AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 128



"Astaghfirullah hallazim kalian kenapa?" tanya seorang nenek nenek yang sedang ingin mencari pasir di sungai.


"Nek tolongin kita nek, ini calon istri saya sudah tidak sadarkan diri." mohon Arthan pada sang nenek yang menghampiri mereka berdua.


"Kek, kakek, cepat ke sini. Ada orang yang perlu bantuan." teriak nenek itu memanggil kakek yang sepertinya suaminya.


"Ada apa nek, kenapa teriak teriak?" tanya sang kakek yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Astaghfirullah hallazim, ini kenapa?" tanya sang kakek setelah melihat keadaan Arthan dan juga Ruby.


"Kita berdua habis kecelakaan kek, nek, dan terbawa arus sungai sampai ke daerah sini." jelas Arthan.


"Ya udah ayo pergi ke rumah kakek saja, kasian dia perlu tempat untuk istirahat." ajak sang kakek dan di setujui oleh sang nenek.


"Iya kek, nek, terimakasih karena sudah mau menolong Arthan." ucap Arthan.


"Itu memang tugas kami, ayo cepat biar kakek bantu kamu gendong dia." tawar sang kakek dan di angguki Arthan.


Karena tubuh Arthan juga sudah mulai berkurang tenaganya, makanya Arthan menerima tawaran sang kakek untuk membawa Ruby ke rumah mereka.


Sampai di rumah sang kakek dan nenek, Arthan memandangi rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Rumah kakek dan nenek ini sangat jauh dari perkampungan warga, sehingga aman buat Arthan untuk sembunyi di sana selama beberapa saat.


"Ini kamu minum dulu, supaya tubuh kamu segar." ucap sang nenek memberikan satu cangkir jahe hangat buat Arthan.


"Terimakasih nek, maaf sudah merepotkan kalian." ucap Arthan merasa tidak enak.


"Enggak kok, malah kakek sama nenek senang kalau kalian ada di sini, jadi ada teman buat kita ngobrol." balas sang kakek.


"Oh iya sedari tadi kita belum kenalan. Perkenalkan nama aku Arthan dan ini calon istri aku Ruby." ucap Arthan memperkenalkan dirinya dan Ruby yang sudah dia cap sebagai calon istrinya.


"Nama kakek, kakek Rahman, dan nama nenek, nenek Rahma." balas sang kakek yang ternyata bernama Rahman.


"Salam kenal kek nek, Arthan harap kalian gak ada yang ngasih tahu warga yang lain perihal keberadaan Arthan dan Ruby sekarang." mohon Arthan.


"Kenapa nek, bukannya bagus kalau warga sekitar tahu. Biar bisa bantu kalian pulang, soalnya kakek sama nenek gak bisa antar kalian pulang karena kami tidak ada uang cukup buat pergi ke kota." heran kakek Rahman.


Arthan pun menceritakan alasannya kenapa dia tidak mau banyak orang yang tahu keberadaannya.


"Ya Allah nak, kenapa ada orang sejahat itu. Baiklah kalau seperti itu, nenek sama kakek akan jaga kalian di sini sampai kalian berdua sehat seperti sebelumnya."


"Terimakasih nek, kek, maaf Arthan sama Ruby sudah merepotkan kalian."


"Tidak nak, kalian tidak merepotkan kita berdua kok." balas sang nenek yang sekarang tengah mengompres kening Ruby yang ternyata suhu tubuhnya naik.


"Iya nek, sekali lagi terimakasih." ungkap Arthan berterima kasih ke sekian kalinya pada nenek Rahma dan kakek Rahman.


"Iya nak, sama sama." balas kakek dan nenek.


Di sana Arthan juga di berikan makanan serta minuman. Kondisi tubuh Arthan juga sekarang sudah mulai membaik. Begitu juga dengan suhu panas di tubuh Ruby yang sudah mulai berkurang.


Hingga jam tujuh malam lebih sedikit jari Ruby mulai bergerak yang menandakan kalau Ruby akan segera sadar.


"Sayang...." pangil Arthan saat melihat kelopak mata Ruby mulai terbuka.


