AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 136



Aretha dan Ghibran sudah sampai di AG bakery, para karyawan Aretha kaget melihat penampilan bos nya sekarang yang memutuskan untuk memakai niqob.


Mereka semua semakin terkagum kagum sama bos mereka. Karena memang Aretha sangat baik kepada semua karyawannya.


"Assalamualaikum." salam Aretha dan Ghibran saat memasuki toko.


"Waalaikum salam." balas orang orang yang berada di sana.


"Selamat datang bu bos, pa bos." sambut salah satu karyawan mewakili yang lainnya.


"Gimana toko, apakah ada masalah selama Ruby gak ada?" tanya Aretha.


"Alhamdulillah aman aman saja bu bos, selama mbak Ruby gak ada Rizal yang menggantikan peran mbak Ruby mengurus keuangan." jelas Yula, karyawan Aretha yang bertugas di bagian kasir.


"Syukurlah kalau begitu. Rizal kamu bisa ikut saya ke ruangan saya." ucap Aretha mengajak Rizal ke ruangannya untuk membicarakan keuangan toko selama satu Minggu terakhir ini.


"Baik bu bos." balas Rizal.


"Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian, semangat kerjanya dan layani pelanggan dengan baik." ucap Aretha sebelum pergi ke ruangannya.


"Baik bu bos." balas mereka semua.


Sedangkan Ghibran hanya memasang wajah cool saja, dia tetap stay di samping istrinya untuk berjaga jaga kalau ada sesuatu.


"Ya udah yuk kita ke atas." ajak Aretha.


Aretha pun pergi ke ruangannya bersama Ghibran dan di ikuti Rizal di belakangnya.


Sampai di ruangannya, Aretha langsung meminta Rizal untuk menjelaskan kondisi keuangan mereka selama satu Minggu ini. Dan dengan jelas Rizal menjelaskannya hingga akhir.


"Bagus, kalau begitu kamu saya angkat jadi manajer di toko ini." ucap Aretha menggangkat Rizal menjadi manajer di toko rotinya.


"Beneran Bu?" tak percaya Rizal.


"Iya, kamu pantas mendapatkan posisi itu. Saya percayakan semuanya sama kamu ya. Nanti kamu laporan sama saya satu Minggu sekali."


"Baik bu bos, terimakasih bu bos." ucap terimakasih Rizal karena Aretha sudah memberikan kepercayaan kepadanya.


"Iya sama sama, ya sudah kamu bisa kerja, saya masih ada banyak pekerjaan." ucap Aretha mengusir Rizal dengan halus.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu. Mari pa bos." pamit Rizal, tak lupa dia juga berpamitan ke Ghibran.


"Hmm." balasan Ghibran.


Rizal pun pergi dari sana, tak lupa dia menutup pintu ruangan Aretha kembali.


"Kamu cuek banget sih." ucap Aretha menatap Ghibran yang tengah duduk di sofa.


"Harus dong, biar mereka tahu kalau suami bos nya ini sangat menakutkan. Sehingga nanti kalau mereka mau melakukan tindakan kejahatan mereka mikir dua kali." balas Ghibran.


Ghibran beranjak menghampiri Aretha yang telah duduk di kursi kebesarannya.


"Sini biar aku yang kerjain, kamu duduk di sana saja." ucap Ghibran.


"Bumil tuh gak boleh capek capek, udah sini biar aku yang kerja. Nanti kamu tinggal menikmati hasilnya." paksa Ghibran.


"Ya udah deh terserah kamu." Aretha mengalah, dari pada nanti ribut. Lagian juga enak dia tinggal duduk doang gak perlu mikirin ini itu.


"Nah gitu dong."


Cup.


Ghibran memberikan kecupan di kening Aretha. Dan Aretha pun beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa dan di gantikan Ghibran.


Ghibran mulai fokus membaca satu kata demi satu kata. Sebenarnya ini pekerjaan sama saja dengan pekerjaannya di cafe. Cuma karena ini bukan miliknya jadi Ghibran agak kebingungan.


Tapi bukan Ghibran namanya kalau tidak bisa, Ghibran mengerjakan semuanya dengan benar tak ada yang salah satu pun.


-


Sementara itu di kediaman Arthan, mereka tengah melakukan makan siang. Arthan hanya makan siang bersama Ruby du rumahnya. Tapi nanti Arthan jamin kalau dia akan makan di meja makan ini bersama anak anaknya kelak.


"Oh iya aku lupa mau bilang sama kamu." ucap Ruby setelah menyelesaikan makannya.


"Mau bilang apa?" tanya Arthan.


"Itu dulu waktu sebelum kecelakaan, para ibu ibu balikin handphone kamu. Kata mereka sih handphone kamu jatuh. Tapi sekarang handphonenya udah hilang." ucap Ruby membuat Arthan mengingat hari di mana dia di kejar para the power of emak emak berdaster.


"Ooh ya waktu itu, iya emang handphone aku jatuh dan aku gak punya kesempatan untuk mengambilnya kembali." balas Arthan.


"Loh, emang kenapa?" penasaran Ruby.


"Ya karena waktu itu aku di kejar kejar sama mereka." jawab Arthan.


"di kejar kejar mereka gimana?" bingung Ruby.


"Jadi...." Arthan menceritakan semuanya mulai di mana dia adu cekcok dengan tetangga Ruby dan berhasil dirinya di kejar para kawanan emak emak berdaster.


"Hahahaha...." Tawa Ruby pecah mendengar cerita Arthan.


"Hahaha, sumpah aku gak bisa bayangin gimana komuk kamu waktu itu." tawa Ruby.


"Iya tertawa aja terus, buaknya nolongin malah di ketawain."


"Ya kan waktu itu aku gak tahu kalau kamu ada di depan rumah aku, lagian kan waktu itu juga aku lagi marah sama kamu." balas Ruby.


"Ya makanya habis ini kalau ada sesuatu jangan main marah dulu, tapi tanyakan kebenarannya." tutur Arthan.


"Siap pa bos." hormat Ruby.


Mereka berdua pun terus berbincang hingga sore menjelang barulah mereka pergi ke kamar untuk membersihkan tubuh dan sholat ashar.


...***...