AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 63



Pagi hari pun tiba, Aretha dan yang lainnya sudah selesai sarapan. Mereka semua tengah menunggu kedatangan Wahyu dan Nafisah ke pesantren untuk menyelesaikan masalah yang semalam.


"Kek bisakah kita bicara sebentar?" pinta Ghibran menghambat Kiyai Mahfudz yang tengah berada di ruang tamu.


"Ayo kita ke ruangan kakek kita bicara di sana." ajak Kiyai Mahfudz yang mengerti kalau cucu menantunya ini akan berbicara serius.


"Aku ikut kakek bentar ya." izin Ghibran pada Aretha dan mendapatkan anggukan dari Aretha.


Ghibran pun berjalan mengikuti langkah Kiyai Mahfudz yang sudah pergi lebih dulu ke ruangan yang hanya orang tertentu saja yang bisa masuk.


"Assalamualaikum kek." sapa Ghibran saat memasuki ruangan itu.


"Waalaikum salam, ayo duduk sini." balas kiyai Mahfudz mempersilahkan Ghibran duduk di hadapannya.


Ghibran pun berjalan menuju tempat duduk yang sudah tersedia di sana, dia duduk berhadapan dengan Kiyai Mahfudz yang sudah duduk terlebih dahulu.


"Kamu mau berbicara apa, apakah tentang masalah semalam?" tanya Kiyai Mahfudz.


"Bukan kek, karena saya anggap itu tidak penting toh saya juga tidak merasa melakukan hal itu. Tapi masalah yang akan saya bicarakan ini bisa juga menyangkut masalah yang saya hadapi semalam." jawab Ghibran.


"Ya udah kamu jelaskan pelan pelan saja, tidak usah takut sama Kakek." balas Kiyai Mahfudz mempersilahkan Ghibran untuk memulai obrolannya.


"Sebelumnya Ghibran mau tanya dulu kek, apakah istri Ghibran Aretha punya saudara kembar?" tanya Ghibran serius.


Deg.


Kaget Kiyai Mahfudz, dia jadi bertanya tanya siapa kan orang yang sudah memberi tahu Ghibran perihal masalah ini.


"Kek!" pangil Ghibran karena Kiyai Mahfudz hanya diam saja.


"Hah, apa tadi kamu bilang?" tanya Kiyai Mahfudz untuk mastikan, siapa tahukan kalau dia salah dengar.


"Begini kek, Ghibran tanya apakah Aretha punya saudara kembar?" ulang Ghibran lagi.


"Dari mana kamu bisa berfikiran seperti itu?" balik tanya Kiyai Mahfudz.


"Ada seseorang yang bilang seperti itu sama Ghibran." jawab Ghibran.


"Ya, seperti yang kamu tanyakan. Aretha memang punya saudara kembar laki-laki dan dia sekarang sudah pergi dengan tenang." jelas Kiyai Mahfudz dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.


"Enggak kek, dia masih ada dia belum meninggal." bantah Ghibran.


"Maksud kamu apa, saudara Aretha memang sudah meninggal dari mana sampai kamu beranggapan kalau dia belum meninggal?" tanya Kiyai Mahfudz tidak percaya.


"Aku sendiri sudah melihatnya kek, bahkan dia ada di sekitar kita." balas Ghibran.


"Siapa?"


"Nanti kakek juga akan tahu, tapi kakek jangan heboh nanti Aretha bisa tahu dan syok. Dan kakek juga jangan bilang hal ini pada nenek karena ini masih rahasia, demi keamanan keluarga anak Kakek."


"Baiklah nanti kakek akan pura pura tidak tahu. Tapi seriusan apa yang kamu bilang barusan?" tanya Kakek Mahfudz lagi masih belum percaya.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih karena engkau telah menyelamatkan cucuku yang satunya." syukur Kiyai Mahfudz, bahkan dia sampai sujud syukur saat itu juga karena saking senangnya.


Cucu yang dia selama ini anggap tidak ada ternyata sudah tumbuh menjadi pria remaja. Bahkan mungkin saja besar tubuhnya hampir sama dengan Ghibran.


