
Hari pun berganti begitu cepat, dan semakin hari permintaan Aretha malah semakin aneh hingga membuat orang orang di sekitarnya ikutan pusing.
Seperti saat ini, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Tapi Aretha malah membangunkan Ghibran yang tengah tertidur dengan nyenyak.
"Mas, bangun mas." pangil Aretha membangunkan Ghibran.
"Hmm." balasan Ghibran.
"Mas bangun ih." ucap Aretha lagi.
"Kenapa sih yang." jawab Ghibran dengan mata'masih tertutup.
"Buka dulu matanya." pinta Aretha.
Dengan malas Ghibran pun membuka pintu dan menatap Aretha.
"Kenapa hmm?" tanya Ghibran.
"Aku mau...."
"Udah ya yang, ini udah malam loh. Besok aja ya kalau mau minta sesuatu." potong Ghibran sebelum Aretha menyebutkan permintaannya.
"Kamu kok gitu sih, kamu udah gak sayang lagi ya sama aku." air mata Aretha sudah menetes di pipinya.
"Ehh kok nangis, enggak kok aku masih sayang sama kamu. Udah ya jangan nangis." ucap Ghibran menenangkan Aretha.
"Tapi kami jahat, kamu gak mau turutin kemauan aku hiks hiks hiks."
"Ini sudah tengah malam sayang, aku ngantuk. Besok aja ya kalau mau minta sesuatu." Ghibran memberi pengertian pada Aretha.
"Tapi aku maunya sekarang mas...." keras kepala Aretha.
Ghibran pun menarik nafasnya panjang sebelum dia akan mengambil keputusan yang dia yakini nanti akan membuat dia pusing tujuh keliling.
"Ya udah kamu mau apa?" tanya Ghibran mencoba untuk bersabar.
"Aku mau mangga muda terus di kasih bon cabe." permintaan Aretha di tengah malam.
"Kamu gak salah minta yang, dari mana sih kamu tahu kayak gituan. Ini udah tengah malam loh, mau cari di mana mangga mudanya."
"Aku tahu dari toktok. Ada aku tahu di mana ada mangga muda."
"Di mana emang?" tanya Ghibran dengan perasaan yang sudah tidak enak.
"Di ujung jalan komplek yang di depannya rumah kosong." jawab Aretha.
"Hahahaha rumah di ujung itu?" tanya Ghibran sambil tertawa sumbang.
"Iya mas, emang kenapa sih?"
"Hahahaha gak papa kok yang. Dingin banget ya ini, bagaimana kalau besok pagi aja carinya. Kan mantap tuh dapat mangga sisa kelelawar juga, pasti rasanya enak." ucap Ghibran mencoba merayu Aretha.
Kalau tempatnya tinggal beli di supermarket mah ayo Ghibran beliin. Lah ini di suruh nyari di depan rumah kosong yang ada di ujung komplek. Orang orang aja pada bilang kalau rumah itu angker, nanti yang ada dia malah gak dapat mangga muda, tapi dapatnya di goda mbak Kunti. Secarakan dia itu ganteng, siapa coba yang gak mau sama dia.
"Enggak mau mas, aku maunya SEKARANG." tekan Aretha.
"Kamu emang gak kasian sama mas?"
"Udah deh mas cepat, tambah makin lama kalau kamu kebanyakan ngoceh." usir Aretha.
Dengan terpaksa Ghibran beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya dan memakai kaos serta jaket agar nanti tidak kedinginan.
Ghibran keluar menuju kamar belakang tempat pak Tomo dan bi Wati tidur. Ghibran berencana untuk mengajak pak Tomo agar dia tidak sendirian ke sananya.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum bi, mang." salam Ghibran memangil pasangan suami istri itu.
Tok tok tok.
Ghibran mengetuk pintunya lagi karena belum juga mendapatkan respon dari dalam.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka menampilkan pak Tomo yang masih dengan wajah bantalnya sambil berselimut sarung.
"Ada apa tuan?" tanya pak Tomo setelah mengetahui kalau yang mengetuk pintu kamarnya adalah tuannya.
"Temenin Ghibran yuk mang." ajak Ghibran.
"Emang mau kemana tuan tengah malam begini?" tanya pak Tomo.
