
"Wah ternyata istri ku jago juga kalau buat drama. Boleh tuh nanti di jadiin novel." gemas Ghibran setelah mendengarkan cerita Aretha.
"Gak mau ahh aku sibuk." Balas Aretha.
"Dih sibuk ngapain, orang biasanya juga cuman baca novel doang."
"Biarin yang penting happy."
"Tapi aku tetap sebal sama kamu." cemberut Aretha.
"Kesal kenapa hmm?" tanya Ghibran sambil merapikan anak rambut Aretha yang hampir menutupi wajah cantik Aretha.
"Ya aku sebel aja, kenapa kamu sampai buang gula kapas nya, padahal kan aku ingin banget memakannya. Apalagi tadi saat di foto sama Arthan." jawab Aretha membuat Ghibran menghembuskan nafasnya lega, dia kira tadi Aretha marah karena apa, ehh taunya hanya perkara gula kapas.
"Nanti ya kalau kita udah di Jakarta aku bakal ajak kamu beli gula kapas lagi yang lebih banyak biar sekalian gigi kamu ompong." canda Ghibran.
"Tuh kan kamu mulai ngeselin lagi."
"Loh masak aku salah lagi, kan tadi kamu minta gula kapas. Ya udah sebagai suami yang baik hati makanya aku mau beliin kamu banyak gula kapas." bela Ghibran.
"Tapi kan gak harus sampai gigi aku ompong. Nanti jadi jelek akunya." mengerucutkan bibirnya.
"Oouhh gemesnya, jadi pengen makan deh." gemas Ghibran mencubit pipi Aretha.
"Auw sakit tauk."
Cup Cup.
"Dah, udah gak sakit kan?" tanya Ghibran sambil tersenyum licik setelah mencuri ciuman Aretha lagi.
"Tauk ahh aku marah sama kamu." tiduran dan membalikkan tubuhnya membelakangi Ghibran.
"Loh kok marah, sayang jangan marah dong nanti dedek bayinya jadi sedih." goda Ghibran.
"Tuh kan kamu mulai lagi."
"Mulai apa sih sayang ku. Jangan marah dong nanti kalau kamu marah gak jadi aku beliin gula kapas lagi loh." goda Ghibran sambil mencolek dagu Aretha.
"Ghibran apaan sih." marah Aretha.
"Ooh oke oke, mau aku hukum gimana hmm?" tanya Ghibran dengan suara yang menyeramkan menurut Aretha.
Ghibran menarik tubuh Aretha hingga sekarang sudah menghadap ke arah Ghibran.
"Maaf aku gak sengaja." lirih Aretha takut dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ehh jangan nangis dong, iya iya kau maafin tapi jangan nangis ya." ucap Ghibran menenangkan Aretha sebelum mendung di mata Aretha berubah menjadi hujan.
"Hiks hiks aku cemburu tauk tadi sama kamu." jujur Aretha dan segera memeluk Ghibran dengan erat menyembunyikan wajahnya di dada Ghibran.
Ghibran pun mengubah posisinya menjadi tiduran seperti Aretha agar memudahkan Aretha yang tengah memeluknya.
"Ssttt udah ya jangan nangis." ucap Ghibran menenangkan Aretha.
"Tapi kamu jahat, kamu bikin aku cemburu hiks hiks hiks." tangis Aretha.
"Iya emang kenapa gak boleh gitu Hah?" sungut Aretha kesal masih dengan isak tangisnya.
"Iya iya maaf ya, udah jangan nangis."
"Tapi kalau orang cemburu itu bukannya tandanya cinta ya." goda Ghibran lagi setelah menenangkan Aretha.
Buk buk buk.
Aretha memukuli dada bidang Ghibran karena saking kesalnya dengan sikap mengesalkan Ghibran.
"Udah udah sakit tauk, maaf ya kalau aku buat kamu cemburu." menahan tangan Aretha.
"Hiks hiks hiks."
"Kenapa bisa cemburu sih, kan tadi katanya udah tahu kalau dia itu bohong, kenapa masih cemburu hmm?"
"Ya kamu pulang berdua sama dia yang tak lain masih mantan kamu dan dia juga pernah mengisi hati kamu. Istri mana coba yang tidak cemburu."
"Ouhh maaf ya, udah jangan nangis lagi udah malam." Ghibran menenangkan Aretha.
