AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 119



Aretha mendapatkan empat gamis, sedangkan Ruby dia hanya membeli satu gamis, itu pun harganya tidak terlalu mahal.


"Mau cari apa lagi?" tanya Ghibran pada Aretha.


"Udah ini aja, lo gimana mau cari apa lagi?" jawab Aretha dan bertanya pada Ruby.


"Aku udah kok." balas Ruby.


"Ya udah ayo kita cari makan, udah waktunya makan siang juga, setelah itu nanti kita sholat dhuhur." ajak Ghibran dan di setujui oleh mereka.


"Ya udah yuk."


Mereka pun mencari tempat makan terdekat untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan akibat capek berkeliling di mall.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Ghibran pada Aretha.


"Aku mau makanan seafood, terserah kamu mau pesanin apa." jawab Aretha.


"Ya udah mbak saya ini dua dan minumnya ini dua." tunjuk Ghibran pada daftar menu makanan.


"Kalian berdua mau pesan apa?" tanya Ghibran pada Arthan dan Ruby.


"Samain aja." balas Arthan dan Ruby kompak.


"Widih, kompak bener." sahut Aretha.


"Ya udah mbak, makanan sama minumannya sama jumlahnya empat semua." ucap Ghibran menyebutkan pesanan mereka.


"Baik mas, silahkan di tunggu sebentar." balas pelayan restoran dan pergi untuk membuatkan pesanan mereka berempat.


"Oh iya By ini buat Lo." ucap Aretha menyodorkan satu tas belanjaan buat Ruby.


"Loh ngapain Ret, ini aku udah beli." heran Ruby.


"Udah ambil aja, itung itung itu bonus buat lo karena lo udah bantu gw jaga toko." balas Aretha.


"Tapi...."


"Udah ambil aja, lagian ini punya gw udah udah banyak." paksa Aretha.


"Ya udah makasih ya." balas Ruby dan menerima pemberian Aretha.


Aretha tahu tadi sebenarnya Ruby ingin membeli beberapa gamis, cuma karena keuangan Ruby yang harus hemat jadi Ruby hanya membelinya cuma satu.


Makanan mereka pun datang, dan mereka segera menyantapnya. Setelah selesai mereka mencari musholla atau masjid untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur.


-


Entah bagaimana ceritanya tadi hingga sekarang Ruby bisa satu mobil bersama Arthan. Di dalam mobil mereka berdua saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Arthan mencoba untuk mencairkan suasana.


"By...." pangil Arthan menoleh pada Ruby sebentar dan kembali lagi menatap jalanan di depannya.


Ruby diam saja tak menjawab panggilan Arthan. Dia tetap setia menatap jalanan samping mobil melalui kaca jendela.


"Ruby...." pangil Arthan lagi.


"Ada apa?" balas Ruby tapi dengan tidak menatap Arthan.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Arthan.


Lagi dan lagi Ruby hanya diam tak menjawab pertanyaan Arthan.


"By...." pangil Arthan lagi dan lagi.


"Aku gak marah sama kamu, toh gak ada gunanya juga." balas Ruby.


"Terus kenapa kamu gak mau menatap aku?"


"Aku marah sama diri aku sendiri, kenapa aku bisa jatuh hati sama cowok psikopat seperti kamu." Ruby menatap Arthan dan mengeluarkan unek-uneknya.


Mendengar itu Arthan menepikan mobilnya, agar dia bisa leluasa ngomong sama Ruby.


"Aku suka sama kamu, tapi aku udah terlanjur kecewa sama sifat kamu." lanjut Ruby dengan air mata yang menetes kembali.


"Maaf, aku minta maaf kalau sudah buat kamu kecewa. Tapi inilah aku yang sesungguhnya, si psikopat yang dengan tega menyakiti orang. Dan bukan cuma itu, aku juga pernah membunuh beberapa orang." ungkap Arthan mengenai identitasnya yang pernah membunuh orang.


"Tapi aku jatuh cinta sama kamu Ruby, aku suka sama kamu. Apakah aku tidak boleh hidup bahagia dengan seseorang yang aku cintai? Apakah aku salah bila mengharapkan cinta dari kamu?" lanjut Arthan.


Ruby hanya diam mendengarkan curahan hati Arthan.


"Aku seneng denger kamu sudah suka sama aku, aku bahagia banget. Tapi semua itu harus aku kubur karena kamu sudah benci sama aku."


"Aku mohon sama kamu, aku minta maaf." lanjut Arthan.


Perlahan tangan Arthan mengambil tangan Ruby dari pangkuan Ruby.


Cup.


"Aku takut sama kamu, aku takut waktu lihat kamu kemaren. Aku takut kalau suatu saat tiba-tiba kamu jadi menyeramkan seperti kemarin." balas Ruby yang memang beneran takut dengan Arthan.