"Mi,minu-m." ucap Ruby terbata bata.


"Tunggu sebentar ya aku ambilin." Arthan pergi ke dapur untuk mengambil minum buat Ruby.


"Ayo aku bantu." Arthan membantu Ruby untuk duduk setelah itu dia juga membantu Ruby buat minum.


"Kamu istirahat lagi ya, biar badan kamu cepat sehat." suruh Arthan dan membaringkan tubuh Ruby.


"Ya udah kamu tidur lagi aja, biar nanti waktu bangun badan kamu lebih segar." perintah Arthan.


"Kita di mana?" tanya Ruby yang sedari tadi bingung melihat tempat yang sangat asing buatku dia.


"Kita ada di rumah kakek Rahman sama nenek Rahma, mereka berdua tadi sudah nolongin aku waktu aku hampir kehabisan tenaga." jawab Arthan.


"Terus sekarang mereka di mana?" tanya Ruby.


Suara Ruby masih belum terlalu terdengar oleh telinga, sehingga Arthan harus menajamkan pendengarannya agar bisa mendengarkan apa yang Ruby katakan.


"Mereka tadi pamit sholat isya', mungkin habis ini mereka kembali." jawab Arthan.


"Aku udah lama ya pingsannya?" tanya Ruby penasaran.


Pasalnya seingat Ruby sebelum dia pingsan itu matahari masih bersinar, dan sekarang sudah berganti dengan rembulan malam yang bentuknya sangat sempurna terlihat dari jendela.


"Enggak kok, kamu cuma pingsan dari pagi sampai malam aja." balas Arthan yang memang benar adanya.


"Itu mah lama." balas Ruby.


"Mau lama ataupun sebentar, bagi aku itu tidak lama karena kamu ada di samping aku." gombal Arthan.


"Halah gombal." balas Ruby.


"Ada yang sakit gak?" tanya Arthan mengalihkan pembicaraan.


"Enggak ada, cuma kepalaku aja yang masih terasa pusing." jawab Ruby.


"Kamu mau makan ya, biar perut kamu terisi. Terus nanti minum obat sakit kepala biar sakitnya mendingan." bujuk Arthan.


"Emang kita gak bisa pulang ya?" tanya Ruby.


"Untuk sementara belum bisa, kita tinggal di sini saja untuk sementara waktu. Kamu tahu kan apa yang terjadi sebelum kita kecelakaan?" tanya Arthan dan di angguki Ruby.


"Nah, makanya itu. Jadi untuk sementara waktu kita tinggal di sini dulu, lagian kakek sama nenek juga udah setuju."


"Apakah benar tidak apa apa, aku takut merepotkan mereka?"


"Tidak apa apa nak, kita malah senang kalau kalian ada di sini, jadi rame rumah kami." ucap kakek Rahman yang baru saja datang dari musholla yang tempatnya sangat jauh dari rumah Kakek Rahman.


"Kakek sama nenek udah selesai sholatnya?" tanya Arthan.


"Sudah nak, sana gih kamu sholat dulu. Biar nak Ruby nenek sama kakek yang jaga." suruh nenek Rahma.


"Iya nek. Sayang aku sholat dulu ya." pamit Arthan dan di angguki oleh Ruby.


Setelah kepergian Arthan, nenek Rahma dan kakek Rahman menghampiri Ruby dan duduk di samping Ruby. Ruby ingin bagun tapi sama nenek Rahma di larang, alhasil Ruby tetap dengan posisi tiduran.


"Bagiamana keadaan kamu, maaf ya tempatnya pasti kurang nyaman buat kamu." ucap nenek Rahma merapikan rambut Ruby yang ke depan.


"Keadaan Ruby sudah baik nek, enggak kok Ruby malah nyaman tinggal di sini." balas Ruby.


"Apakah Arthan sudah mengambilkan makanan buat kamu?" tanya kakek Rahman.


"Pasti belum ya, biar kakek ambilkan." kakek Rahman pun pergi ke dapur untuk mengambilkan Ruby makan.


...***...