AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 72



'Halo Ret lo harus cepat ke toko, keadaannya lagi gawat.' ucap Ruby dari sebrang telefon setelah panggilan di terima oleh Aretha.


'Gawat kenapa sih by?' balas Aretha santai.


'Ini semua pelanggan toko kita pada sakit perut gara gara makan kue di sini. Apalagi tadi juga ada yang menemukan kecoak sama anak tikus di dalam kue buatan kita.' jelas Ruby.


'Loh kok bisa, terus sekarang keadaannya di sana gimana?'


'Udah pokoknya lo harus cepat datang ke sini, ini semua pelanggan pada demo.' panik Ruby.


'Ya udah gw akan segera ke sana.'


Tut.


Aretha pun segera bersiap untuk pergi ke toko. Dia bahkan melupakan rasa sakit di area selangk*ng nya.


Setelah siap Aretha segera menuju ruang kerja Ghibran untuk izin pamit ke toko.


"Assalamualaikum, mas aku izin ke toko ya." ucap Aretha to the poin.


Bahkan Aretha main membuka pintu ruangan Ghibran saja tak mengetuknya terlebih dahulu.


"Waalaikum salam." balas Ghibran dan Arthan yang tengah membicarakan sesuatu.


"Loh kamu kan lagi gak enak badan, jadi kamu di rumah saja ya hari ini." ucap Ghibran tak memberikan izin pada Aretha.


"Tapi mas, ini keadaannya genting banget. Semua pelanggan kue di toko aku pada demo karena mereka sehabis makan kue di toko aku pada sakit perut semua. Bahkan ada juga yang menemukan kecoak sama anak tikus di dalam kue." jelas Aretha.


"Loh kok bisa?" beo Arthan dan Ghibran secara bersamaan.


"Makanya itu mas, aku mau ke sana. Aku mau lihat keadaannya secara langsung."


"Ya udah kamu tunggu mas ganti baju dulu, biar mas yang antar kamu ke sana." ucap Ghibran dan pergi menuju kamarnya di ikuti Aretha.


"Gw juga ikut." timpal Arthan mengikuti mereka berdua.


"Bang tolong lo siapin mobilnya, biar nanti kita tinggal berangkat." pinta Ghibran dan di angguki Arthan.


Setelah bersiap, mereka bertiga pun pergi menuju toko roti Aretha dengan Aretha dan Ghibran yang satu mobil. Sedangkan Arthan mengikuti mereka dari belakang menggunakan mobilnya.


-


"Hahahaha akhirnya rencanaku berhasil." tawa kemenangan Nafisah yang melihat berita di ponselnya perihal masalah toko roti Aretha.


"Gak sia sia aku datang jauh jauh dari Malang kalau kayak gini." senang Nafisah.


"Karena semuanya sudah beres, saatnya gw pergi dari kota ini." lanjutnya dan mengemasi barang-barang miliknya dan segera pergi meninggalkan hotel tempat dia menginap.


-


Aretha dan yang lain sudah sampai di depan toko roti miliknya. Di sana keadaannya sudah sangat kacau, akibat demo yang di buat oleh pelanggan Aretha.


Karena sekarang sudah jamannya internet, maka dengan mudah kabar toko roti Aretha menyebar di seluruh kota, bahkan sampai di kota kota sebrang Jakarta.


Aretha segera masuk lewat pintu belakang di ikuti Ghibran dan Arthan di belakangnya.


"Retha." pangil Ruby dan menghampiri Aretha.


"Ini gimana bisa terjadi?" tanya Aretha.


"Astaghfirullah hallazim, kenapa bisa sampai kayak gini sih. Emang tadi gak ada yang jaga di dapur?" tanya Aretha.


"Tadi sebelum aku keluar dari dapur sih aku menyuruh si intan buat jaga, tapi kata dia tadi dia pergi ke kamar mandi karena kebelet." jelas Ruby lagi.


