AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 68



Aretha sudah menunggu kedatangan Ghibran di depan gerbang masuk universitas. Dia sendirian di sana karena teman temannya yang lain sudah pada pulang duluan. Tadi Aretha di tawarin mau di anterin pulang tapi Aretha menolaknya dengan alasan dia sudah akan di jemput.


Dari kejauhan Aretha melihat kedatangan mobil Ghibran, Aretha pun menyambutnya dengan senyuman hangat setelah mobil itu berhenti di depannya. Aretha pun segera masuk ke dalam mobil karena takut nanti ada yang keburu melihat dirinya yang dia jemput oleh laki laki.


Bukannya Aretha malu mengakui Ghibran, tapi karena mereka melakukan resepsi nya nanti jadi Aretha tidak akan mempublish hubungan dengan Ghibran sampai nanti di hari H resepsi.


"Maaf ya kamu pasti nunggu aku lama." ucap Ghibran merasa bersalah.


"Enggak kok, lagian juga salah aku juga yang ngasih kabarnya dadakan." balas Aretha tak menyalahkan Ghibran.


"Kita mau kemana?" lanjut Aretha bertanya.


Pasalnya mobil Ghibran tidak berbelok ke arah jalan menuju rumah mereka melainkan ke arah lain.


"Kita ke cafe dulu ya, aku ada urusan sebentar di sana." jawab Ghibran dan di angguki Aretha.


Sampai di cafe Ghibran di sambut dengan hangat oleh semua karyawannya.


"Assalamualaikum bos." sapa mereka semua yang menyambut kedatangan Ghibran dan hal itu membuat Aretha heran.


"Waalaikum salam." balas Ghibran.


"Kita mau makan di mana?" tanya Aretha yang merasa Ghibran membawanya semakin jauh dari lantai satu cafe.


"Kita makan di ruangan ku ya." jawab Ghibran.


"Ruangan kamu, maksud kamu?" bingung Aretha, bukankah Ghibran hanya pelayan biasa? Bagaimana bisa seorang pelayan mempunyai ruangan khusus. Atau jangan-jangan di cafe ini fasilitasnya memang seperti itu. Pikir Aretha.


"Udah nanti kamu juga akan tahu." balas Ghibran membawa Aretha naik ke lantai dua tepat ruangannya berada.


"Assalamualaikum bos." salam Adam pada Ghibran dan Aretha.


"Waalaikum salam." balas mereka berdua.


"Gimana, semuanya sudah kamu siapkan?" tanya Ghibran.


"Sudah bos." jawab Adam.


"Kalau gitu saya masuk dulu." pamit Arthan dan di angguki oleh Adam.


Ceklek.


Pintu ruangan Ghibran di buka oleh Ghibran sendiri. Di dalam ruangan Ghibran keadaannya sangat gelap. Aretha pun mengeratkan tangannya di tangan Ghibran takut sewaktu waktu dia akan di tinggal Ghibran sendirian di sana.


"Ini di mana?" tanya Aretha.


"Kamu lepas tangan aku dulu dong, baru nanti kamu akan tahu." suruh Ghibran.


"Enggak aku gak mau, nanti kamu malah tinggalin aku sendirian di sini lagi." tolak Aretha.


"Iisss enggak loh yang, aku gak akan tinggalin kamu."


"Gak mau pokoknya gak mau."


"Ya udah kalau gitu, biar saja ruangannya gelap kayak gini."


"Iiih kok gitu, kan aku penasaran sama isinya."


"Makanya lepas dulu tangan kamu biar aku bisa menyalakan saklar nya." pinta Ghibran.


Dengan berat hati Aretha pun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ghibran. Ghibran berjalan menuju tempat saklar lampu dan....


Ceklek.


Ruangan yang tadinya gelap sekarang berganti dengan ruangan yang terang dengan ada beberapa lilin yang menghiasi ruangan itu.


Dan tak lupa di tengah sana ada satu meja dan dua tempat duduk yang di atasnya sudah tersedia berbagai macam makanan yang di hias dengan sedemikian rupa.


Aretha terbengong melihat semua yang ada di depannya ini. Dia tidak menyangka kalau Ghibran akan menyiapkan semua ini untuk dirinya.


"Sayang, mau kah kamu menjadi pendamping hidupku sampai akhir hayatku nanti." ucap Ghibran menghampiri Aretha dengan satu ikat bunga mawar merah di tangannya yang entah dia dapat dari mana.


"Ini, ini kamu semua yang nyiapin?" tanya Aretha tak percaya.