"Aku janji gak akan seperti itu lagi di hadapan kamu."


"Tapi tidak dengan di belakang kamu." lanjut Arthan dalam hatinya.


"Aku tidak yakin dengan ucapan kamu. Terlebih lagi apa yang kamu lakukan itu juga sangat membahayakan buat orang orang di sekeliling kamu. Apakah kamu tidak berfikir kalau suatu saat seseorang terdekat dari orang yang kamu bunuh itu balas dendam sama kamu melalui orang orang terdekat kamu?"


"Iya aku tahu itu, kamu harus percaya sama aku. Kalau memang nanti musuh musuh ku menargetkan kamu untuk balas dendam sama aku, maka aku akan berusaha melindungi kamu semampu aku. Bahkan nyawa ku sendiri taruhannya." balas Arthan meyakinkan Ruby.


"Aku mohon sama kamu, kamu mau ya hidup sama aku, aku akan berusaha melakukan apapun untuk kamu agar kamu bisa hidup bahagia." lanjut Arthan memohon pada Ruby.


Ruby diam, dia menimang apakah dia harus menerima hidup bersama Arthan atau tidak.


"Gimana mau ya?" mohon Arthan.


"Baiklah, untuk kali ini aku terima kamu dan aku pegang semua ucapan kamu. Kalau sampai nanti kamu bohong, aku yang akan pergi dari kamu." keputusan yang Ruby berikan kepada Arthan.


"Makasih sayang, aku cinta banget sama kamu."


Cup.


Lagi, Arthan mencium punggung tangan Ruby sebagai ungkapan rasa sayangnya.


"Nanti aku kenalkan kamu ke kedua orang tuaku." ucap Arthan membuat kening Ruby mengerut bingung.


"Bukannya kamu gak punya keluarga?" tanya Ruby heran.


"Kata siapa, aku punya keluarga kok, bahkan aku punya saudara kembar." balas Arthan.


"Seriusan?" tak percaya Ruby.


"Iya sayang, pasti kalau kamu tahu siapa keluarga aku kamu bakalan syok dan tidak percaya."


"Emang siapa keluarga kamu?" penasaran Ruby.


"Umi sama Abi."


"Hah, Abi Umar sama Umi Fatimah?"


"Iya mereka berdua orang tua kandung aku." jawab Arthan meyakinkan.


"Kalau mereka berdua orang tua kandung kamu, lalu Aretha...."


"Iya, dia saudara kembar aku." balas Arthan memotong ucapan Ruby.


"Kok bisa?"


"Ya bisa dong, jadi ceritanya tuh...." Arthan menceritakan semuanya mulai dari awal di mana dia di culik oleh seseorang waktu bayi hingga sampai keluarganya mengetahui keberadaan bahwa Arthan adalah anak Abi Umar dan Umi Fatimah.


"Pantesan aku pertama lihat wajah kamu tuh kayak gak asing." Ruby menanggapi cerita Arthan.


"Jadi mulai sekarang kamu milik aku, dan dalam waktu dekat ini aku akan menghalalkan kamu." ucap Arthan sangat yakin.


"Yakin banget kalau aku mau nikah sama kamu."


"Ya harus yakin lah, kalau kamu gak mau ya tinggal aku seret ke KUA." balas Arthan.


"Ehh iya, aku ada sesuatu buat kamu." ucap Arthan dan menggambil beberapa kantong belanjaan yang ada di jok belakang mobilnya.


"Ini apa?" tanya Ruby menerima pemberian Arthan.


"Ini semua buat kamu, buka aja siapa tahu kamu suka." jawab Arthan.


Dengan penasaran Ruby membuka satu persatu kantong belanjaan yang dia terima.


"Ini...." tak menyangka Ruby setelah melihat apa yang ada di dalam kantong belanjaan itu.


"Gimana suka gak?" tanya Arthan.


"Kenapa kamu beli sebanyak ini sih?"


"Ya tadi aku ambil aja semua yang kamu sentuh, aku tahu sebenarnya kamu tadi waktu di toko mau beli gamis gamis itu, tapi karena harganya yang mahal kamu tidak jadi membelinya. Akhirnya aku suruh pelayan buat bungkus semuanya." jelas Arthan.


"Tapi kenapa harus semuanya sih, kan bisa satu atau dua aja."


"Gak papa, itu semua buat kamu. Lagian aku juga bingung mau buat apa uang yang aku punya."


Ya Arthan memberikan semua gamis yang dia beli di mall tadi buat Ruby, bukan hanya satu, dua atau tiga, melainkan ada sembilan set gamis beserta dengan kerudungnya. Beruntung banget bukan Ruby.


...***...