AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 127



"Kamu kenapa?" panik Arthan melihat Ruby yang memegang kepalanya.


"Auwss... kepalaku pusing." ringis Ruby.


"Kamu harus bertahan ya, tahan sampai kita menemukan bantuan." mohon Arthan.


"Auw, sakit banget." Ruby jongkok dan kedua tangannya memegang kepalanya.


"Sayang, tahan. Plis aku mohon."


Sayang sayang, hei buka mata kamu." Arthan panik, saat Ruby tiba tiba memejamkan matanya.


"TOLONG, TOLONG." Teriak Arthan meminta tolong.


Arthan memangku kepala Ruby di pahanya, sambil tangannya menepuk pipi Ruby.


"Sayang kamu harus tahan ya, jangan tinggalin aku."


Arthan berusaha bangkit dan mengendong tubuh Ruby yang sedang tidak sadarkan diri.


Dengan terseok seok Arthan berjalan sambil menggendong Ruby ala bridal style. Melewati rumput yang tinggi tinggi. Arthan berharap segera menemukan pertolongan, agar dia bisa segera membawa Ruby ke tempat yang lebih aman.


-


Ghibran, Abi Umar dan juga Haikal sekarang tengah berada di pinggir sungai untuk mencari Arthan dan juga Ruby. Mereka sudah mengenakan pelampung untuk menaikki perahu karet.


"Gimana kamu sudah siap?" tanya Ghibran pada Haikal.


"Sudah kak." jawab Haikal.


"Ya sudah, ayo kita berangkat."


Mereka semua pun satu persatu mulai menaiki perahu karet yang berukuran besar. Dan mereka mulai berjalan menyusuri sungai untuk mencari Arthan dan Ruby.


Perahu karet terus berlayar mengikuti arus sungai yang begitu deras. Sampai suara Haikal membuat orang orang melihat ke arah yang Haikal tunjuk.


"Kak, kak, itu bukannya mobil ya." ucap Haikal sambil menunjuk sebuah mobil yang menyangkut di ranting pohon yang tumbang.


"Benar itu badan mobil, ayo kita ke sana." timpal salah satu dari tim sar yang ikut satu perahu karet dengan Ghibran.


Mereka pun mendekati mobil itu hingga sampai di sana barulah Ghibran dan Abi Umar mengenali mobil itu.


"Ini mobil Arthan." ucap Abi Umar.


"Benar bi, ini mobil bang Arthan, plat nomornya sama." timpal Ghibran.


"Hubungi tim yang lain dan suruh segera ke sini." perintah dari orang yang posisinya lebih tinggi pangkatnya dari yang lain di anggota tim sar yang satu perahu dengan Ghibran.


Mereka pun segera menyuruh yang lainnya buat menyusul ke tempat mereka, untuk mengamankan mobil milik korban.


"Terus kalau ini mobilnya kak Arthan, kak Arthan sama kak Ruby nya mana?" tanya Haikal yang sedari tadi memandangi mobil Arthan dan tak menemukan Ruby dan Arthan di belakangnya.


"Kemungkinan besar kedua korban hanyut karena arus air yang sangat besar di sungai ini." balas tim sar.


"Jangan sedih oke, kita berdoa dan percayakan semua sama Allah, semoga saja kak Arthan sama kak Ruby tidak apa apa." ucap Ghibran menenangkan Haikal.


"Iya kak." balas Haikal.


"Abi juga, jangan sedih. Doain aja bang Arthan sama Ruby semoga baik baik saja." ucap Ghibran pada Abi Umar.


"Iya, semoga saja mereka sekarang sudah tidak berada dalam air lagi. Semoga mereka sudah di temukan oleh orang baik yang dengan lapang dada membantu mereka." doa Abi Umar.


"Aamiin...." balas Ghibran dan Haikal kompak.


"Bagiamana?" tanya Pak Harto ketua tim sar.


"Tidak ada kapten, di dalam mobil tidak ada apa apa. Hanya ada bangkai mobil ini saja." jawab seseorang yang baru saja kembali ke permukaan setelah menyelam.


