
"Ini Arthan ngapain sih ke sini, mana bangunan nya serem banget lagi." monolog Ruby sambil terus mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Arthan.
Ruby bersembunyi di balik pohon yang besar, dari sana Ruby bisa melihat Arthan yang baru turun dari mobil dan membawa seseorang yang ada di mobil depannya dalam keadaan tangan yang di ikat dan mulut yang di sumpal.
"Loh itu siapa, kenapa sampai Arthan bawa itu orang." monolog Ruby lagi.
Melihat Arthan dan yang lainnya sudah masuk ke dalam bangunan tua itu, Ruby pun ikutan mendekati bangunan tua itu dan berusaha masuk ke dalam sana agar bisa melihat apa yang akan Arthan lakukan di sana.
"LEPAS." berontak orang yang tadi mulutnya di sumpal dengan lakban oleh Arthan dan sekarang sudah di buka lakbannya.
"Oohhh... tenang dong tenang, lo gak mau main main apa sama gw." Arthan berjalan mendekati orang itu.
"Lepasin gw." ucap orang itu memandang Arthan dengan tajam.
"Kalau gw gak mau gimana?" balas Arthan sambil tersenyum mengejek.
"Lepasin gw bangs*t." maki orang itu.
Bukannya melepaskan ikatan orang itu, Arthan malah pergi menuju sebuah meja usang yang ada di sudut ruangan. Di sana Arthan mengambil pisau kecil yang tadi terletak di dalam laci.
Arthan berbalik mendekati orang itu sambil tangannya mengusap pisau kecil itu dengan gerakan yang menyeramkan seperti psycopat.
"Arthan...." lirih Ruby dan kaget melihat bagaimana ekspresi Arthan yang sangat menyeramkan di sana.
Ruby terus memperhatikan Arthan dan yang lainnya di sana, meskipun badannya sudah setengah gemetar melihat keadaan di depannya.
"Lo, lo mau ngapain?" panik orang itu yang melihat Arthan mendekati dirinya.
"Kan udah gw bilang tadi, gw mau main main sama Lo." balas Arthan santai.
Arthan mendekat dan meletakkan pisau itu di pipi orang itu.
Badan orang itu gemetar dan matanya fokus menatap pisau yang ada di pipinya, takut sewaktu waktu kalau Arthan mengiris pipinya.
"Lo tahu, gimana rasanya hidup jauh dari keluarga?" tanya Arthan dengan nada dingin.
"Lo, lo ngomong apaan sih?" tanya orang itu dengan nada ketakutan.
"Cih, lo gak usah pura pura bego, lo sudah tahu apa yang gw maksud." balas Arthan sambil bibirnya naik sebelah.
"Gw gak suka ada orang yang sok bodoh seperti Lo."
Kretes.
"Aaaa...." teriakkan menggelegar dari mulut orang itu saat Arthan dengan mudahnya menggores pipi orang itu hingga mengeluarkan darah segar yang begitu banyak.
Ruby yang sedari tadi bersembunyi di balik tembok pun menutup mulutnya dengan rapat agar tidak mengeluarkan suara. Dia begitu syok dan ketakutan melihat adegan di depannya.
Rasanya Ruby sudah seperti menonton drama psycopat secara live di depan matanya. Ingin rasanya Ruby berlari dari tempat terkutuk ini, tapi jiwa kepo Ruby lebih dominan dari pada rasa takutnya. Sehingga membuat Ruby tetap stay di sana meskipun dalam keadaan ketakutan.
"Gw gak nyangka." gumam Ruby.
Sementara itu Arthan masih terus melanjutkan dengan menggores pipi yang sebelahnya lagi dengan pisau yang sama. Dan tak lupa jeritan yang memekikkan telinga dari orang itu.
"Stop anj*g." maki orang itu meskipun dalam keadaan yang kesakitan.
"Kenapa hmm, sakit?" balas Arthan sambil tersenyum smirk.
"Sepertinya kurang indah kalau lo masih bisa bicara kayak gini, enaknya tuh lidah di potong juga." ucap Arthan.
Enggak, Ruby tidak bisa terus terusan membiarkan apa yang akan Arthan lakukan, ini dosa. Ruby harus menghentikan Arthan sebelum Arthan bertindak lebih jauh lagi.
...***...
kira kira apa ya yang akan Ruby lakukan?
Dan apakah nanti Ruby jadi menerima Arthan setelah apa yang dia lihat?
stay tune di sini ya, insyaallah gak lama lagi aku tamatin 😂