
"Aku boleh minta nomor rekening kamu gak?" Tanya Ruby pada Arthan.
"Nomor rekening, buat apa?" tanya Arthan.
"Ya buat balikin uang kamu lah."
"Ngapain di balikin kan itu uang Lo."
"Itu jumlahnya kebanyakan Arthan." kesal Ruby.
"Ooh kebanyakan ya, ya udah buat lo aja sisanya." balas Arthan santai.
Mereka sekarang tengah berada di dalam mobil Arthan hendak ke arah rumah kontrakan Ruby. Tadi Arthan yang ngotot mau nganterin Ruby, sebenarnya Ruby sudah menolak tapi Arthan tetap memaksa dan gak mau di bantah.
"Itu jumlahnya terlalu banyak Arthan... Udah sini berapa nomor rekening kamu biar aku transfer sekarang." pinta Ruby.
"Udah gak usah itu buat lo aja, lagian uang gw masih banyak." sombong Arthan.
"Lagian lo juga lagi butuh uang kan buat biaya kelulusan adek lo." lanjut Arthan.
"Dari mana lo bisa tahu?" curiga Ruby.
"Gak penting gw tahu dari mana, yang penting sekarang lo udah gak pusing lagi mikirin uang."
"Noh dah sampai, sana turun." usir Arthan agar Ruby cepat turun dari mobilnya setelah sampai di depan rumah kontrakan Ruby.
"Makasih ya." ucap Ruby dan segera keluar dari mobil Arthan.
"Sama sama Ruby sayang." teriak Arthan agar dapat di dengar oleh Ruby yang sudah berjalan memasuki rumah.
Arthan pun segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Ruby menunju jalanan ibu kota di malam hari.
Sedangkan Ruby, wajahnya sudah bersemu merah mendengar teriakkan Arthan barusan. Dengan cepat cepat dia pergi ke kamarnya sebelum nanti adiknya tahu.
-
Pagi hari, Ghibran dan Aretha sudah bersiap untuk pergi ke toko roti milik Aretha untuk menyelesaikan masalah kemaren. Sekarang mereka tengah melakukan sarapan di meja makan.
"Kita berangkat sekarang yuk." ajak Aretha setelah selesai sarapan.
"Bentar kita tunggu bang Arthan dulu." balas Ghibran.
"Aku heran deh, kenapa sekarang kamu jadi deket banget sama dia. Perasaan dulu waktu pertama kali ketemu kalian kayak musuh gitu?" heran Aretha.
"Ya kan baru perkenalan sayang, dan kalau sekarang kan kita udah dekat jadi ya gitu deh." jawab Ghibran.
"Terus kenapa kamu tiba-tiba pangil dia Abang?"
"Kan aku waktu itu udah jelasin sama kamu kalau aku pengen ngerasain punya kakak jadi ya aku manggil bang Arthan pakai sebutan Abang."
"Beneran begitu?" tak percaya Aretha.
"Iya sayangku...." gemas Ghibran.
"Ya udah kalau dia Abang kamu berarti Abang aku juga kan? Berarti aku juga ikutan kayak kamu manggil Arthan itu bang Arthan." putus Aretha mengikuti Ghibran.
"Ya terserah kamu, aku yakin kok dia juga bakalan senang kalau kamu manggil dia seperti itu. Karena yang aku dengar dari ceritanya itu kalau dia tidak punya keluarga sama seperti aku." setuju Ghibran.
Tin tin.
Suara klakson dari dengan rumah Aretha dan Ghibran.
"Nah itu sepertinya dia udah datang, yuk kita berangkat." ajak Ghibran menggandeng tangan Aretha keluar rumah.
"Assalamualaikum bang." salam Ghibran.
"Waalaikum salam." balas Arthan.
"Loh Ruby kok sama bang Arthan?" tanya Aretha.
"Ooh itu tadi aku yang menjemputnya."
"Apa tadi kamu manggil aku apa, Abang?" lanjut Arthan tak menyangka kalau adiknya akan memanggil dirinya dengan sebutan Abang.
"Iya gak papa kan, aku kan juga sama seperti mas Ghibran yang ingin punya kakak." balas Aretha.
"Oh iya gak papa kok, Abang juga senang kalau bisa punya adik seperti kalian." balas Arthan.