"Amankah mobil ini, dan kita mulai pencarian korban dari sini." perintah pak Harto.


"Baik kapten." balas anggota tim sar dengan kompak.


"Apakah tuan tuan ingin kembali ke daratan, biar kita saja yang melanjutkan pencarian ini?" tanya pak Harto.


"Ya udah pak, kita kembali saja." putus Abi Umar dan di angguki oleh Ghibran.


"Haikal gak mau kak, Haikal mau mencari kak Ruby." tolak Haikal saat mereka ingin mengajak Haikal kembali ke daratan.


"Haikal dengerin kakak ya, kita harus kembali, biarkan para bapak bapak tim sar saja yang melanjutkan pencarian. Arus sungainya sangat deras, ini sangat bahaya buat kita yang tidak jago berenang." bujuk Ghibran.


"Tapi kak...."


"Kita pulang aja ya, pasti kak Ruby akan sedih kalau tahu Haikal seperti ini." Abi Umar ikutan membujuk Haikal.


"Kita pulang ya...." ajak Ghibran dan akhirnya mendapatkan anggukan dari Haikal.


Mereka pun segera kembali ke daratan dan akan mencari dengan menyusuri pinggiran sungai saja, karena Haikal yang tetap kekeh tak mau pulang dan ingin tetap mencari Ruby.


-


Sementara itu, di tempat psikopat. Dia tengah marah marah karena anak buahnya gak ada yang berhasil menemukan Arthan. Apalagi setelah dia mendengar kalau mobil Arthan sudah di temukan, tapi tidak ada Arthan di dalamnya. Hal itu semakin membuat dia marah pada anak buahnya.


"Kalian bodoh, masak cari satu orang aja kalian gak bisa. Silahkan kalian pilih sendiri, mau di tembak atau langsung saya buang ke lautan hiu?" marah psikopat mengancam anak buahnya.


"Ampuh tuan, jangan bunuh kami. Kasian keluarga kami yang ada di rumah tuan." mohon mereka agar tidak di bunuh oleh orang psikopat itu.


"Kalian sudah membunuh calon bos kalian, maka kalian juga harus mati seperti dia. Nyawa di balas dengan nyawa."


"Kami mohon tuan, ampuni kami." mohon mereka.


Cepat kalian pilih, mau saya tembakan sekarang atau saya buang kalian di lautan hiu?" suruh Psikopat.


Diam, mereka diam tak ada yang menjawab satu pun. Toh mereka kalau memilih akhirnya akan sama saja, yaitu mati.


"Karena kalian diam saja, saya anggap kalian memilih keduanya." lanjut Psikopat itu.


Dia pun mengeluarkan pistol dari dalam jubahnya dan mengarahkan ke arah beberapa anak buahnya.


"Selamat tinggal, sampai jumpa di neraka." ucap psikopat itu dengan nada yang menyeramkan.


Dor dor dor....


Tembakan psikopat itu layangkan ke tubuh orang orang yang ada di hadapannya. Banyak yang langsung mati seketika, tapi ada juga yang masih mengerang kesakitan.


Setelah itu dia memanggil beberapa anak buahnya yang berjaga di luar untuk membereskan semua mayat mayat yang ada di sana termasuk juga orang orang yang masih mengerang kesakitan.


"Buang mereka ke lautan hiu di pulau ku. Dan mereka juga yang masih hidup buang ke sana, supaya bisa melihat bagaimana temannya yang sudah mati menjadi santapan hiu hiu yang sedang kelaparan sebelum giliran mereka yang di santap." perintah psikopat itu pada anak buahnya yang lain.


"Baik tuan." mereka segera menjalankan perintah psikopat itu.


Meskipun mereka sebenarnya juga tidak tega membuang mayat teman teman mereka ke lautan hiu, tapi mereka juga takut kalau mereka yang malah akan terkena amukan juga karena tidak menjalankan perintah. Alhasil mereka pun memilih membuang teman teman mereka ke lautan hiu.


...***...