
"Ya gak gitu sayang, kan kasian suami kamu kalau harus pulang pergi dengan jarak yang jauh. Lagi pula jarak rumah Ghibran sama toko dan kampus kamu juga lebih dekat dari pada rumah ini, jadi ya lebih baik kalian pindah sekarang kan." Ujar Abi Umar memberikan pengertian pada anaknya.
"Gimana kamu mau kan ikut tinggal di ruang kecil aku?" Tanya Ghibran di balas anggukan oleh Aretha.
"Tuh udah jelaskan, ya udah kalian siap siap sana tunggu apa lagi." Perintah Abi Umar seolah mengusir Aretha.
"Abi ngusir ngusir mulu dari tadi, Aretha doa in nanti malam Abi bakal kangen sama Aretha sampai Abi gak bisa tidur memikirkan Aretha." Celetuk Aretha.
"Hustt kalau ngomong gak boleh gitu." Tegur Umi Fatimah.
"Lagian Abi ngeselin."
"Udah yuk kita ke kamar aja, aku bantu kamu siap siap." Ajak Ghibran agar istrinya itu tidak semakin keterlaluan pada Abi Umar.
"Bi, mi kita pamit ke atas dulu." Pamit Ghibran, setelah mendapatkan anggukan dari Abi serta Umi Ghibran pun menyeret tangan Aretha untuk pergi dari sana.
Aretha pun hanya menurut saja, dia sudah terlanjur kesal dengan Abi Umar, jadi mau di apain juga dia akan tetap nurut. Bahkan mungkin bila di suruh terjun ke jurang pun Aretha akan terjun. Ehh gak kok becanda, mana ada Aretha terjun, Aretha masih sayang sama nyawanya.
-
Sampai di kamar Aretha segera mengambil koper untuk dia membawa baju baju serta barang barang yang lainnya.
"Bawa sedikit aja, biar nanti kalau nginap di sini kamu gak bingung cari pakaian." Ucap Ghibran yang melihat Aretha akan membawa banyak baju.
"Ya gak bisa dong, kalau bawa sedikit nanti aku gak bisa ganta ganti bajunya." Balas Aretha sambil memasukkan baju ke dalam koper.
"Aku sudah sediain banyak baju buat kamu di sana." Ucap Ghibran membuat Aretha menghentikan kegiatannya.
"Maksud kamu?"
"Iya aku sudah membelikan banyak baju buat kamu di rumah." Jelas Ghibran.
"Banyak baju? Kok kamu boros banget sih, kan mending uangnya buat keperluan yang lain dari pada buat beliin aku baju. Lagian juga baju aku ini masih banyak, masih bagus bagus pula."
"Gapapa kalau buat istri mah, nanti juga akan ada gantinya yang lebih banyak lagi." Balas Ghibran tenang.
"Ya udah di bingangin kok ngeyel." Ketus Aretha.
Aretha mengurungkan niatnya untuk membawa baju banyak setelah mendengar kalau Ghibran sudah menyediakan banyak baju di rumahnya. Aretha hanya perlu membawa beberapa baju yang sangat dia perlukan serta peralatan yang wajib dan tidak bisa dia tinggalkan. Seperti contohnya make up, apalagi sekarang dia sudah menikah jadi dia juga harus pintar pintar berdandan untuk menyenangkan suami. Ya meskipun dia belum ada rasa sih.
Setelah selesai bersiap mereka berdua pun pamit pergi mengunakan mobil Ghibran. Tadinya Aretha mau bawa mobil sendiri katanya buat dia kalau mau ke toko agar tidak repot, tapi Ghibran segera menahannya. Ghibran bilang nanti ada orang yang akan membawakan mobil Aretha ke rumah nya, alhasil mereka sekarang pun satu mobil dengan Ghibran yang memegang kemudi.
"Assalamualaikum Abi Umi Aretha pergi dulu, jaga kesehatan kalian ya kalau ada apa apa jangan lupa hubungi Aretha." Pamit Aretha.
