AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 118



"Ruby...." pangil Aretha dan langsung memeluk tubuh Ruby dengan erat.


"Lo kemana aja dari kemaren gw hubungi kok gk di angkat angkat, gw khawatir tauk." ucap Aretha.


"Sorry, kemaren gw ada urusan jadi gak bisa datang." balas Ruby sambil melirik Arthan yang berada di belakang Ghibran sebentar.


Arthan yang di lirik pun mengalihkan pandangannya, dia terlalu takut untuk bertatap muka dengan Ruby.


"Gw takut banget kalau sampai lo kenapa kenapa, apalagi lo gak ada kabar dari pagi."


"Sorry udah bikin kalian khawatir, tapi gw gak papa kok."


Aretha melerai pelukannya dan menatap wajah Ruby.


"Pokoknya nanti kalau ada apa-apa lo harus kasih tau gw, lo tahu kan kalau lo itu sahabat satu satunya yang gw punya."


"Iya Aretha ku sayang, nanti kalau gw butuh apa apa gw bakal kasih tahu Lo." balas Ruby.


"Ya udah yuk kita jalan, kan kita udah lama gak pergi jalan jalan bareng." ajak Aretha menoleh pada Ghibran dan Arthan seolah mengajaknya.


"Sorry gw gak bisa ikut, gw kan harus kerja." tolak Ruby dengan alasan pekerjaan, padahal mah biasanya dia kalau mau jalan ya tinggal izin sama Aretha. Apalagi ini yang ngajak Aretha langsung.


"Gw gak terima penolakan, udah ayo berangkat." ajak Aretha menyeret tangan Ruby keluar dari dapur.


Ruby pasrah, dia tak bisa lagi mengelak kalau Aretha sudah memaksanya seperti ini.


Sebelum pergi Ruby meminta izin untuk berganti pakaiannya dulu, dari seragam toko menjadi pakaian santai yang tadi dia pakai untuk berangkat ke toko.


"Ret gw ikut mobil suami lo ya." pinta Ruby.


"Enggak bisa, kamu satu mobil sama aku." sela Arthan sebelum Aretha menjawab.


"Plis ya Ret, gw ikut Lo." mohon Ruby tak menghiraukan Arthan.


"Emang kenapa sih lo kok gak mau sama bang Arthan?" tanya Aretha.


"Ya kan lo tahu, kalau kita berdua itu bukan mahram." alibili Ruby.


"Iya juga sih, tapi kan biasanya juga kalian selalu satu mobil barengan?" Aretha menatap Ruby dengan curiga.


"Kalian ada masalah ya?" lanjut Aretha curiga.


"Enggak kok, kita baik baik aja. Cuma gw udah sadar kalau gw sama Arthan tuh bukan mahram jadi gak boleh berduaan dalam mobil." kilah Ruby.


"Baguslah kalau lo udah sadar, ya udah ayo masuk." ajak Aretha dan masuk ke dalam mobil setelah pintu mobil di bukakan oleh Ghibran.


"Ya udah kalau gitu gw ikut mobil kalian aja." ucap Arthan dan masuk ke dalam mobil Ghibran, duduk di samping Ruby.


"Terus mobil bang Arthan gimana?" tanya Aretha.


"Nanti orang gw yang ngurus." balas Arthan santai.


"Jadi berangkat gak nih?" tanya Ghibran karena sedari tadi mereka bertiga ribut mulu.


"Jadi/tunggu." ucap Arthan, Aretha dan Ruby.


"Eemmm... gw bawa motor sendiri aja deh." ucap Ruby dan akan keluar dari mobil Ghibran tapi tangannya langsung di cekal oleh Arthan.


"Lo kenapa sih By?" tanya Aretha semakin curiga.


" Udah diam di sini, kalau kamu gak mau duduk sama aku biar aku yang bawa mobil sendiri." setelah mengucapkan itu Arthan langsung keluar dari mobil Ghibran dan masuk ke dalam mobilnya.


Seketika air mata Ruby jatuh tanpa dia suruh.


"Lo kenapa sih? Kalian berdua ada masalah ya?" tanya Aretha dan di balas gelengan kepala oleh Ruby.


"Udah yang, nanti Ruby makin sedih. Ini kita jadinya mau kemana?" tanya Ghibran.


"Ke mall aja." jawab Aretha masih dengan menatap Ruby yang saat ini tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aagrr...." Arthan memukul kemudi untuk melampiaskan kemarahannya.


