
"Assalamualaikum tuan, ini minumannya silahkan di minum." ucap bi Wati meletakkan dua buah gelas yang berisi jus jeruk.
"Waalaikum salam." balas kedua orang lelaki beda umur itu.
"Terimakasih Bi." lanjut Abi Umar.
"Loh Ghibran nya mana bi?" tanya Arthan.
"Saya tidak tahu tuan, tadi tuan Ghibran pamit ke atas dulu, tapi setelah itu saya sudah tidak tahu lagi tuan." jawab bi Wati.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, masih ada kerjaan di belakang. Nanti kalau ada perlu apa apa bisa pangil saya di dapur." pamit bi Wati dan di angguki mereka berdua.
"Assalamualaikum tuan."
"Waalaikum salam."
Setelah kepergian bi Wati, Abi Umar dan Arthan yang sudah merasa haus pun meminum minuman yang di bawakan oleh bi Wati.
"Alhamdulillah segernya." lega Abi Umar setelah minuman.
"Terus kita mau ngapain di sini bi?" tanya Arthan bingung.
"Ya mau ngapain lagi, yang pasti ya kita harus bisa menemukan Aretha." jawab Abi Umar.
"Hufft... kalau itu Arthan nyerah deh bi. Capek juga main beginian." nyerah Arthan yang tak kunjung menemukan Aretha sedari tadi.
"Ehh jangan dong, emang kamu mau dapat hukuman dari Aretha?"
"Ya gak mau lah Bi, enak aja mau di taruh di mana muka Arthan nanti."
"Ya makanya kita harus menemukan tuh anak biar kita tidak jadi Badut lampu merah."
"Udah ayo bangun, kita cari dia lagi." ajak Abi Umar menarik tangan Arthan agar berdiri dari tempat duduknya.
"Huh...."
Mau tak mau akhirnya Arthan pun berdiri dan mulai mengikuti langkah kaki Abi Umar yang entah akan membawanya ke mana.
Mereka berdua terus berjalan memutari rumah Arthan. Bahkan mereka sampai bertanya pada pak satpam dan yang lainnya tapi jawaban mereka juga sama tidak tidak tahu di mana keberadaan Aretha.
Entah kenapa mereka tak ada kepikiran untuk mencari Aretha ke dalam rumah. Terlebih lagi setelah menghilangnya Ghibran di antara mereka berdua tadi.
"Udah Bi Arthan nyerah, mending Arthan nyari buronan yang bersembunyi aja dari pada harus nyari Aretha." keluh Arthan yang tak juga mendapatkan keberadaan Aretha.
"Ini juga si Ghibran kemana, pakai acara ngilag segala lagi." keluh Arthan kesal, karena Ghibran main pergi aja tak mau membantu mereka berdua.
"Tau tuh, awas aja nanti kalau sampai di hukum. Maka Abi orang pertama yang akan mengvideokan tingkah Ghibran du lampu merah nanti."Setuju Abi Umar.
"Tunggu deh bi, kok Arthan merasa ada yang aneh ya." ucap Arthan menahan langkah kaki Abi Umar.
"Kenapa?" tanya Abi Umar penasaran.
"Kan tadi Ghibran pamit mau ke dalam suruh bi Wati buatin minum. Trus kata bi Wati juga tadi Ghibran pamit izin ke atas. Jangan jangan dia malah molor di kamarnya lagi bi." curiga Arthan.
"Bener juga apa kata kamu. Kita langsung saja cari Ghibran di kamarnya. Enak aja dia enak enak tiduran tapi kita berdua malah kelimpungan cari istrinya." timpal Abi Umar.
Mereka berdua pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan langsung berjalan menuju lantai dua du mana keberadaan kamar Ghibran dan Aretha.
Sampai di depan kamar Ghibran, Abi Umar dan Arthan langsung mengetuk pintu dengan sangat keras sehingga mengganggu kedua insan yang tengah tertidur dengan nyenyaknya.
Tok tok tok tok tok tok....
Ketukan berkali kali, sehingga membuat Aretha yang sudah tidak tahan dengan kebisingan itu itu pun bangun hendak membuka pintu.
Sedangkan Ghibran hanya memandang punggung istrinya saja, dia terlalu malas untuk melihat siapa yang ada du dengan pintu.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dengan sangat pelan, sehingga membuat dua manusia yang ada di luar kamar pun tak tahan. Terlebih lagi Arthan yang sikapnya sangat sering berubah ubah.
Arthan langsung menyelonong masuk ke dalam tanpa melihat siapa yang telah membukakan pintu untuk dirinya.
"Lo enak banget ya, tiduran di sini sedangkan kita sibuk mencari bini lo." kesal Arthan yang melihat Ghibran beneran tiduran di atas ranjang empuknya.
"Trus gw harus ngapain?" tanya Ghibran santai.
"Ya minimal bantuin kek, biar cepat ketemu." Jawab Arthan kesal.
"Mending bang Arthan balik badan aja deh. suruh Ghibran.
"Balik badan ngapa....in sih...."
...***...