"Udah pokoknya mang siap siap aja, Ghibran tunggu di depan." suruh Ghibran dan segera pergi dari sana.
Kenapa Ghibran tidak mengatakan kalau mau mencari mangga muda? Ya karena Ghibran tak mau nanti pak Tomo menolak ajakannya. Karena semua orang penghuni komplek ini tahu kalau rumah kosong itu sudah di huni oleh mahluk lain.
"Kita mau kemana sih tuan?" tanya pak Tomo penasaran.
"Tuh." tunjuk Ghibran pada pohon mangga yang menjulang tinggi.
"Maksud tuan, kita mau ambil mangga itu?" tanya pak Tomo memastikan.
"Yupz tepat sekali tebakan kamu. Besok aku transfer bonus ke rekening kamu." ucap Ghibran membuat nyali pak Tomo menciut.
"Kita pulang saja tuan, besoknya aja cari mangganya di pasar." ajak pak Tomo.
Biarlah uang bonus melayang, ya penting dia tidak lihat begituan.
"Enak aja kamu ajak aku pulang, kamu gak tahu tuh nyonya kamu lagi merengek minta mangga muda tengah malam ini. Kalau sampai gak di turutin nanti dia nangis. Emang kamu mau makin pusing." ancam Ghibran.
"Tapi tuan...."
"Udah ayo, gak ada hantu hantu di sini. saya sudah mengusirnya." ucap Ghibran agar pak Tomo tidak takut.
"Beneran tuan?" tanya pak Tomo takut percaya.
"Kamu gak percaya sama say, saya ini gus loh cucu menantu Kiyai." balas Ghibran meyakinkan.
"Udah ayo kamu kelamaan mikir nanti malah hantunya datangin kamu." ajak Ghibran menyeret pak Tomo mendekati pohon mangga.
Sampai di bawah pohon mangga hawa dingin mulai terasa. Bulu kuduk pak Tomo bahkan sudah berdiri.
"Tuan kenapa perasaan saya jadi tidak enak ya." ucap pak Tomo memegang lengan Ghibran erat.
"Ayo mang cepat naik, nanti Ghibran yang tangkap buahnya." suruh Ghibran.
"Loh kok saya tuan."
"Ya terus mau siapa, saya kan gak bisa manjat pohon." balas Ghibran.
"Tapi kenapa harus saya tuan."
"Udah mang tomo tenang saja, nanti kalau ada apa Ghibran yang akan tanganin. Jadi mang Tomo tinggal naik saja ke atas pohon terus ambil mangga Nya habis itu pulang." suruh Ghibran.
"Tapi tuan...."
"Udah ayo gak ada tapi tapian. Ayo cepat naik." suruh Ghibran.
Bahkan Ghibran langsung menyungi tubuh pak Tomo agar memudahkan pak Tomo untuk memanjat pohon mangga.
Tak lupa juga Ghibran memberikan senter agar dengan mudah pak Tomo menemukan dan menggambil buah mangga muda.
Dengan keberanian ekstra pak Tomo nekat memanjat pohon. Bahkan sekarang dahinya sudah di penuhi dengan keringat dingin.
"Yang mana tuan?" teriak pak Tomo dari atas pohon setelah berhasil menaikinya.
"Itu mang yang besar." tunjuk Ghibran pada buah mangga yang ukurannya lebih besar dari yang lainnya.
Pak Tomo pun mengambilkan buah mangga yang Ghibran tunjuk.
"Tuan tangkap." teriak pak Tomo dari atasan pohon.
"Siap mang." balas Ghibran.
Buk.
Satu buah mangga muda berhasil Ghibran tangkap.
"Kita ambil berapa tuan?" tanya pak Tomo.
"Yang banyak saja tidak apa apa." bukan Ghibran yang menjawab, tapi suara perempuan yang ada di belakang pak Tomo yang menjawab.
"Tuan." pangil pak Tomo dan melihat ke bawah yang sudah tidak mendapati Ghibran di sana.
"Cepat mang turun, di belakang mang Tomo ada mbak Kunti." teriakkan Ghibran yang sudah berlari terbirit-birit menjauh dari sana.
Dengan pelan pak Tomo memutar kepalanya dan....
Hihihihihi.....
Tawa mbak Kunti yang berada tepat di belakang pak Tomo.
"Ha,ha, hantu...."
Bruk.
...***...