
Satu hari pun sudah berlalu, hari ini pun tepat akan di adakan acara tujuh bulanan kandungan Aretha. Ruby sudah bersiap dengan gamis putih dan kerudung peach miliknya. Ya, tema pakaian di acara tujuh bulanan kandungan Aretha adalah memakai pakaian putih dan atasan warna peach.
Dia sekarang tengah duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Arthan yang akan menjemputnya.
"Loh kakak kok belum berangkat?" tanya Haikal yang mendapati Ruby masih berada di rumah.
"Iya ini kakak masih nunggu kak Arthan jemput." jawab Ruby.
"Ooh gitu." balas Haikal.
"Kamu mau kemana?" tanya Ruby yang melihat Haikal hendak keluar rumah.
"Haikal mau main ke rumah temen kak." jawab Haikal.
"Ya udah hati hati kalau main, nanti pulangnya jangan siang siang biar kamu tidak bolong sholat dhuhur nya." peringat Ruby.
"Siap kak." hormat Haikal, setelah itu dia pergi meninggalkan Ruby sendirian di rumah.
Ting.
Bunyi notifikasi ponsel Ruby yang menandakan ada pesan masuk. Dengan segera Ruby membuka ponselnya untuk melihat siapakah yang mengirimkan pesan kepadanya.
Maaf aku tidak bisa menjemput kamu, aku masih ada urusan.
Isi pesan yang Ruby terima yang datangnya dari Arthan.
"Hufft... tau gitu tadi gw berangkat duluan. Jadi kesiangan kan datangnya." kesal Ruby.
Ruby pun segera pergi untuk mencari taksi di depan gang kontrakan miliknya. Ruby mengabaikan pesan Arthan begitu saja tanpa membalasnya. Tak lupa Ruby juga mengunci pintu dan meletakkan kuncinya di tempat yang sudah biasa dia gunakan untuk menyimpan kunci agar nanti kalau Haikal pulang langsung masuk ke dalam rumah tidak harus menunggunya pulang.
Ruby sudah berada dalam mobil taksi, dia melihat arloji yang ada di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Dia sudah telat setengah jam, karena acara di mulai pukul delapan sedangkan sekarang sudah pukul setengah sembilan.
"Ini semua gara gara si Arthan, coba aja dia bilangnya dari pagi tadi, pasti gw gak bakal nungguin dia selama itu." kesal Ruby.
"Pak bisa agak cepetan dikit gak pak? Soalnya saya sedang buru buru." ucap Ruby pada sopir taksi.
Mobil terus melaju, saat mendekati rumah Aretha Ruby melihat mobil Arthan di depannya seperti tengah mengejar mobil seseorang.
"Berhenti pak." pinta Ruby yang melihat mobil Arthan berbelok menuju jalanan yang sepi dan menuju ke arah hutan.
"Kenapa neng?" tanya supir taksi heran.
"Kita bisa ke sana gak pak, ikutin mobil yang tadi belok ke sana?"
"Bisa neng, emang mau ngapain ya?"
"Udah bapak ikutin perintah aku aja, nanti bapak saya kasih bonus yang banyak."
Mendengar itu dengan senang hati supir taksi itu menjalankan perintah penumpangnya. Dia membelokkan mobilnya menuju jalanan yang sepi dan menambah kecepatannya agar tidak kehilangan jejak mobil yang tadi.
"Udah kelihatan pak, kita pelan pelan aja biar mereka tidak curiga." ucap Ruby yang sudah melihat keberadaan mobil Arthan dari kejauhan.
"Baik neng."
Mereka terus mengikuti mobil Arthan hingga mobil itu berhenti di sebuah bangunan tua yang tidak terawat yang posisinya sudah hampir di tengah hutan.
"Berhenti pak." perintah Ruby.
Supir taksi itu pun menghentikan mobilnya sesuai dengan perintah Ruby.
"Bapak tunggu di sini, dan ini komisi bapak saya bayar separuh dulu takut nanti bapak kabur tinggalin saya di sini sendiri." ucap Ruby menyerahkan tiga lembar uang yang bergambar Soekarno dan Hatta.
"Makasih neng, tenang aja saya gak bakal kabur kok." balas supir taksi.
Ruby segera turun dan berjalan mendekati tempat di mana Arthan berada dengan cara mengendap-endap agar tidak ketahuan.
...***...