
Sementara itu, Arthan tengah berada di depan rumah Ruby. Dia sedari tadi mengetuk pintu tapi tak kunjung di buka juga, hingga membuat tetangga tetangga Ruby memarahi Arthan karena sudah membuat keributan di sana.
"Orangnya gak ada, jadi gak usah gedor gedor pintu gitu. Ganggu orang aja." marah tetangga sebelah Ruby.
"Maaf ya buk tapi itu di dalam sudah ada tas Ruby, jadi dia berarti ada di rumah." balas Arthan tak mau mengalah dengan ibu itu.
"Di bilangin kok malah ngeyel." sinis ibu itu menatap Arthan sambil menampilkan wajah judesnya.
"Ada apa sih jeng kok ribut ribut gitu?" tanya seorang wanita lagi, kali ini pakaian dan make up nya sangat menor.
"Itu loh, masak gedor gedor pintu orang, gak tau apa ganggu orang tidur. Orang Ruby nya juga gak ada, di bilangin malah ngeyel." jawab ibu yang tadi memarahi Arthan.
"Siapa juga yang ngeyel, orang beneran Ruby ada di rumah kok." sahut Arthan tak terima di bilangin ngeyel.
"Tuh lihat kan jeng, emang dasarnya dia aja yang keras kepala. Ruby itu tadi pergi, katanya mau ke rumah temennya. Lagian Ruby juga kok mau maunya sih punya cowok kayak gitu." balas itu itu dengan memandangi Arthan dari atas sampai bawah seperti tengah mengejek penampilan Arthan.
Arthan pun melihat penampilannya lagi.
"Pantas saja mereka merendahkan gw, orang pakai gw kayak gini." batin Arthan yang melihat penampilannya hanya memakai baju koko putih dan celana jeans warna cream serta memakai sendal slop.
Tapi jangan salah, meskipun dari yang mereka lihat pakaian Arthan itu sangatlah biasa aja. Tapi harga satu sendalnya saja bisa untuk beli motor, apalagi kalau di gabungin sama celana dan bajunya, bisa untuk beli mobil itu.
"Husstt gak boleh gitu jeng kalau ngomong." tegur ibu yang make up nya menor.
"Tuh dengerin Bu, kalau ngomong tuh gak boleh merendahkan penampilan orang." timpal Arthan yang merasa ibu make up menor itu tengah membelanya.
"Tapi apa yang jeng Susi bilang itu bener. Kasian Ruby udah kerja cepek capek buat merubah hidupnya, ehh malah dapatnya laki laki seperti ini." lanjut ibu make up menor itu lebih memandang Arthan dengan pandangan merendahkan.
Mendengar itu seketika mata Arthan melotot sempurna. Dia jadi menggerutuki dirinya yang tadi memarkirkan mobilnya jauh agar tidak ketahuan Ruby kalau dia datang ke sini. Tau gitu tadi Arthan bawa saja mobilnya, sekalian nanti dia pamerin mobil mewahnya ke semua tetangga tetangga Ruby biar mereka tak lagi memandang Arthan rendah.
"Bener jeng, kayaknya nanti kita harus kasih tau si Ruby biar dia gak salah pilih pasangan hidup." timpal ibu Susi.
Arthan tak lagi bisa berkata kata, coba saja kalau di hadapannya ini adalah bapak bapak, udah Arthan ajak mereka aku skill. Tapi sayang di hadapannya ini adalah ibu ibu yang kalau bawa motor mau belok kanan tapi pakai sen kiri. Mana Ruby tak kunjung membuka pintu kontrakannya lagi.
Dor dor dor.
Arthan menggedori pintu kontrakan Ruby dengan keras berharap Ruby cepat keluar.
"Woy nih anak di bilangin ngeyel." teriak ibu Susi.
"Ada apa ini ibu Susi, ibu Mina? Kenapa kalian ribut ribut?" tanya tiga ibu ibu yang sepertinya habis pulang arisan, terlihat dari pakaian serta perhiasan yang menghiasi kedua pergelangan tangannya.