-


"Permisi bos." sapa seorang laki laki bertubuh kekar kepada seseorang yang memakai jubah yang duduk membelakangi laki laki itu.


"Katakan." ucap orang berjubah itu datar.


"Tuan Arthan dan nona Aretha lagi dalam perjalanan menuju mall." lapor laki laki itu.


"Buat Arthan terluka dan bawa dia ke sini."


"Baik bos."


laki laki itu pun segera pergi dan akan menjalankan perintah dari atasannya.


Seseorang di balik jubah itu pun menarik sebelah bibirnya ke atas hingga menampilkan senyum yang mengerikan bagi yang melihatnya. Apalagi matanya yang memerah, menambah kesan seram pada wajahnya.


"Sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini, Hahahaha...." tawa menggelegar orang itu, sambil tangannya menyalakan satu batang rokok dan di biarkan berada di antara jari telunjuk dan tengahnya hingga rokok itu habis.


-


Mereka sampai di mall dengan Ruby yang sudah terlihat membaik meskipun matanya agak sembab akibat menangis tadi.


Aretha tak lagi bertanya ada masalah apa antara sahabat dan kakaknya ini, biarlah nanti kalau Ruby sudah siap pasti dia akan cerita dengan sendirinya. Kalau di paksa takutnya Ruby nanti akan semakin sedih.


"Sebegitu terlukanya kah kamu hingga mata indahmu sembab seperti itu." batin Arthan yang melihat mata sembab Ruby.


"Yuk kita masuk." ajak Aretha.


Aretha menggandeng tangan Ruby bukan tangan Ghibran. Ghibran berjalan di belakang Aretha bersama dengan Arthan. Sebenarnya Ghibran mau protes, tapi nanti yang ada malah dia yang kena semprot dari Aretha. Alhasil dia hanya diam saja dan mengikuti kemana tuan putri pergi.


"Kita cari gamis yuk." ajak Aretha pada Ruby dan di angguki oleh Ruby.


Mereka memasuki toko gamis, dia sana terpajang banyak gamis gamis bagus yang sangat menggiurkan untuk Aretha beli. Tapi ada satu gamis yang sangat menyita perhatian dari gamis gamis yang lainnya.


Yaitu gamis hitam dengan panjang sampai menutup mata kaki jika Aretha yang memakainya. Apalagi di pajangan patuh itu, patung baju itu juga di pakaikan kerudung dan niqob yang membuat Aretha semakin tertarik untuk membelinya.


"Kenapa, mau itu?" tanya Ghibran yang mengerti istrinya tertarik dengan pakaian di depannya.


"Boleh?" tanya Aretha.


"Ambillah kalau kamu mau." balas Ghibran yang langsung mendapatkan kecupan di pipi kirinya.


"Makasih babe." ucap Aretha dan langsung memanggil pelayan toko untuk mengambilkan barang yang dia inginkan.


"Sekalian sama niqob dan kerudungnya mbak." ucap Aretha saat pelayan itu ingin memisahkan niqob dan kerudung itu dari gamisnya.


"Kamu seriusan mau beli niqob?" tanya Ghibran di balas anggukan oleh Aretha.


"Semoga Istikomah sayang ku." bisik Ghibran di telinga Aretha yang membuat pipi Aretha bersemu mereka.


"Gak mau cari yang lain lagi mumpung masih ada di sini?" tanya Ghibran.


"Aku boleh beli lagi?" tanya Aretha.


"Boleh, apapun yang kamu mau ambil aja." jawab Ghibran.


Dengan cepat Aretha mencari gamis yang bagus dan pas di tubuhnya. Saking semangatnya, sampai dia lupa kalau sekarang dia tengah mengandung dua bayi di dalam perutnya.


Dan Ghibran dengan setia menemani istrinya kemanapun dia pergi.


Sedangkan Ruby, dia juga sibuk mencari gamis yang dia inginkan. Tapi setelah mendapatkan gamis yang menurutnya bagus dia tak jadi menggambilnya karena terhalang oleh harga yang sangat mahal.


Tapi semua itu ada dalam pantauan Arthan, jadi dengan cepat Arthan menyuruh pelayan untuk mengemas gamis yang habis Ruby sentuh dan menyuruh orangnya untuk membawa barang barang itu ke dalam mobil.


...***...