AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 140



Pagi ini cuaca sangat dingin, di tambah lagi gerimis yang turun ke bumi membuat orang orang malas untuk beraktivitas. Tak terkecuali Aretha, dia masih bergelung di bawah selimut nah tebal. Padahal tadi subuh dia sudah bangun untuk melaksanakan sholat subuh, ehh sekarang malah tidur lagi.


"Sayang, bangun yuk. Udah siang nih." ucap Ghibran membangunkan Aretha.


"Bentar mas, dingin." balas Aretha semakin mengeratkan selimut yang ada di tubuhnya.


"Iya mas tahu makanya kamu harus bangun, ini mas sudah membuatkan susu hangat buat kamu. Di minum gih, biar anget badannya." suruh Ghibran tapi Aretha sama sekali tak mau membuka selimut yang ada di tubuhnya.


Jangankan selimut, matanya saja masih terpejam dengan rapat.


"Hei, ayo loh bangun. Nanti susunya keburu dingin loh." suruh Ghibran.


"Bentar mas."


"Hufft... ya udah mas tinggal ke luar dulu ya, nanti jangan lupa susunya di minum." ucap Ghibran dan akan beranjak pergi, tapi langsung di tahan oleh Aretha.


"Tunggu, kamu mau kemana?" tanya Aretha dengan mata menyipit dan suara serak khas bangun tidur.


"Aku mau ke cafe sebentar ya, nanti aku pulangnya gak sampai sore kok." pamit Ghibran.


Tadi pagi banget, Ghibran mendapatkan telfon dari Adam yang mengabarkan hari ini ada klein yang ingin bertemu dengan Ghibran, jadi Ghibran dengan berat hati pun akan meninggalkan istrinya di rumah.


"Terus aku sama siapa?" rajuk Aretha.


"Kan di rumah nanti ada Ruby sama Umi juga, jadi mas boleh ya pergi."


"Ya udah deh, tapi janji ya gak sampai sore."


"Iya sayang ku, di minum gih susunya." Ghibran pun menyempatkan menyuruh Aretha meminum susunya, karena Aretha suka lupa kalau untuk minum susu.


"Dah, mas pergi dulu ya, assalamualaikum."


Cup.


Tak lupa Ghibran memberikan kecupan di kening Aretha, dan Aretha juga membalasnya dengan mencium punggung tangan Ghibran.


Setelah kepergian Ghibran, Aretha pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum nanti dia akan memulai aktivitasnya.


-


"Baik bos." balas mereka.


Mereka pun langsung berpencar untuk mendapatkan Arthan.


"Dan kamu, bawa minuman saya ke sini." suruh nya lagi pada anak buahnya yang berjaga di sana.


"Baik bos."


Setelah minumannya datang, psikopat itu langsung meminumnya. Anak buahnya yang melihat itu pun meneguk ludahnya kasar. Bagaimana tidak, minuman yang bos nya minum itu bukan minuman biasa, melainkan adalah darah manusia yang baru tadi pagi dia bunuh.


"Aaahhh... segarnya, udah lama gak minum ini." seru psikopat itu setelah menghabiskan satu gelas darah segar manusia.


"Coba saja setiap hari ada minuman seperti ini, pasti hidup ku akan terus bahagia. Hahahaha...." tawa psikopat itu yang membuat bulu kuduk anak buahnya merinding.


-


Sedangkan orang psikopat itu cari saat ini tengah bersiap dengan kemeja putih dan kopiah hitam serta sarung BHS yang melilit rapi di pinggangnya.


Ya, Arthan sudah bersiap dia hari ini sama Abi Umar akan beneran di nikahkan dengan Ruby. Meskipun Ruby tadi sempat gak percaya dan ingin menolak karena menurutnya ini sangatlah mendadak. Tapi Abi Umar tak menerima bantahan ataupun penolakan, alhasil sekarang mereka akan langsung melakukan ijab Kabul di rumah Ghibran.


"Duh anak Umi sudah besar semuanya ternyata." ucap Umi Fatimah saat memasuki kamar Arthan.


"Umi." ucap Arthan, Arthan berjalan menghampiri Umi Fatimah dan langsung berjongkok mencium kaki Umi Fatimah.


"Umi Arthan minta maaf kalau selama ini Arthan belum bisa membahagiakan Umi. Arthan minta doa dan restu Umi untuk menikahi Ruby." ucap Arthan sambil menangis di kaki Umi Fatimah.


"Bangun nak, kamu tidak harus melakukan ini. Umi selalu mendoakan kebahagiaan anak anak Umi. Umi titip Ruby sama kamu ya, jaga dia dan bahagiakan dia." Umi Fatimah menarik Arthan agar berdiri.


"Insyaallah Umi, Arthan akan berusaha untuk membahagiakan Ruby." balas Arthan.


Umi Fatimah menghapus air mata Arthan dia mengamati wajah anaknya yang ternyata sudah besar. Perasaan baru kemarin dia menangis atas kepergian Arthan.


"Hari ini hari bahagia kalian, jadi kamu jangan menangis lagi ya. Yuk kita ke bawah, acaranya sudah mau di mulai." ajak Umi Fatimah dan di angguki oleh Arthan.


Dengan hati dag dig dug Arthan pergi untuk melakukan ijab kabul di gandeng Umi Fatimah.


...***...