"Udah sayang kamu yang tenang, sebaiknya kamu temui pelanggan pelanggan kamu yang ada di depan. Minta maaf sama mereka atas kecerobohan toko ini." ucap Ghibran.


Karena Ghibran juga berasal dari dunia kuliner, dia paham akan pasar yang berlaku. Pasti bakalan ada saja yang tidak suka dengan toko milik kita. Dan mereka akan menghalalkan segala cara agar membuat toko kita itu hancur.


"Tapi...."


"Ayo aku temani." ajak Ghibran menarik tangan Aretha.


"Halo baby kita ketemu lagi." ucap Arthan di depan wajah Ruby yang membuat Ruby kaget.


Arthan pun segera mengikuti langkah Ghibran dan Aretha menuju para pedemo.


"Loh dia kok bisa ada di sini? Jangan jangan dia lagi biang keroknya." tuduh Ruby dan segera mengejar Arthan.


"Heh kamu." Ruby menahan Arthan dengan menarik kerah bagian belakang baju Arthan.


"Eehh apaan sih lo." Arthan berusaha melepaskan tangan Ruby dari bajunya.


"Ngaku Lo, pasti lo kan yang buat semua ini." tuduh Ruby.


"Enak aja, orang gw baru datang kok." tak terima Arthan karena sudah di tuduh membuat kesalahan yang bahkan dia tidak tahu seperti apa kesalahan itu.


"Halah lo gak usah ngelak, lo kan dulu pernah ke sini dan pergi ke toilet."


"Halo nona, apakah dengan saya pernah ke sini dan pergi ke toilet saya yang membuat kekacauan ini. Kalau iya berarti banyak dong yang salah, secara kan di sini banyak pelanggan yang sering datang dan juga sering ke toilet." balas Arthan dan melepaskan tangan Ruby dengan kasar.


"Ganggu orang aja." setelah mengucapkan itu Arthan pergi menyusul Aretha dan Ghibran yang sudah tidak terlihat lagi tulang punggungnya.


"Iya juga sih, lagian juga kalau dia yang salah kenapa malah dia sama Aretha dan suaminya." gumam Ruby.


"Bodo ahh." Ruby pun mengikuti Arthan menuju Ghibran dan Aretha.


Di depan keadaan pedemo sudah tidak bisa di kendalikan lagi, alhasil Arthan menelfon anak buahnya yang di sekitar toko Aretha agar menenangkan para pedemo.


"Tutup toko ini, tutup toko ini." teriakkan yang Aretha dengar dengan jelas di telinganya.


"Udah gak usah takut, aku akan selalu ada di belakang kamu." ucap Ghibran yang menyadari kegelisahan Aretha.


"Tenang Mbak mbak, ibu ibu, dan bapak bapak kita bisa bicarakan hal ini dengan baik baik." ucap Ghibran dengan keras agar dapat di dengar oleh orang orang yang ada di depan toko.


"Halah gara gara makan kue di sini anak saya jadi masuk rumah sakit." ucap salah satu ibu ibu dan di setujui dengan sorakan oleh yang lainnya.


"Betul itu, ayo tunggu apa lagi, kita tutup toko ini." sahut yang lain.


"Kalian semua diam." teriak tegas anak buah Arthan yang badannya besar seperti Hulk.


"Jangan ada yang berbicara atau kalian akan mendapatkan hadiah dari saya." lanjutnya lagu yang dapat membungkam mulut mereka semua.


"Anak buah lo serem juga bang." bisik Ghibran pada Arthan yang sudah berdiri di sampingnya dan di balas oleh senyum smirk oleh Arthan.


"Apakah kalian bisa mendengarkan apa yang kami ucapkan dengan tenang? Kalian tenang saja nanti kami akan mengganti rugi semua yang telah terjadi. Dan kami juga akan menanggung biaya semua untuk orang yang masuk rumah sakit akibat makan kue di sini." ucap Ghibran dengan tegas.


...***...