
"Assalamualaikum." ucap seseorang dari belakang Ruby.
Deg.
Aretha tidak menyangka kalau Ghibran akan senekat itu menghampiri dirinya. Dia tadi sudah berpositif tingking kalau Ghibran mungkin akan ke meja yang lain, tapi ternyata tidak, Ghibran malah menghampirinya.
"Waalaikum salam, siapa ya?" balas Ruby bertanya setelah melihat siapa orang yang mengucapkan salam.
Ruby sempat membeku saat melihat ketampanan Ghibran, tapi dia segera menyadarkan dirinya dan membalas salam Ghibran.
"Saya Ghibran, teman Aretha." jawab Ghibran yang membuat Ruby seketika menatap Aretha penuh tanya.
"Bener Ret?" tanya Ruby ragu, pasalnya dia tidak pernah tahu kalau Aretha punya teman setampan ini.
Aretha menggangukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ruby.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya Ghibran.
"Ja...."
"Boleh boleh silahkan duduk."
Ruby menyela ucapan Aretha. Aretha di buat kesal sendiri dengan Ruby yang main mempersilahkan Ghibran duduk di meja mereka tanpa memikirkan perasaannya.
Ghibran pun mengambil tempat duduk yang kosong di antara Ruby dan Aretha.
"Kalian udah selesai?" tanyakan Ghibran.
"Udah ini mau pulang." jawab Aretha cepat sebelum Ruby.
"Kata siapa mau pulang, kan kita masih nungguin pesanan buat adik aku." sahut Ruby.
"Kan kita bisa nunggu di sana." tunjuk Aretha pada meja kasir.
Ghibran tersenyum, dia tahu kalau Aretha tengah berusaha untuk menghindari dirinya. Bukannya benci, Ghibran malah semakin suka pada Aretha. Tekat Ghibran untuk melamar Aretha pun semakin kuat, dia akan segera mengajak Aretha berbicara berdua saja nanti.
"Udah ayo cepat kita tunggu di sana, sorry ya Ghibran kita pulang dulu soalnya lagi buru buru." pamit Aretha menarik tangan Ruby agar mengikuti langkahnya tanpa menunggu persetujuan Ghibran.
"Kita duluan ya, daaahh." teriak Ruby hingga orang orang yang ada di sana memandang ke arahnya.
"Kamu sekarang bisa lolos, lihat saja besok aku yakin kamu gak akan bisa berkutik." gumam Ghibran.
Ghibran pun memutuskan untuk pulang ke apartemennya, menyusun strategi untuk esok hari.
-
"Lo kenapa sih Ret, padahal tadi Ghibran baru aja duduk loh. Gw aja belum sempat kenalan." omel Ruby saat berada dalam mobil menuju rumahnya.
"Bisa diem gak Lo, pusing nih pala gw dengerin lo nyerocos mulu dari tadi." balas Aretha setengah membentak.
"Lo kenapa sih, pms ya?" heran Ruby.
"Asal lo tahu ya, Ghibran itu adalah laki-laki yang...." Aretha menjeda ucapannya.
"Yang?" menunggu kelanjutan ucapan Aretha.
"Yang akan dijodohin sama gw."
"WHAT." refleks Ruby.
"Suara lo bisa kecilin dikit gk, sakit kuping gw."
"Seriusan lo, Ghibran yang mau di jodohin sama Lo?"
"Hmm."
"Demi apa sih, lo harus terima. Harus pokoknya, gw yakin lo gak bakal nyesel kalau terima dia." heboh Ruby.
"Lo kenapa sih, kok jadi ngedukung gitu?"
"Ya iyalah, secara gitu ya, Ghibran itu ganteng banget. Terus di lihat dari sikapnya tadi tuh kayaknya sopan banget gitu." jelas Ruby.
"Sekarang lo boleh bilang gitu, tapi nanti."
"Lo inget gak kalimat 'Jangan terlalu membenci seseorang, karena cinta timbul karena adanya kebencian.' hati hati loh nanti lo malah bucin banget sama dia." lanjut Ruby menggoda Aretha.
"Kita lihat saja nanti." balas Aretha yang merasa bodo amat. Karena baginya itu gak akan mungkin.
Setelah itu mereka saling diam dengan pemikiran masing-masing hingga sampai di rumah Ruby. Setelah menurunkan Ruby, Aretha langsung menancap gas mobilnya menuju rumah dia sendiri.
