
"Ret gw mau ngomong sama Lo." ucap Ruby setelah kepergian teman Aretha.
"Mau ngomong apa? Oh iya lo semalam gak kenapa kenapa kan? Lo kemana aja semalam gw khawatir sama Lo." berondong Aretha dengan banyak pertanyaan.
Aretha membolak-balikkan tubuh Ruby untuk memastikan kalau tidak ada bagian tubuh Ruby yang berkurang.
"Maaf...." ucap Ruby lirih.
Ruby semakin merasa bersalah saat melihat betapa khawatirnya Aretha terhadap dirinya.
"Kenapa kamu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf sama kamu. Bukannya tolongin kamu waktu sakit perut, aku malah pergi nonton, ya meskipun akhirnya gak menyenangkan sih."
"Maksud kamu gak menyenangkan itu gimana ya? Bukannya kalian berdua pergi nonton, seharusnya kan Bani bakal nyatain cinta sama kamu?" heran Ruby, pasalnya Bani bilang seperti itu ketika meminta dia untuk pergi dan gak mengganggu Bani dan Aretha berduaan.
"Dih nyatain cinta, asal lo tahu ya hampir aja gw di lecehkan sama tuh anak. Untung aja ada yang nolongin gw, kalau enggak entahlah gw udah jadi apa."
"Tunggu tunggu, ini apa lagi, Bani hampir melecehkan Lo?" tanya Ruby tak percaya.
"Heem, dia tak terima aku tolak terus dia mau nyicum gw. Ya gw gak mau lah, terus dia paksa gw, gw semalam udah gak bisa berkutik. Orang orang di sana juga gak ada yang mau bantu, tapi sebelum dia berhasil nyium gw ada orang yang nonjok muka dia."
"Hah, siapa tuh?"
"Dia Ghibran, orang yang mau di jodohin sama gw." jawab Aretha yang semakin membuat Ruby kaget.
"Lo di jodohin?"
"Ya begitulah, entah apa yang di pikirkan Abi sampai sampai mau jodohin aku sama dia."
"Mana sih orangnya, ganteng gak?" tanya Ruby kepo.
"Yeee lo mah kalau soal ganteng aja maju."
"Ya harus dong."
"Ganteng sih, cuma entah kenapa gw agak gak suka sama dia."
"Kenapa lo gak suka?"
"Hati-hati loh, nanti biasanya jadi bucin kalau awal awalnya gak suka gitu."
"Ya kita lihat aja nanti." balas Aretha pasrah.
"Terus gimana, lo mau menerima perjodohan itu gak?"
"Selama dia belum ngomong langsung sama gw, gw gak bakal ambil keputusan walaupun dia udah bilang sama Abi." jawab Aretha.
Tiba tiba Ruby terdiam dan raut wajahnya berubah menjadi sendu. Dia baru tersadar dengan ucapan Aretha yang tadi. Aretha hampir di lecehkan oleh Bani, dan itu gara gara dirinya. Andaikan hal itu beneran terjadi, mungkin Ruby tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Lo kenapa?" tanya Aretha yang menyadari perubahan sikap Ruby.
"Ret, sebenarnya semalam itu gw, gw...." Ruby menjeda ucapannya, dia takut untuk menggakui yang sebenarnya pada Aretha, dia takut Aretha marah padanya.
"Gw, gw apa?" tak sabar Aretha.
"Sebenarnya gw semalam enggak pergi ke toilet, dan gw juga enggak sakit perut." akhirnya Ruby bisa mengatakannya pada Aretha.
"Loh, trus semalam lo kemana, kok gw cari cari gak ada. Bahkan gw udah telfon nomor lo beberapa kali tapi nomor lo gak aktif."
"Ponsel gw semalam gw nonaktifin, gw mau ngaku sesuatu sama Lo, kalau lo habis ini mau pecat gw gak papa kok gw ikhlas karena semua ini juga salah gw."
"Lo ngomong apaan sih, emang lo lakuin apa sampai sampai gw harus marah gitu?"
"Sebenarnya gw semalam di sogok kartu kredit sama Bani dengan syarat gw gak ganggu kalian berdua jalan." jelas Ruby sambil menunduk tak mau menatap wajah Aretha karena takut.
Deg.
Aretha terdiam, dia mencerna apa yang Ruby katakan barusan agar dia tidak salah tangkap. Ruby yang tak mendengar balasan dari Aretha pun mendongakkan kepalanya, dia semakin takut saat memandang Aretha yang terdiam.
"Ret gw minta maaf, gw gak bermaksud buat lo dalam bahaya. Gw gak nyangka kalau Bani akan sebejat itu sama Lo. Gw terima kalau habis ini lo bakal pecat gw dari sini." ucap Ruby panjang lebar sambil menggenggam tangan Aretha yang berada di atas pahanya.
Aretha melepaskan tangan Ruby dengan paksa dan menggangkat tangannya hendak menampar Ruby, Ruby sudah memejamkan matanya menunggu hadiah yang akan Aretha berikan pada dirinya.
...***...