AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 116



Sementara itu di tempat Ruby, dia sudah bersiap untuk pergi ke toko roti AG bakery. Sekarang dia tengah menyiapkan sarapan dan bekal untuk di bawa ke sekolah oleh adiknya agar tidak terlalu boros ketika jajan.


"Dek ini bekal kamu, dan ini uang saku buat kamu." ucap Ruby memberikan kotak bekal dan uang dua puluh ribu di atas kotak bekal itu.


"Makasih kak, uang sakunya gak usah kak, soalnya yang kemaren masih ada." ucap Haikal menolak uang saku pemberian Ruby karena dia tak mau terus merepotkan kakaknya.


"Udah gak papa, kan bisa kamu tabung uangnya." balas Ruby tetap memberikan uang pada Haikal.


"Tapi kak...."


"Kakak tahu kamu di beri uang saku sama kak Arthan kan?" potong Ruby.


"Kakak minta nanti kalau kamu ketemu sama kak Arthan kamu balikin uang dia. Kakak masih bisa kok sekolahin kamu sampai kamu lulus nanti, bahkan sampai kamu kuliah nanti juga kakak masih mampu." lanjut Ruby.


"Kakak tahu dari mana?"


"Kakak denger semua pembicaraan kamu sama kak Arthan. Ingat ucapan kakak waktu itu, jangan asal mau menerima pemberian orang selama kita masih mampu mencarinya. Dan kakak juga gak mau denger kalau kamu bekerja di usia kamu yang masih segini. Kakak mau kamu fokus belajar agar nanti kamu bisa sukses dan bisa buat kakak bangga." tegas Ruby.


"Maaf...." Haikal menundukkan kepalanya tak mau menatap wajah Ruby.


"It's oke kakak gak marah, tapi jangan di ulangi lagi ya." ucap Ruby sambil mengelus kepala adiknya.


"Iya kak Haikal gak akan ngulangin lagi, nanti juga akan Haikal balikin uang kak Arthan." balas Haikal.


"Nah gitu dong, itu baru adik kakak."


"Makasih ya kak karena kakak sudah mau bekerja keras untuk merawat Haikal hingga besar seperti sekarang. Kakak adalah kakak paling hebat di dunia ini, Haikal bangga punya kakak." ungkap Haikal yang merasa beruntung mempunyai kakak seperti Ruby.


"Kakak juga bangga punya adik seperti Haikal, dan kakak akan terus berusaha agar kita berdua bisa hidup berkecukupan, karena kakak hanya punya kamu di sini." balas Ruby.


"Makasih kak." Haikal memeluk Ruby dengan sayang, dan begitu pula dengan Ruby, dia juga membalas pelukan Arthan dengan penuh kasih sayang.


"Ya udah yuk kita makan sarapannya nanti keburu telat kamu sekolahnya." ajak Ruby.


Mereka berdua pun makan sarapan dengan tenang, setelah itu Ruby kembali ke kamarnya untuk mengambil tas serta ponselnya untuk di bawa kerja.


"Hp ku di mana ya?" tanya Ruby pada dirinya sendiri.


"Akhirnya ketemu juga." Ruby menemukan ponselnya di bawah bantal tempat dia tidur.


Saat akan menyalakannya, ternyata ponselnya dalam keadaan mati.


"Aduh lupa, dari kemaren kan belum aku carjer. Mana kemarin aku juga lupa belum ngabarin Aretha lagi." lanjut Ruby.


Ruby pun memutuskan untuk mengcarjer ponselnya di toko roti nanti saja, karena waktu sudah sangat mepet dengan jam masuk sekolah Haikal.


"Gimana kak, udah siap semua?" tanya Haikal yang melihat Ruby sudah keluar dari kamarnya.


"Sudah, ayo kita berangkat sekarang." ajak Ruby.


Mereka pun keluar dari rumah dan mengeluarkannya motor matic Ruby. Saat akan menaikinya tiba tiba datanglah segerombolan ibu ibu menghampiri Ruby.


"Nak Ruby." pangil ibu Susi yang posisi rumahnya lebih dekat dengan Ruby.


"Iya kenapa ya bu, kok rame rame gini?" tanya Ruby heran.