Aretha pun diam tapi masih dengan isak tangisnya. Ghibran mendekap tubuh Aretha dalam pelukannya sambil tangannya mengelus punggung serta rambut Aretha agar Aretha merasa nyaman dalam pelukannya. Sesekali Ghibran juga menciumi pucuk kepala Aretha. Aretha yang merasakan kenyamanan pun lama kelamaan tertidur dalam pelukannya.
Ghibran mengurai pelukannya dan melihat wajah Aretha yang sudah tertidur pulas masih dengan sisa air mata di pipinya. Dengan perhatian Ghibran menghapus air mata di pipi Aretha.
"Maaf ya sayang aku sudah bikin kamu menangis. Anang Ghibran juga sudah minta maaf karena sudah mengingkari janji Ghibran yang tidak akan membuat Aretha menangis." ucap Ghibran memandang wajah Aretha yang sudah damai dengan alam mimpinya.
Ghibran pun membenarkan posisi tidurnya dan Aretha agar lebih nyaman, dan setelah itu dia ikutan pergi menuju alam mimpi menyusul Aretha.
-
Sementara itu di tempat lain, Nafisah tengah tersenyum kemenangan. Dia sekarang tengah membayangkan Ghibran yang berantem dengan Aretha, bahkan dia juga membayangkan kalau Ghibran di usir dari pesantren akibat rencananya tadi.
"Ini baru permulaan, lihat saja nanti apa yang bakal aku lakuin untuk mengambil apa yang seharusnya jadi milikku." gumam Nafisah.
Dia sekarang berada di atas ranjang dengan posisi tiduran tapi matanya masih lebar tidak terpejam sendikit pun. Dan di sampingnya sudah ada Wahyu yang sudah tertidur dengan nyenyaknya.
"Maaf ya mas Wahyu, aku lakuin semua ini karena aku masih mencintai Ghibran. Maaf selama ini aku bohong soal perasaan ku sama kamu." jujur Nafisah menghadap kearah Wahyu yang sudah tertidur.
Coba saja kalau Wahyu tidak tidur, mana mungkin Nafisah berani berbicara jujur. Bisa di kek dia nanti sama orang tuanya. Karena apa, karena Wahyu lah sumber uang bagi Nafisah dan keluarganya.
Bahkan soal mereka yang belum mempunyai anak itu bukan karena Nafisah yang belum hamil, tapi emang karena Nafisah nya yang tidak mau hamil anak Wahyu. Dia selama ini selalu rutin mengonsumsi pil KB agar tidak ada bayi yang mengisi rahimnya.
"Coba saja kalau mas Wahyu itu ganteng terus keren kayaknya Ghibran, pasti aku mau sama mas Wahyu. Gaya pakaian mas Wahyu aja kayak gitu, kuno kurang gaul." ucap Nafisah menilai penampilan Wahyu.
"Aku tuh mau sama mas Wahyu bukan karena aku cinta, tapi karena aku butuh harta mas Wahyu." lanjutnya.
"Maaf mas Wahyu ku sayang, nanti setelah aku mendapatkan harta kamu aku akan pergi meninggalkan kamu dan hidup bersama Ghibran ku sayang. Apalagi sekarang sepertinya Ghibran sudah jadi kaya raya." setelah mengucapkan itu, Nafisah memejamkan matanya untuk tidur. Dia berdoa semoga dalam mimpinya nanti dia bertemu dengan Ghibran kesayangannya.
Jika kalian bertanya kenapa tidak dengan Ghibran saja, bukankah Ghibran juga sudah kaya raya. Selain soal weton mereka yang tidak cocok, dulu juga Ghibran tidak sesukses sekarang. Dulu saat berhubungan dengan Nafisah cafe Ghibran baru cuma satu, itu pun pelanggannya hanya sedikit. Baru setelah Ghibran pisah dengan Nafisah Ghibran bekerja dengan keras hingga sampai sekarang ini.
Mungkin juga karena Ghibran pacaran rezekinya jadi seret. Buktinya setelah pisah dengan Nafisah rezeki Ghibran makin lancar. Apalagi setelah dia menikah dengan Aretha, rezeki Ghibran makin lancar. Bahkan baru beberapa hari menikah saja saham yang Ghibran tanam harganya naik pesat. Sampai keuntungannya saja biasa untuk modal buka cabang cafe baru.
...***...