AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 147



Waktupun berlalu, operasi yang Aretha jalani baru saja selesai, dan sekarang Aretha sudah di pindahkan ke ruang perawatan tapi keadaannya belum sadarkan diri.


"Mau di kasih nama siapa anaknya nak?" tanya umi Fatimah kepada Gibran sambil memandangi wajah cucunya yang berada di ruangan khusus untuk bayi yang lahir prematur.


"Githa Hazna Alhusayn mi, gabungan dari nama Gibran dan Aretha," jawab Gibran sambil menatap wajah anaknya juga.


"MasyaAllah nama yang cantik, sama seperti wajahnya yang cantik," balas umi Fatimah.


"Semoga baby Githa menjadi anak yang sholehan ya, yang bisa mengajak ibu dan abinya ke surga," doa Abi Umar.


"Aamiin, terimakasih doanya Abi," balas Gibran.


"A-air," ucap lirih seseorang membuat mereka bertiga yang sedari tadi fokus menatap wajah bayi kecil pun mengalihkan pandangannya ke arah asal suara tersebut.


"Sayang/Aretha kamu sudah sadar," ucap mereka bertiga kompak dan langsung menghampiri bangkar tempat Aretha berbaring.


Gibran pun dengan cekatan mengambilkan air minum untuk Aretha dan membantunya minum.


"Terimakasih mas," ucap Aretha lemah setelah selesai minum.


"Iya sayang, gimana ada yang sakit, aku panggilkan dokter dulu ya," ucap Gibran.


"Anak kita gimana mas, dia baik baik saja kan?" tanya Aretha panik saat melihat keadaan perutnya yang tidak membuncit lagi.


"Anak kita sudah lahir sayang, dia sangat cantik sama seperti ibunya," balas Gibran.


"Maaf, karena aku anak kita jadi terlahir sebelum waktunya," air mata Aretha menetes, dia merasa bersalah karena membuat anaknya harus lahir sebelum waktunya.


"Nak ini bukan salah kamu, ini sudah menjadi takdir yang Allah berikan untuk anak kamu," ucap Abi Umar menimpali agar Aretha tidak merasa bersalah.


"Benar sayang, kamu jangan menangis seperti ini ya," setuju Gibran.


"Aku mau gandong anak kita apakah boleh?" tanya Aretha yang sangat ingin memeluk bayinya.


"Bentar ya, aku panggilkan dokter dulu," balas Gibran dan langsung pergi memangil dokter untuk bertanya apakah anaknya boleh di gendong atau tidak.


"Gimana nak, mana yang sakit?" tanya umi Fatimah yang khawatir dengan keadaan Aretha.


"Gak ada umi, cuma perut Aretha saja yang sakit. Mungkin efek habis operasi," balas Aretha sambil tersenyum agar umi dan abinya tidak khawatir.


Padahal sekarang Aretha tengah merasakan sakit yang amat terasa di bagian perutnya, dia merasa perutnya seperti di aduk aduk. Tetapi Aretha diam dan tidak mengatakannya kepada keluarganya agar mereka tidak khawatir, mungkin ini hanya efek sehabis melahirkan saja, pikir Aretha.


"Selamat malam nona Aretha, gimana keadaannya?" tanya dokter yang baru saja datang bersama dengan suster dan Gibran yang tadi memanggilkan dokter untuknya.


"Malam juga dok, Alhamdulillah keadaan saya baik, saya ingin mengendong anak saya apa sudah boleh dok?" balas Aretha mengutarakan keinginannya.


"Boleh nona, tapi sebentar ya saya periksa dulu keadaan nona," balas dokter itu dan mulai memeriksa keadaan Aretha setelah mendapatkan anggukan dari Aretha.


Saat memeriksa keadaan Aretha, kening dokter itu mengernyit karena dia merasa kalau detak jantung Aretha sangat cepat.


"Permisi dok, ini babynya sudah siap," ucap suster yang sudah mengeluarkan anak Aretha dari tabung tempat anak Aretha tadi di rawat.


"Ah iya sus," dokter itu menerimanya dan langsung membantu Aretha untuk mengendong anaknya dengan posisi Aretha yang masih tetap setia berbaring tapi dengan bagian atas bangkar yang agak ke atas.


"Assalamualaikum anak mama, maafkan mama ya yang gak bisa jaga kamu sampai sampai kamu harus melihat dunia duluan sebelum kamu lahir," ucap Aretha kepada bayinya yang berada di atas dadanya.


"Lihatlah, dia sangat cantik sama seperti kamu," ucap Gibran yang sudah berada di samping Aretha.


Sedangkan dokter dan suster tadi agak minggir, memberikan ruang untuk keluarga kecil itu untuk bersama.


"Tapi hidungnya sama kayak kamu," balas Aretha sambil menoel ujung hidung anaknya gemas.


"Kamu sudah kasih nama mas?" tanya Aretha menatap suaminya.


"Iya sudah," balas Gibran.


"Siapa?" tanya Aretha penasaran.


"Githa Hazna Alhusayn," jawab Gibran sambil tangannya mengelus pipi anaknya.


"Hai baby Githa, jadi anak yang sholehan ya, yang nurut sama papa, nenek dan kakek ya, jangan nakal nakal," ucap Aretha mengajak anaknya berbicara.


"Mas aku ingin deh menyusui baby Githa untuk yang terakhir kalinya," ucap Aretha.


