya." tolak Kiyai Mahfudz secara halus.
"Tau tuh, emang kamu punya uang berapa mau tanggung biaya pembangunan pesantren. Kerja aja cuma di cafe mau sok sok an tanggung biaya pembangunan pesantren." sinis ustadz Karim.
Ghibran menahan emosinya mendengar ejekan yang terlontar dari mulut ustadz Karim. Coba saja sekarang mereka tidak berada di pesantren pasti sudah Ghibran tampar mulut ustadz Karim dengan black card miliknya.
"Ustadz tidak baik berbicara seperti itu, kita harus menghormati kebaikan nak Ghibran." tegur ustadz Suaib pada ustadz Karim.
"Iya dah terserah kalian saja, saya mau pergi dulu. Assalamualaikum Romo yai." pamit ustadz Karim begitu saja setelah mengucapkan salam.
"Astaghfirullah hallazim." istighfar Kiyai Mahfudz melihat tingkah ustadz Karim.
"Gak usah di masukin ke hati ya nak, kakek tahu kok kalau kamu itu mampu." ucap Kiyai Mahfudz menenangkan Ghibran.
"Iya kek." balas Ghibran.
Sedangkan Wahyu sedari tadi hanya sebagai pendengar saja, karena dia juga sudah tahu bagaimana sikap ustadz Karim. Percuma juga kalau dia ikut bicara nanti juga gak bakal ada ujungnya.
...***...