AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 61



Ghibran memasuki kamar dan melihat Aretha yang tengah bercermin di depan meja rias. Ghibran pun segera menghampiri Aretha dan memeluknya dari belakang.


"Sayang kamu'jangan marah ya, dia itu bohong. Aku gak mungkin ngelakuin itu di belakang kamu." bisik Ghibran di telinga Aretha yang membuat Aretha merinding sendiri.


"Apaan sih kamu, geli tahu gak." ucap Aretha berusaha melepaskan tangan Ghibran yang melingkar di pinggangnya.


"Loh kamu gak nangis?" heran Ghibran yang tak melihat air mata di pipi Aretha.


"Siapakah juga yang nangis, kurang kerjaan banget." jawab Aretha santai.


"Yang tadi itu...."


"Oh itu, gimana akting aku bagus gak?" tanya Aretha.


"Hah?" cengoh Ghibran.


"Hah hoh hah hoh aja, gimana tadi akting aku bagus gak? Udah cocok belum kalau jadi pemain sinetron?" Aretha berbalik menghadap Ghibran.


"Ka-kamu tadi gak nangis?" bingung Ghibran.


"Enggak mas Ghibran ku sayang, udah ih sana aku mau skincare an." usir Aretha karena Ghibran mengganggu kegiatannya.


"Loh kok bisa?" heran Ghibran. Bahkan dia tidak sadar kalau Aretha memangil sayang kepada dirinya.


"Bisa apanya, kamu mau aku beneran nangis?"


"Ya gak gitu maksudnya yang, tapi kan tadi...."


"Nanti aku jelaskan, udah sana kamu bersih bersih ganti bajunya. Kotor tuh." suruh Aretha.


Ghibran pun menurut saja, dia berjalan ke arah kamar mandi. Tapi saat di pertengahan pintu menuju kamar mandi Ghibran tersadar akan sesuatu.


"Tunggu tunggu, kamu tadi pangil aku apa?" tanya Ghibran berbalik menghampiri Aretha lagi.


"Emang pangil apa, perasaan biasa aja."


"Iih enggak loh, tadi kamu pangil aku sayang gitu kan, ayo ngaku."


"Apaan sih GeEr, siapa juga yang manggil kamu sayang, orang aku cuma manggil kamu mas kok."


"Iih habis itu loh."


"Gak ada, udah sana pergi mandi cepat." usir Aretha mendorong tubuh Ghibran yang lebih besar dari tubuhnya.


" Sayang ulangin lagi dong, aku kan tadi gak dengar." rengek Ghibran menahan tubuhnya agar tidak terdorong ke belakang.


"Udah gak ada siara ulang, salah sendiri tadi gak denger."


"Oh berarti tadi beneran dong, makasih sayang ku."


Cup.


Setelah mencuri ciuman dari Aretha, Ghibran pun berlari ngibrit ke dalam kamar mandi sebelum kena semprot Aretha.


"Ghibran...." teriak Aretha kesal.


"Jangan teriak teriak sayang nanti kakek sama nenek dengar." balas Ghibran dari kamar mandi sambil terkekeh.


"Dasar suami aneh." gumam Aretha.


Tanpa Aretha sadari bibirnya melengkung ke atas membentuk bulan sabit yang membuat kadar kecantikan Aretha semakin bertambah.


Selesai dari kamar mandi, Ghibran menghampiri Aretha yang sudah duduk selonjoran di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Yang." pangil Ghibran.


"Hmm." jawab Aretha tanpa menoleh ke arah Ghibran.


"Ada apa sih?" tanya Aretha meletakkan ponselnya di samping dia duduk.


"Keringin." manja Ghibran menyuruh Aretha untuk mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas menggunakan handuk.


"Lagian siapa suruh malam malam gini keramas." Aretha beranjak menghampiri Ghibran dan mengambil handuk yang ada di tangan Ghibran.


"Duduk sini." perintah Aretha.


Bagaimana anak ayam yang patuh kepada induknya, Ghibran dengan patuh duduk di depan meja rias tempat Aretha duduk tadi.


Ghibran sekarang sudah mengunakan kaos sama celana boxer ya jadi aman Aretha gak bakalan teriak teriak.


"Rambut aku kan kotor jadi ya aku keramas." balas Ghibran menjelaskan.


Dengan telaten Aretha mengering rambut Ghibran sambil sedikit sedikit memijat kepala Ghibran. Dua hari hidup bersama Ghibran membuat Aretha terbiasa dengan sikap Ghibran yang kadang manja kadang juga ngeselin.


