
Jam sudah menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit, tapi kedua manusia itu masih juga enggan membuka matanya. Siapa lagi kalau bukan pengantin baru itu. Ya Aretha dan Ghibran masih bergelung dengan selimut tebal di kamar Aretha. Aretha yang memeluk Ghibran dengan erat seperti guling, dan Ghibran yang membalas pelukan Aretha tak kalah erat juga.
Drrtt drrtt drrtt.
Dering ponsel Ghibran yang berada di atas meja samping tempat tidur berbunyi, Ghibran yang merasa terganggu pun membuka matanya sambil tangannya mencari keberadaan ponsel di atas meja.
'Hmm?' gumam Ghibran setelah mengangkat panggilan telepon tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
'Pagi bos, hari ini ke cafe gak?' tanya Adam melalui sambungan telepon.
'Hmm jam berapa sih kok pagi pagi ganggu orang tidur aja.' kesal Ghibran yang merasa tidur nyenyaknya terusik.
'Hah, bos masih tidur? Ini udah hampir jam enam loh.' kaget Adam, pasalnya bosnya ini tidak biasanya bangun siang.
'Hah!' Ghibran membuka matanya dan melihat keadaan ruangan yang sudah terang akibat terkena sinar matahari dan juga dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul enam.
'A....'
Saat Ghibran akan berbicara, dia melihat kesamping nya karena merasa ada yang menimpa tubuhnya. Dan betapa kagetnya Ghibran saat ada mahluk cantik yang tengah tidur pulas sambil memeluk tubuhnya bak guling.
'Subhanallah cantiknya.' puji Ghibran tanpa sadar kalau panggilan telepon masih tersambung.
'Siapa yang cantik bos?' tanya Adam kepo.
'Hah, bukan siapa siapa kok. Hari ini kamu yang urus cafe, kamu tahu sendiri kan kalau kemarin saya habis menikah.' ucap Ghibran dengan nada suara yang tidak sekeras tadi agar tidak menggangu tidur Aretha.
'Siap pengantin baru, gimana semalam enak gak?'
'Apanya?'
'Itu loh, yang biasanya di lakuin oleh suami is....'
Tut.
Belum selesai Adam berbicara, Ghibran sudah menutup sambungan teleponnya.
"Lah si bos main tutup tutup telfon aja, padahal kan gw belum selesai kalau ngeledek." gerutu Adam di dalam kamarnya.
Adam pun memutuskan untuk bersiap siap karena hari ini dia harus berangkat lebih pagi soalnya bosnya yang habis menikah itu gak datang.
-
Sementara itu Ghibran setelah menutup sambungan telepon tadi sekarang dia tengah fokus menatap ciptaan Allah yang sangat sangat indah. Ghibran bersyukur karena sekarang mereka sudah halal, jadi aman aman saja kalau dia menatap wajah cantik Aretha secara lama.
"Kamu cantik banget sih, beruntung banget aku bisa dapatin kamu. Selain karena kecantikan kamu, sikap dan sifat kamu jugalah yang dapat menarik perhatian aku sejak pertama kali kita ketemu di teras masjid waktu itu." Ghibran membelai lembut pipi Aretha dan merapikan anak rambut yang menghalangi kecantikan wajah istrinya itu.
"Aku yakin pasti di luaran sana banyak yang iri sama aku karena sudah berhasil mendapatkan kamu."
Ghibran terus mengelus rambut Aretha sampai sampai Aretha yang tertidur pun merasa terganggu. Melihat ada pergerakan di kelopak mata Aretha, Ghibran pun memutuskan untuk pura pura tidur dengan posisi yang tidak memeluk Aretha sama sekali. Ghibran ingin tahu bagaimana nanti ekspresi Aretha ketika tahu kalau dirinya sendirilah yang sudah melewati batas yang dia buat.
"Eemmhh...." lengkuh Aretha dan membuka matanya secara perlahan.
"Jam berapa sih, kok udah terang?" gumam Aretha dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hah, jam enam!" keget Aretha yang melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lebih beberapa menit.