"Ini jeng, pemuda ini gedor gedor pintu kontrakan Ruby, sampai sampai ganggu saya yang lagi tiduran. Udah di peringati dia makin menjadi." jelas ibu Susi.
"Seriusan Bu? Lebih baik harus segera kita usir dari sini, takutnya ini laki laki gak bener yang mau berbuat jahat pada Ruby." kompor salah satu ibu ibu yang baru saja datang.
"Bener tuh, kemaren aku lihat berita di Faceb**k kalau ada seorang pemuda yang tega perk**a gadis di kontrakannya. Dan katanya salah satu dari pelaku itu melarikan diri, jangan jangan dia salah satu pelaku yang melarikan diri itu." sambung yang lainnya.
Arthan yang mendengar itu pun terus menggedor pintu kontrakan Ruby berharap Ruby datang untuk menyelamatkan dari fitnah fitnah ibu ibu itu.
"Ya udah ayo kita pangil yang lainnya buat usir dia, sebelum dia semakin gila di sini." usul ibu Susi.
"Setuju, biar aku pangil mereka semua."
"IBU IBU AYO SEMUA KITA USIR PEMUDA GILA INI, DIA UDAH MEMBUAT KAMPUNG KITA DALAM BAHAYA." Teriak ibu Mina dengan suara toanya.
Dan benar saja tak berapa lama muncullah ibu ibu berpakaian daster sambil membawa peralatan rumah tangga untuk menyerang Arthan.
Dor dor dor
"BY, RUBY PLIS BUKA PINTUNYA, BANTUIN GW." teriak Arthan tapi tak kunjung mendapatkan sahutan dari Ruby.
"Gw harus kabur nih." monolog Arthan dan segera berlari melewati jalanan yang tak ada ibu ibu.
"AYO KITA KEJAR."
"AYO...." Mereka semua berlari mengejar Arthan yang sudah lari terbirit-birit.
Untung saja Arthan waktu TK dulu pernah menang juara lomba lari sepanti asuhan tempat dia tinggal, jadi dengan mudah dia menghindari ibu ibu itu.
"BERHENTI KAU PEMUDA JAHAT, AYO KITA ADU KEKUATAN." Teriak salah satu ibu ibu yang mengejar Arthan.
"JURUS BOLA API, HIYAAA...."
Bruk.
"Aduh." ringis Arthan karena kepalanya terkena sepatu hak tinggi ibu Mina.
"Sial*n mereka makin menjadi." umpat Arthan sambil mengelusi kepalanya yang sepertinya akan benjol nanti.
Arthan pun berusaha lari mengitari perkampungan itu untuk menuju mobilnya.
Jalan yang lebih dekat dengan lokasi mobil Arthan tadi terdapat banyak ibu ibu, jadi Arthan lebih memilih jalan yang aman tapi jauh untuk dia menuju mobilnya.
"AWAS...." Teriak salah satu ibu ibu sambil melemparkan panci yang dia bawa.
Mendengar itu Arthan menoleh ke belakang dan langsung melotot melihat apa yang ibu ibu itu lemparkan. Dengan gesit Arthan menghindar.
Klontang.
Suara panci jatuh yang mengenai aspal jalan.
"Bisa mati muda nih gw." gumam Arthan.
Arthan sambil berlari dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya agar bisa menyelamatkan dia dari serangan ibu ibu berdaster.
Tapi sayang, karena dia gak hati hati ponsel boba terbaru miliknya yang baru saja dia beli beberapa hari lalu terjatuh ke aspal.
"Aagrr... Arthan bego." maki Arthan pada dirinya sendiri.
Arthan berbalik akan mengambil ponselnya, tapi posisi ibu ibu itu semakin mendekat padanya. Alhasil Arthan melanjutkan lari dan mengabaikan ponsel barunya. Bagi Arthan nyawa lebih penting dari pada harta.
"Hos hos hos."
Nafas gos gosan dari ibu ibu yang menghentikan larinya.
"Tenaga pemuda itu kuat sekali." ucap salah satu dari mereka.
"Bener, ini kakiku sampai gak kuat lagi buat lari." timpal yang lainnya.
"Ehh, ini bukannya HP ya?"
...***...