Mungkin karena saking ampuhnya doa Ghibran di setiap sepertiga malam sampai sampai Aretha cepat luluh kepadanya.


"Kamu tadi udah bilang kan ke nenek sama kakek kalau kita pulang besok pagi habis subuh?" tanya Ghibran.


"Udah kok tadi, tapi sepertinya kita harus menunda kepulangan kita sampai siang hari deh."


"Loh kenapa?" bingung Ghibran mendongakkan kepalanya menatap Aretha.


"Udah kepalanya gak usah banyak gerak." marah Aretha yang membuat Ghibran patuh.


"Ya kan kita harus selesaikan masalah kamu tadi dulu. Aku gak mau ya kota pulang ke Jakarta tapi nama baik kamu masih jelek di sini." jelas Aretha.


"Ooh itu, tau tuh bikin orang repot aja." Ghibran jadi ikutan kesal sendiri mengingat masalahnya barusan.


"Makanya jangan punya mantan, kan hidup jomblo tuh lebih enak."


"Ya kan mana aku tahu yang kalau akhirnya bakal seperti ini."


"Lagian juga dia ngapain sampai harus berbohong seperti itu, udah punya suami juga." lanjut Ghibran.


"Masih suka kali sama kamu." balas Aretha santai.


"Dih ogah banget kalau sampai kayak gitu, untung aja aku dulu gagal nikah sama dia."


"Ehh tapi tadi kamu kok nangis bisa sampai kayak gitu?" heran Ghibran.


"Bisa dong, Aretha gitu loh. Dah selesai." ucap Aretha berlalu untuk meletakkan handuk di tempatnya.


"Sini cepat ceritain sama kau, aku mau tahu." pinta Ghibran agar Aretha mendekati dirinya.


"Kamu aja yang ke sini, kan kamu yang butuh." tolak Aretha dan memilih duduk di tempatnya semula, yaitu duduk di atas ranjang sambil bersandar di kepala ranjang.


"Ya udah cepat ceritain gimana tadi ceritanya?" kepo Ghibran menghampiri Aretha dan duduk di samping Aretha.


"Jadi tadi saat kami pergi aku berniat untuk mengantarkan kepergian kamu sampai di depan gerbang. Ehh waktu aku mau nyusulin kamu aku malah melihat ada si Nafisah yang ngikutin kamu dari belakang. Ya udah aku ikutin juga lah." jelas Aretha.


"Trus kelanjutannya gimana kok sampai kamu nangis kayak gitu?" tanya Ghibran lagi.


"Ya aku ikutin sampai gerbang, niatnya sih aku tadi mau ngikutin juga sampai ke tempat tujuan kamu sama teman kamu, tapi aku urungkan dan aku lebih memilih masuk ke dalam rumah. Toh kamu juga gak sendirian perginya jadi aku gak khawatir."


"Trus trus kelanjutannya gimana?" tanya Ghibran tidak sabaran.


"Sabar dong aku ambil nafas dulu."


"Terus setelah aku masuk kamar beberapa saat terdengar suara si Wahyu yang mencari keberadaan Nafisah. Ya udah karena aku orangnya kepo an aku lihat deh keluar. Trus aku di tanya tahu ke mana Nafisah tidak, ya aku jawab tidak padahal mah aslinya aku tahu. Terus ada salah satu santri Wati yang bilang katanya Nafisah tadi pergi sama laki laki di depan gerbang sana. Trus salah satu santri yang lainnya juga bilang kalau kamu pergi keluar barengan depan belakang sama Nafisah. Nah trus dari sana mereka semua pada heboh membicarakan kalian berdua." Aretha menjeda ucapannya sebentar sebelum melanjutkannya lagi.


"Kita semua menunggu kedatangan kalian sampai beberapa jam, dan kalian tak kunjung kelihatan juga ya udah deh mereka semua pada berasumsi kalau kalian berdua ada main di belakang. Dan saat mereka tengah sibuk membicarakan kalian berdua tiba tiba ada notifikasi di ponsel aku katanya atas nama Arthan dan adalah foto kamu tengah membelikan aku gula kapas, ya udah aku buat aja seolah olah aku bersedih atas segala apa yang kamu lakukan. Ehh taunya setelah kepergian para santri kalian berdua datang, ya udah aku tambahin nangisnya biar makin kencang." jelas Aretha panjang lebar.


...***...