
mereka semua makan di rumah Ghibran dengan tenang tanpa ada yang berbicara, karena kalau sampai ada yang berbicara nanti langsung kena teguran dari Abi Umar.
Di tengah acara makan bersama itu, pandangan Umi Fatimah tak pernah lepas dari Arthan. Umi Fatimah terus memperhatikan wajah Arthan, karena menurutnya wajah tersebut sangat tidak asing olehnya.
Selesai makan mereka semua ngobrol bersama di ruang tamu, dengan di temani camilan dan minuman yang sudah di siapkan sedari tadi.
"Kamu pasti Arthan ya?" tanya Umi Fatimah pada Arthan membuat Arthan, Ghibran dan Abi Umar terdiam.
"Iya Mi, ini bang Arthan yang pernah Aretha ceritain sama Umi." balas Aretha.
"Oooh pantesan Aretha antusias banget pengen kenalin kamu ke Umi, kamunya aja anaknya pendiam seperti ini." puji Umi Fatimah yang membuat Ruby ingin sekali memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya.
"Hahahaha Umi bisa saja." balas Arthan malu malu.
"Gak usah gitu muka lo, jijik gw liatnya." Ruby memandang Arthan jijik.
"Yuk ke dapur cuci tangan kalau jijik." balas Arthan.
"Lo...."
"Ruby kamu jangan seperti itu, gak baik loh. Kasian nanti nak Arthan nya." sela Umi Fatimah menegur Ruby.
"Iya Umi." sambil memandang Arthan dengan permusuhan, sedangkan Arthan membalasnya dengan senyuman mengejek seolah dia menang melawan Ruby.
"Amit amit jabang bayi, semoga saja anakku nanti tidak seperti mereka berdua." ucap Aretha sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"lolololo... Malah lebih bagus harus seperti kita loh, ya gak by?" balas Arthan bertanya pada Ruby.
"Lo aja kali gw enggak." balas Ruby judes.
"Lo...."
"Udah bang jangan berantem mulu, nanti suka loh." potong Aretha yang jengah melihat mereka berdua selalu berantem. Tapi nanti kalau sudah bersama dalam mengerjakan misi, mereka malah akan kompak seperti waktu itu dalam mengeksekusi Nafisah.
"Gw suka ama dia, heh kayak gak ada cewek lain aja." balas Arthan.
"Dah kah capek gw liat kalian." pasrah Aretha.
"Kita ke kamar yuk yang, kan tadi kata kamu mau istirahat." ajak Ghibran.
"Udah gak jadi capek, gara gara liat mereka berdua." tolak Aretha.
"Ya udah nanti kalau mau istirahat bilang, biar aku antar kamu ke kamar." balas Ghibran dan di angguki Aretha.
"Tadi kata dokter gimana keadaan kandungan kamu sayang?" tanya Umi Fatimah.
"Alhamdulillah Umi baik, dan Umi tahu gak kalau anak Aretha itu ada dua." jelas Aretha dengan raut wajah yang bahagia.
"Ada dua, maksud kamu kembar gitu?" tanya Umi Fatimah.
"Iya Umi, Aretha aja bingung ini dapat gen dari mana. Secarakan mas Ghibran gak ada keturunan kembar, apa lagi Aretha ya Umi. Aretha kan gak ada keturunan kembar." bingung Aretha membuat semua orang terdiam kecuali Ruby.
"Kalian kenapa?" tanya Aretha karena mereka semua hanya diam.
"Enggak kok yang, kita cuma ikutan bingung saja sana seperti kamu." ucap Ghibran agar Aretha tidak semakin curiga.
"Iya sayang benar apa kata nak Ghibran, Abi bingung mikirin keturunan dari mana kembar itu." timpal Abi Umar.
"Iya sih, tapi mungkin saja emang sudah takdir Allah." balas Aretha di angguki mereka semua.
"Ini kembaranmu Areta sayang." batin Arthan sambil tersenyum pedih.
Ingin rasanya Arthan memeluk Aretha, tapi saat berdekatan dengan Aretha dia rasanya ingin selalu bertengkar dengan Aretha.
Huh, aneh bukan.
Mereka terus mengobrol sambil becanda dan tertawa, dan Umi Fatimah yang selalu curi curi pandang pada Arthan hingga waktu sholat Dhuhur barulah mereka menyudahinya. Mereka semua pun segera pergi mengambil wudhu dan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dengan Abi Umar yang sebagi imam sholat.
...***...