Aretha akan beranjak, tapi tunggu! Apa ini yang dia peluk, kok keras banget?
"Aa... hmmtt." Aretha secepat mungkin menutup mulutnya yang ingin berteriak.
Mata Aretha melotot sempurna saat mendapati dirinya tengah memeluk Ghibran dengan erat. Bahkan dengan lancangnya kakinya ini berada di atas kaki Ghibran.
"Mau kemana hmm?" Ghibran mencekal tangan Aretha.
"Mamp*s gw." gumam Aretha.
Cup.
Seketika mata Aretha yang tadinya melotot sekarang makin melotot mendapati Ghibran mencuri ciumannya.
"Kamu...." menunjuk Ghibran.
"Apa hmm, sekali lagi kamu ngomong kasar aku cium kamu lagi." ancam Ghibran sambil tersenyum licik.
"Lepasin."
"Gak mau."
"Lepasin Ghibran."
Cup.
Lagi dan lagi Ghibran mencium bibir Aretha.
"GHIBRAN...." marah Aretha.
Cup Cup Cup.
Tiga kecupan mendarat sempurna di bibir Aretha.
"Aku suami kamu, gak sopan kamu manggil aku dengan sebutan nama." tegas Ghibran.
Untuk masalah ini Ghibran harus tegas, karena dia tidak mau Aretha sampai mendapatkan dosa hanya karena memanggil dirinya dengan sebutan nama.
"Maaf." lirih Aretha yang baru menyadari apa kesalahannya.
"Bagaimana jika Umi tahu kamu manggil aku seperti itu?"
"Jangan, jangan bilang sama Umi atau Abi." mohon Aretha, bahkan dia melupakan tangannya yang sekarang sudah berada di genggaman hangat Ghibran.
"Aku tidak mungkin bilang sama Umi ataupun Abi, karena nanti kalau aku bilang sama mereka itu sama saja aku mempermalukan diriku sendiri." balas Ghibran.
"Aku minta sama kamu, meskipun kamu gak cinta ataupun suka sama aku kamu jangan membantah atau pun berkata kasar sama aku kalau itu benar. Tapi kalau aku salah bentak dan kasih tahu aku. Aku gak mau kamu sampai mendapatkan dosa hanya karena masalah itu." lanjut Ghibran.
"Maafin aku." Aretha menarik tangan Ghibran dan mencium punggung tangan Ghibran.
Gal itu membuat Ghibran kaget, dia tidak menyangka kalau Aretha akan melakukan hal seperti itu ya meskipun itu wajar sih.
"Maafin aku, aku tahu itu tidak boleh di lakukan oleh seorang istri kepada suaminya. Bantu aku supaya bisa jatuh cinta dan bisa menerima semua ini." ujar Aretha dengan air mata yang sudah menetes.
"Ssttt kamu kenapa nangis, aku gak marah sama kamu. Iya aku maafin kamu, dan aku sudah bilang semalam kalau aku akan membuat kamu jatuh cinta sama aku. Udah ya jangan nangis, nanti cantiknya ilang loh." balas Ghibran sambil menggoda Aretha.
Pipi Aretha bersemu merah mendengar pujian Ghibran, dan jantungnya juga sepertinya sudah mulai rusak kembali. Hufft... Aretha sangat lemah kalau sudah di hadapkan dengan suaminya ini, padahal dulu waktu di gombalin sama banyak cowok Aretha biasa saja tidak seperti ini.
"Kenapa pipinya merah gitu hmm?" menarik gadu Aretha dan mengelus pipinya. Tak lupa pula menghapus air mata Aretha yang ada di pipi.
"Lepasin aku mau ke kamar mandi." pinta Aretha mengalihkan pandangannya karena dia malu kalau menatap wajah Ghibran.
"Tunggu dulu dong, masalah yang semalam gimana?" tahan Ghibran, dia akan menagih perjanjian yang semalam di buat Aretha.
Deg.