"Pegawai? Bukannya kamu itu...."


"Ssttt, nanti saja kalau mau tanya itu. Sekarang aku mau romantis romantisan sama kamu. Jangan merusaknya seperti waktu itu." Potong Ghibran sambil jari telunjuknya dia letakkan di bibir Aretha yang membuat Aretha diam.


"Kamu mau ya jadi teman hidupku?" tanya Ghibran menatap Aretha penuh perasaan.


"Bukannya waktu itu kamu sudah menyatakannya dan aku jawab iya?"


"Itu kan beda, waktu itu gagal gara gara kamu. Dan sekarang aku gak mau gagal lagi."


"Jadi bagaimana kamu mau kan?" lanjut Ghibran.


"Eemmm bagiamana ya...." Aretha berfikir sambil tangannya mengetuk ketuk dagunya.


"Kalau kamu mau kamu bisa ambil bunga ini dari tanganku. Tapi kalau kamu menolaknya kamu bisa buang bunga ini." ucap Ghibran memberikan pilihan buat Aretha.


Aretha diam dan berfikir hal apa yang akan dia lakukan. Sedangkan Ghibran pikirannya sudah was was takut Aretha menolaknya.


Dengan gerakan cepat Aretha mengambil bunga yang ada di tangan Ghibran dan membuangnya ke lantai. Hal itu berhasil membuat hati Ghibran terasa di tusuk tusuk dengan beribu ribu anak panah yang beracun. Rasanya sangat sakit....


"Maaf kalau selama ini aku selalu ganggu hidup kamu. Mungkin aku sudah gagal untuk membuat kamu jatuh cinta. Tapi aku tidak akan menyerah sampai nanti kamu yang menyuruh aku buat pergi dari hidup kamu. Ini juga masih belum genap seminggu, jadi pantas kalau kamu belum bisa menerima aku sebagai pendamping mu."


"Ya udah yuk kita makan, kamu pasti udah lapar ka." ajak Ghibran berbalik akan menuju tempat makan.


Bruk.


"Kamu jangan ngomong seperti itu, aku buang bunga pemberian kamu bukan berarti aku menolak kamu tapi karena aku maunya kamu bukan bunga itu." Ungkap Aretha di punggung Ghibran.


Ya, Aretha memeluk Ghibran dari belakang. Ghibran berbalik dan menatap wajah Aretha yang juga menatap wajahnya.


"Aku cinta sama kamu, aku mau hidup sama kami sampai nanti ajal menjemput kita berdua. Bahkan kalau bisa kita juga pergi ke surganya Allah bersama." ucap Aretha menatap Ghibran dalam.


"Kamu jangan menyerah untuk membuat aku jatuh cinta sama kamu, aku sekarang sudah jatuh cinta sama kamu dan kamu harus membuat aku makin jatuh sejatuh jatuhnya ke dalam cinta kamu." lanjut Aretha.


"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Ghibran.


"Auw sakit yang." ringis Ghibran karena Aretha mencubit lengannya.


"Itu berarti kamu tidak mimpi." balas Aretha.


"Kamu beneran cinta sama aku?" tanya Ghibran tak percaya.


"Hmm." jawab Aretha malu malu.


"Kok gak bilang bilang?"


"Tauk ahh gak jadi, kamu orangnya ngeselin." Aretha memaksa Ghibran untuk melepaskan tangannya dan setelah terlepas Aretha pun berbalik akan menuju meja makan.


"Jangan ngambek gitu dong yang, jadi makin sayang nanti aku kalau kamu ngambek terus." tahan Ghibran membalik tubuh Aretha hingga menatap dirinya.


"Lagian kamu jadi orang ngeselin."


"Iya aku minta maaf ya, lain kali aku janji akan buat kamu kesel lagi." janji Ghibran membuat mata Aretha melotot sempurna.


"Dasar suami gak ada akhlak, untung sayang." balas Aretha sambil memukul dada Ghibran.


"Apa tadu kamu bilang, sayang. Kok aku gak yakin ya." goda Ghibran.


"Tauk ahh kamu mulai ngeselin lagi, aku mau pulang saja." kesal Aretha.


Saat Aretha akan berbalik, tangan Aretha langsung di tarik oleh Ghibran dan....


Cup.


Ghibran ******* bibir Aretha dalam, dengan tangan yang menahan tengkuk Aretha agar tidak bisa melepaskan ciumannya.


...***...


Ini aku update banyak, gak ada cita cita kasih vote atau hadiah apa😁😁😂