"Assalamualaikum bi, mi Ghibran pamit dulu." Pamit Ghibran.
"Waalaikum salam, kalian hati hati ya di jalan." Balas Umi dan Abi.
Ghibran pun menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Abi Umar menuju jalan raya.
Sementara itu setelah kepergian Aretha dan Ghibran air mata Abi Umar jatuh tanpa di perintahkan. Abi Umar segera menghapus air matanya sebelum istrinya melihat, bisa ikutan mewek juga nanti istrinya itu kalau sampai tahu.
"Ya udah yuk mi kita masuk." Ajak Abi Umar mengandeng mesra tangan Umi Fatimah.
-
"Cepat kerahkan semua anak buah untuk melindungi mereka, jangan sampai mereka terluka." Perintah orang itu pada anak buahnya.
"Baik bos." Bodyguard itu pun pergi dan memerintahkan teman temannya untuk melindungi Aretha dan Ghibran dari orang orang jahat.
"Kalau sampai Aretha kenapa kenapa, lo gak bakal gw lepasin Bani." Gumam orang itu sebelum beranjak pergi sambil membawa pistol.
-
Dalam perjalanan Aretha hanya diam saja, dia fokus memandangi jalanan yang mereka lewati, itung itung buat hafalin jalan juga.
"Kamu bosen ya?" Tanya Ghibran untuk mencarikan suasana.
"Enggak kok, emang kenapa?" Balik tanya Aretha.
"Gak papa sih, cuma tanya aja siapa tahukan kamu bosen gitu."
"Mau dengerin lagu?" Tawar Ghibran di balas gelengan kepala Aretha.
"Emang rumah kamu masih jauh ya?" Tanya Aretha yang merasa tak sampai sampai.
"Enggak kok, bentar lagi juga sampai. Itu bukan rumah aku, tapi itu rumah kamu karena itu atas nama kamu." Jelas Ghibran.
"Apa?" Kaget Aretha.
"Iya, rumah yang akan kita tinggalin itu atas nama kamu."
Ya, Ghibran beberapa hari yang lalu baru saja membeli rumah setelah lamarannya di terima. Dia merasa kurang bebas kalau tinggal di apartemen, jadi dia mencari rumah agar lebih luas lagi tempat tinggalnya dari pada di apartemen.
Dan Ghibran juga membeli rumah baru itu memilih yang dekat dengan cafe serta toko Aretha dan kampus Aretha agar memudahkan mereka kalau pulang pergi. Dan tak lupa pula rumah baru itu dia kasih atas nama Aretha bukan atas nama dirinya.
"Kok bisa?" Tanya Aretha yang masih tidak percaya.
"Ya bisalah, orang kamu istri aku." Jawab Ghibran santai.
"Kenapa gak atas nama kamu, bukannya itu rumah kamu?"
"Iya aku yang beli tapi aku kasih ke kamu."
"Kenapa buat aku?"
Haduh ini si Aretha kenapa banyak tanya sih, orang tinggal terima aja apa susahnya sih.
"Karena kamu istri aku." Jawab Ghibran.
"Kenapa kamu milih aku jadi istri kamu, padahal mungkin di luaran sana ada seseorang yang sudah mencintai kamu, sedangkan aku tidak mencintai kamu?"
"Belum bukan tidak cinta, aku sudah bilang sama kamu kalau aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku. Dan memang benar di luaran sana mungkin ada yang cinta sama aku, tapi aku gak cinta sama dia, aku cintanya sama kamu." Saat mengatakan aku cintanya sama kamu Ghibran menoleh pada Aretha sambil tersenyum manis semanis manisnya.
Aretha diam tak lagi bisa bertanya lagi, bahkan pipinya sekarang sudah memerah akibat ucapan Ghibran.
Terlalu asik berbincang, mereka sampai tidak menyadari kalau sedari memasuki jalan raya mobilnya sudah ada yang mengikuti di belakang.
...***...