"Abang ini emang Abang kamu Ret." batin Arthan sedu.
"Ya udah yuk kita berangkat sekarang, keburu nanti yang mau demo udah datang." ajak Ghibran.
Mereka pun berangkat menuju toko roti Aretha dengan mobil Arthan yang berisi Arthan dan Ruby berada di depan. Dan mobil Ghibran yang di isi Ghibran dan Aretha yang mengikuti mobil Arthan dari belakang.
-
Di depan toko roti Aretha sudah ramai akan banyak orang yang hendak menunggu bukti yang Ghibran janjikan kemarin. Bahkan sekarang juga ada beberapa wartawan yang tengah ikutan menunggu di depan toko.
Semua sudah siap, mulai dari sound sistem agar nanti kalau berbicara tidak perlu teriak teriak seperti semalam, dan tak lupa di sana juga sudah di sediakan layar proyektor untuk menampilkan bukti rekaman cctv nanti.
Aretha dan yang lainnya sudah sampai dan seperti kemarin mereka masuk melalui pintu belakang toko. Baru masuk saja Aretha sudah mencium bau yang tidak sedap yang datangnya berasal dari toilet dekat gudang.
"Ini bau apa sih, kok gak enak banget?" tanya Aretha sambil menutup hidungnya dengan tangan.
"Kamu tolong ambilkan masker buat kita." perintah Ghibran pada anak buahnya yang langsung di laksanakan oleh anak buah Ghibran.
"Lo nanti juga akan tahu Ret, pesan gw aja sih mending lo bawa pewangi banyak banyak agar lo tidak mencium bau tidak sedap ini." ucap Ruby.
"Ya udah yuk kita masuk." ajak Ghibran menggandeng tangan Aretha masuk ke dalam toko dan di ikuti yang lainnya.
Mereka akan segera memulai acara ini agar masalah cepat selesai dan nanti bisa rebahan manja di rumah.
"Assalamualaikum wr wb." salam Ghibran membuka acara.
"Waalaikum salam wr wb." balas mereka semua.
"Seperti yang saya bilang kemaren kalau saya hari ini akan membawa bukti masalah yang kemarin bukan salah toko ini, tapi karena adanya sabotase pihak yang tidak suka dengan toko kami." ucap Ghibran dengan tegas dan berwibawa di hadapan mereka semua.
"Ayo cepat mana buktinya mana?" teriak mereka yang tidak sabaran.
"Bang Arthan cepat putar rekamannya." perintah Ghibran dan langsung di laksanakan oleh Arthan.
Di proyektor mulai terlihat ada seorang yang memakai baju serba hitam keluar dari kamar mandi dan mulai mengendap-endap secara mencurigakan menuju dapur. Mereka semua nonton dengan tenang seperti tengah menonton sebuah drama kolosal.
Tak lupa juga para wartawan merekam itu semua sebagai bahan berita nanti yang mereka yakini akan menjadi trending topik. Apalagi setelah mereka mencari tahu kalau ternyata yang punya toko roti ini adalah anak dari Tuan Umar pemilik perusahaan yang cukup besar di Jakarta. Membuat mereka dengan semangat untuk meliput berita ini.
Rekaman video sudah selesai, sekarang anak buah Arthan mulai menyeret Nafisah yang keadaannya sudah tidak berbentuk dengan banyaknya kotoran yang menempel di pakaian. Nafisah di bawa keluar dan di tempatkan di sudut paling jelas jika orang lain akan melihatnya.
"Huek bau apa ini, sangat menyengat banget."
"Iya ini bau banget."
"Lihatlah di depan sana, sepertinya bau ini berasal dari wanita itu."
Itulah komentar orang orang yang ada di sana. Bahkan dengan terang terangan mereka menutup hidungnya dan memandang jijik pada Nafisah.
Nafisah yang merasa malu pun mengeluarkan air matanya. Dia malu karena banyak orang yang melihat penampilannya yang sekarang, bahkan ada juga dari mereka yang memfoto Nafisah dan akan menggunggah nya di media sosial mereka.
Nafisah sudah menebak pasti nanti teman temannya di Jember dan orang tuanya akan kaget sekaligus memandang jijik kepadanya.
...***...