"Ini kita mau balikin HP punya pacar nak Ruby yang kemarin jatuh waktu kita kejar kejar." ibu Mina menyodorkan ponsel boba milik Arthan.


"Maksudnya gimana ya Bu, kok saya gak ngerti. Dan ini ponsel siapa?" tanya Ruby bingung.


"Jadi gitu, ini ponselnya." ibu Susi mengakhiri dan memberikan ponsel Arthan yang dia ambil dari tangan ibu Mina.


Dengan ragu Ruby menerima ponsel itu, Ruby membolak-balikkan ponsel yang ada di tangannya, dan benar saja itu ponsel milik Arthan yang baru saja dia beli beberapa waktu lalu.


"Ya udah bu kalau gitu Ruby pamit pergi dulu ya, nanti sehabis Ruby pulang kerja kita bicarakan lagi, soalnya Haikal takut telat sekolahnya." pamit Ruby.


"Iya nak, hati hati ya." balas mereka.


Ruby pun meninggalkan pelataran rumah kontrakannya yang masih terdapat banyak ibu ibu di sana. Ruby sangat bersyukur karena dia memiliki tetangga yang sangat baik kepada Ruby, bahkan saat dulu toko roti Aretha belum serame ini mereka sering memberikan makanan untuk Ruby dan Haikal agar mereka berdua tidak kelaparan.


Bahkan dulu ketika Haikal sakit juga mereka dengan suka rela menggandakan sumbangan untuk Haikal berobat ke rumah sakit. Oleh karena itu Ruby sangat betah tinggal di sana, meskipun terkadang dia terganggu dengan kebiasaan ibu ibu yang suka pamer dan mengghibah, tapi mereka semua itu sangat baik kepada Ruby.


Buktinya aja kemaren mereka sampai mau menyerang Arthan karena mereka kira Arthan mau jahatin Ruby. Baik banget bukan tetangga tetangga Ruby di kontrakan.


-


Sementara itu di sebuah bangunan tua, terdapat seseorang yang tengah meringis kesakitan karena dirinya habis di cambuk beberapa kali oleh seseorang.


"Gimana rasanya hmm?" tanya psycopat itu sambil menggulung pecut di tangannya.


"Aku mohon sama kamu, lepasin aku." mohon orang itu sambil menahan rasa sakitnya.


"Tak semudah itu kamu meminta, dan mungkin saja waktu nanti kamu keluar dari sini sudah hanya tertinggal jasad mu saja." balas psikopat itu.


"Lakukanlah jika kamu ingin membunuhku, tapi aku mohon jangan sakiti anak cucuku." mohon orang itu.


"Hahaha... itu tidak akan mungkin, terlebih sekarang ternyata anak laki laki itu masih hidup, bahkan ternyata dia sudah berkeliaran di sekitar keluarganya."


"Enggak, enggak, aku mohon jangan sakiti mereka, bunuh aku saja kalau itu bisa buat kamu puas."


"Hahahaha... Apa kamu bilang, puas? Tak ada kata puas dalam hidupku sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau."


"Aku mohon jangan, aku mohon." mohon orang itu.


"Diam, telingaku sakit mendengar celotehan tak berguna dari mulut busukmu itu." marah psikopat itu.


Cetiar.


"Aaa...." teriak kesakitan orang itu.


"Kenapa sakit?" tanya pesikopat itu sambil tersenyum mengerikan.


Orang itu memejamkan matanya dan masuklah jiwa yang membuatnya tidak merasakan apa apa lagi, bahkan rasa sakit yang menyerangnya tadi pun tidak terasa sekarang.


Cetiar.


Lagi dan lagi, psikopat itu mencambuk tubuh lemah orang itu. Tapi sekarang orang itu tak lagi merasakan sakit sama sekali.


"Kenapa diam aja, udah pasrah hmm?" tanya psycopat itu lagi.


Cetiar cetiar cetiar.


Tiga cambukan langsung psikopat itu berikan pada tubuh lemah orang itu. Setelah melakukan itu dia pergi meninggalkan tempat yang sangat gelap tak ada penerangan dari cahaya.


"Hanifah...."


...***...