"Ya udah yuk kek kita ke depan, takut nanti Wahyu sama istrinya sudah datang." ajak Ghibran.


"Ayo." balas Kiyai Mahfudz dengan semangat. Dia sudah tidak sabar ingin ketemu cucunya yang satunya lagi, meskipun nanti dia tidak bisa berterus terang dalam menyambut cucunya.


Mereka berdua pun pergi menuju ruang tamu yang sudah ramai akan orang yang menunggu penjelasan perihal masalah semalam. Bahkan ada perwakilan dari para santri agar nanti dia bisa menjelaskan kepada yang lainnya keaslian masalah ini.


Saat sampai di ruang tamu, ternyata di sana sudah ramai akan orang, Wahyu dan Nafisah pun sudah datang di sana. Terlihat Nafisah yang begitu erat memeluk lengan Wahyu karena takut kepada semua orang.


"Karena semua orang sudah berkumpul di sini, mari kita mulai acara ini. Kita buka dengan bacaan basmalah bersama-sama agar acara dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya perselisihan di antara kita." ucap ustadz Suaib sebagai pembuka acara.


"Mari nak Ghibran silahkan di jelaskan kronologinya semalam, nanti bergantian dengan nak Nafisah." Suruh ustadz Suaib pada Ghibran.


Ghibran pun mulai menjelaskan mulai awal sampai akhir tanpa ada yang membantah satu pun termasuk Nafisah. Semua orang fokus mendengarkan cerita Ghibran mulai dari awal sampai akhir.


"Baik sekarang gantian nak Nafisah silahkan di jelaskan kronologinya dari sudut nak Nafisah. Tidak usah takut, karena di sini ada banyak orang." ucap ustadz Suaib melempar pertanyaan pada Nafisah.


Nafisah pun menjelaskan juga semua tentang semalam tapi itu bertentangan dengan Ghibran sehingga membuat orang orang bingung. Mana yang benar dan mana yang salah.


Ghibran pun hanya bersikap biasa saja toh dia tidak merasa melakukan hal itu jadi buat apa panik. Semalam dia marah itu karena istrinya yang menangis, ehh taunya istri cantiknya itu hanya bohong.


"Baik kita semua sudah mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak, dan penjelasan itu sangat berbeda seratus delapan puluh derajat di antara keduanya. Kami sebagai pendengar pun bingung mana yang benar dan mana yang salah." ucap ustadz Suaib mewakili perasaan bingung yang lainnya.


"Ghibran yang bohong ustadz, saya mana berani berbohong. Lagian juga buat apa saya berbohong untuk hal semacam ini." ucap Nafisah membela dirinya sendiri.


"Benarkah itu nak Ghibran?" tanya ustadz Suaib pada Ghibran.


"Kalau saya bilang tidak apakah kalian percaya?" balik tanya Ghibran dan mendapatkan gelengan dari orang orang.


"Maka dari tu, kita tunggu saja barang buktinya agar lebih jelas toh capek juga ngomong panjang lebar kalau ujung ujungnya tidak ada yang percaya." lanjut Ghibran tenang.


Nafisah yang mendengar kalau ada barang bukti pun mengeluarkan keringat dingin di tubuhnya. Dia takut kalau sampai semuanya terbongkar nanti bisa malu dirinya. Apalagi kalau sampai Wahyu yang tahu, bisa kena masalah dirinya nanti.


"Barang bukti apa lagi sih yang mau kamu tunjukkan Ghibran, sudah jelas jelas kemaren malam kita pulang bersama. Saksinya juga banyak." sahut Nafisah agar semua orang tidak percaya pada Ghibran.


"Entahlah aku juga tidak tahu, biar orangnya saja yang menjelaskan nanti." balas Ghibran acuh.


"Orang siap....a...sih?" tanya Nafisah tapi tak melanjutkan ucapannya saat melihat seorang laki-laki yang sudah berdiri di tengah pintu masuk.


"Assalamualaikum." Salam orang itu.


"Waalaikum salam." balas mereka semua.


...***...