-
Keesokan harinya, entah ada apa Aretha merasa setelah sholat subuh selesai rumahnya nampak gaduh, seperti tengah kedatangan seseorang. Karena Aretha yang malas untuk mengetahui apa yang terjadi, alhasil dia hanya berdiam diri di kamar sambil memeriksa pekerjaannya.
Sementara itu di lantai bawah, tepatnya di dapur Ghibran tengah membantu Umi Fatimah memasak. Tapi lebih tepatnya Ghibran lah yang memasak karena Ghibran melarang Umi Fatimah ikut serta dalam memasak.
"Umi bantuin ya." tawar Umi Fatimah.
"Gak perlu Umi, Umi duduk saja di situ nanti Umi sebagai penyicip saja, biar Ghibran yang masak. Kapan lagi coba Umi di masakin calon mantu." larang Ghibran di sertai candaan sedikit.
"Kamu itu bisa saja deh, ya udah Umi tinggal dulu mau lihat Abi di kamar."
"Siap Umi." balas Ghibran.
Umi Fatimah pun pergi meninggalkan Ghibran di dapur. Sedangkan Ghibran fokus dengan kegiatan masaknya, dia di temani oleh bibi yang bekerja di rumah Aretha.
Penampilan Ghibran sekarang sangat cool sekali, celana jeans hitam dengan atasan Hoodie putih dan tak lupa celemek yang dia pakai agar pakaiannya tidak kotor.
Hari ini Ghibran akan mempersembahkan makanan sepesial untuk calon keluarganya, dan tak lupa makanan kesukaan Aretha yaitu tempe mendoan.
"Balado telur, ayam panggang, sup sayur sama tumis kangkungnya udah jadi, sekarang tinggal buat tempe mendoan buat calon bini." gumam Ghibran dengan pede mengucapkan calon bini, kayak bakal di terima aja sama Aretha.
Dengan semangat Ghibran memotong tempe menjadi kotak tipis tipis, dan setelah itu dia membuat bumbunya dengan penuh cinta. Setelah itu dia juga menggorengnya dengan hati hati agar tidak gosong. Bisa berabe nanti kalau sampai gosong. Kan gak lucu, masak masakin calon istri gosong. Baru calon aja udah gosong, gimana nanti kalau udah jadi sungguhan.
Kurang lebih dua puluh menit, akhirnya tempe mendoan ala Ghibran sudah jadi. Sekarang tinggal menghidangkannya di meja makan, Ghibran di bantu oleh bibi menghidangkan beberapa macam masakan yang sudah dia buat di atas meja makan rumah Aretha.
"Wah kok sudah selesai semua, Umi jadi gak ngapa-ngapain dong." seru Umi Fatimah yang baru saja datang di ikuti Abi Umar di belakangnya.
"Umi sama Abi tinggal cobain aja masakan Ghibran, nanti kalau suka biar kapan kapan Ghibran masakin lagi." balas Ghibran sambil tersenyum.
"Yuk Mi kita cobain masakan calon menantu, sekalian nanti kita nilai udah cocok belum buat masakin anak kita nanti. Kan Aretha gak bisa masak." ucap Abi Umar yang membuat semburat merah keluar di pipi Ghibran.
"Bentar Bi, Umi panggil Aretha dulu." ucap Umi Fatimah dan di angguki oleh Abi Umar.
Umi Fatimah pun beranjak menuju kamar Aretha untuk memanggil anak semata wayangnya yang tidak bisa memasak itu.
"Retha ayo cepat keluar, sarapannya sudah siap." pangil Umi Fatimah di depan pintu kamar Aretha.
"Iya Mi, bentar." jawab Aretha dari dalam.
"Cepat, Abi sudah nunggu di meja makan."
"Iya Mi."
Ceklek.
Aretha membuka pintu kamarnya dan menampilkan tubuh Umi Fatimah yang berdiri di sana.
"Ayo cepat, keburu dingin nanti makanannya." ajak Umi Fatimah.
Mereka berdua pun berjalan turun menuju lantai satu, di tengah tangga Aretha menghentikan langkahnya saat melihat ada orang lain yang tengah berbincang dengan Abinya di meja makan.
"Itu siapa Mi?" tanya Aretha.
"Oh, itu Ghibran."
Deg.
...***...