"Kata dokter asi kamu masih belum keluar sayang, mungkin nanti setelah beberapa hari akan keluar. Kamu kenapa bilang terakhir kalinya sih, kan nanti kita akan hidup bersama, membesarkan anak kita sama sama." balas Gibran yang tak mengerti dengan apa yang Aretha katanya.


"Kamu ini ngomong apa sih yang, kita akan membesarkan anak kita sama sama, aku kamu dan anak kita," tekan Gibran yang tidak suka dengan apa yang Aretha katakan.


"Kamu juga nanti kalau aku gak ada jangan sedih ya, jangan lupa makan dan jaga kesehatan kamu, karena ada anak kita yang harus kamu rawat sampai dia dewasa nanti," ucap Aretha lagi yang masih tetap kekeuh kalau dia akan pergi tapi entah ke mana.


"Kamu ngomong apaan sih, aku gak suka kamu ngomong seperti itu," marah Gibran sehingga membuat umi Fatimah, Abi Umar, dokter dan juga suster mendekati mereka.


"Anak mama, mama sayang sama Githa tapi mama gak bisa menemani Githa di sini, mama pergi dulu ya kamu jagain papa, buat papa bahagia ya," Aretha mengajak anaknya berbicara.


"Gak, kamu gak boleh ngomong seperti itu," marah Gibran.


"Nak kamu kenapa berbicara seperti itu, emang kamu mau kemana?" ucap umi Fatimah yang berada di samping Aretha di sebrang Gibran.


"Umi, Abi, Aretha minta maaf kalau Aretha banyak salah sama kalian, Aretha titip anak Aretha ya, sayangi dia seperti umi dan Abi menyayangi Aretha, perut Aretha sakit, Aretha gak kuat," ucap Aretha yang sudah mulai melemah akibat rasa sakit di perutnya yang semakin menjadi.


"Dok, dokter kenapa dengan istri saya dok, cepat tolong dia," bentak Gibran kepada dokter yang ada di sana agar segera memeriksa keadaan istrinya.


"Baik tuan, suster tolong ambil bayinya," balas dokter itu dan menyuruh agar suster segera mengambil bayi yang ada di gendongan Aretha.


"Enggak dok, biarkan saya mengendong anak saya untuk yang terakhir kalinya, mas aku minta maaf kalau belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu, aku pergi dulu jagain anak kita, titip salam kepada Abang dan juga Ruby, aku minta maaf." Aretha mempererat pelukannya kepada anaknya agar tidak terjadi.


Dokter pun segera memeriksa keadaan Aretha, dan dia baru menyadari ternyata di bagian bawah Aretha ada banyak darah yang mengalir di sana.


"Pasien mengalami pendarahan," ucap dokter itu dan membuat semua orang menatap ke bangkar bagian bawah.


"Sayang kamu jangan pergi dulu, kamu harus kuat, kita besarkan Githa sama sama, jangan tinggalkan aku aku mohon." Gibran memohon sambil menangis di samping Aretha.


"Sakit ma-s a-ku pergi du-lu," ucap Aretha semakin melemah sambil terus mendekap anaknya.


Sedangkan Abi Umar langsung berdiri di samping Aretha dan menuntun Aretha untuk mengucapkan laa ilaha ila allah dan di ikuti Aretha dengan lemah.


"Suster siapkan peralatannya sekarang," perintah dokter yang hendak menangani Aretha.


"Ill-aallah...."


"ARETHA...."teriak Gibran menggelegar saat Aretha menutup matanya.


"Oek oek oek ...." baby Githa mungkin mengerti dengan keadaan ibunya pun menangis, suster segera mengambil bayi itu untuk dia kembalikan ke tempatnya.


"Maaf, pasien sudah tidak ada," ucap dokter itu setelah memeriksa denyut nadi dan detak jantung Aretha.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un," ucap umi, Abi dan Gibran.


"Sayang, kenapa kamu meninggalkan aku dan anak kita hiks hiks...." Gibran memeluk tubuh Aretha yang sudah tidak tidak bergerak.


"Anak umi, kenapa kamu meninggalkan umi terlebih dahulu nak hiks hiks...." tangis umi Fatimah memeluk Aretha juga.


Sedangkan Abi Umar, dia mencoba untuk tetap tegar meskipun dia juga sedih karena anak perempuannya meninggal, tapi dia harus tetap kuat untuk mengurus semuanya termasuk menghubungi keluarga keluarga yang lainnya.


...***...


Hai maaf ya pengumuman pemenang giveaway nya di tunda sangat sangat lama kemarin 🙏😁


Kali ini aku akan mengumumkan siapa pemenangnya.


Aku mengambil dua orang pemenang ya,



Pemenang pertama aku ambil dari banyaknya hadiah yang di kirimkan, namanya itu yang ada di urutan no dua, aku gak bisa nulis username nya karena itu tulisan Korea 😂 pokoknya yang ada gambar emoji 🦊 ini.


Dan untuk pemenang kedua, aku ambil dari yang sering komentar ya,



Kak @🦋Nadyne🦋 sebagai pemenang no dua.


Selamat buat kalian, dan jangan lupa untuk raeders yang lainnya untuk mampir ke cerita aku yang lainnya yaaa🥰🥰🥰


untuk kalian berdua yang menang, silahkan DM aku, atau langsung wa aku, no. 085335384642 ini yaa....


terimakasih buat kalian semuanya yang sudah setia mendukung karya karya aku 🥰🥰🥰🥰