AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 60



"Ehh tunggu tunggu, jadi saudara kamu itu...." Ghibran menggantung ucapannya dan mendapatkan anggukan dari Arthan.


"Sumpah ini gak masuk akal, kamu bohong kan?" tanya Ghibran tidak percaya.


"Terserah lo mau percaya atau tidak yang pasti apa yang gw ucapkan itu nyata. Tidak ada yang tahun perihal masalah ini. Bahkan Aretha pun tidak tahu." balas Arthan meyakinkan.


"Trus siapa musuh Abi itu?" tanya Ghibran penasaran.


"Nanti akan gw kasih tahu, tapi tidak sekarang, karena ada yang menguping pembicaraan kita." jawab Arthan dengan wajah yang menatap Ghibran dengan serius sambil menampilkan senyuman yang menyeramkan.


"Di mana?" tanya Ghibran penasaran.


"Arah jam dua belas, jendela sebelah kanan sendiri." jawab Arthan.


Ghibran pun menengok ke arah barat lalu tapi matanya melirik ke arah Utara untuk melihat siapa yang mengawasi mereka berdua.


"Nafisah." gumam Ghibran yang mengetahui siapa yang telah menguping.


"Iya dia, dia mantan lo bukan?"


"Kok kamu bisa tahu?" heran Ghibran.


"Semua tentang lo gw tahu, bahkan siapa orang tua lo gw juga tahu. Gw gak akan membiarkan sembarang orang hidup bersama adik gw." jawab Arthan dengan tenang dan suara yang lirih.


"Permisi tuan ini pesanan anda." ucap pelayan cafe membawakan pesanan mereka berdua.


"Iya terima kasih." ucap Ghibran ramah.


"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti kalau ada perlu bisa pangil saya atau yang lain." pamit pelayan itu.


"Hmm." balas Arthan sambil mengibaskan tangannya seolah menyuruh pelayan itu cepat cepat pergi dari sana.


"Kita pulang saja lanjutkan pembicaraan di mobil, situasi di sini sudah tidak aman." ajakan Arthan dan di angguki oleh Ghibran.


Mereka berdua pun pergi tanpa menyantap pesanan mereka seicip pun. Begitu juga dengan Nafisah, dia juga ikutan pergi dari tempat persembunyiannya tadi.


"Lo gak usah khawatir mantan lo tahu masalah yang gw ucapkan tadi, karena yang gw lihat dia baru saja datang. Tapi yang harus lo khawatir kan adalah nanti saat lo sampai di pesantren. Gw yakin dia udah merencanakan sesuatu buat lo dan Aretha." ucap Arthan setelah memasuki mobil.


"Maksud kamu?" bingung Ghibran.


"Lo nanti juga akan tahu gimana sifat asli mantan lo itu. Satu hal yang gw minta, jangan sampai ada air mata yang keluar dari mata adik gw malam ini." pinta Arthan.


Ghibran hanya diam saja, pikirannya sibuk mencari rencana apa yang di maksud Arthan tadi. Apakah Aretha dalam bahaya lagi? pikir Ghibran.


"Udah gak usah lo pikirkan, nanti kalau gak ada yang percaya sama lo gw bakal bantu." ucap Arthan yang tahu apa yang ada di pikiran Ghibran. Dan hal itu semakin membuat Ghibran bingung.


"Tauk dah pusing aku." ucap Ghibran.


"Ya makanya jangan lo pikirin, udah bawa santai aja. Kalau bisa lo ikutin cara main dia."


"Hmm."


"Oh iya bang, kita cari makanan dulu buat oleh oleh di pesantren. Tadi aku udah janji sana bini kalau mau bawain dia oleh oleh." ucap Ghibran memangil Arthan dengan sebutan Abang.


"Apa tadi lo manggil gw gimana, Abang?" tanya Arthan sambil terkekeh mengerikan dan mendapatkan anggukan dari Ghibran.


"Jijik banget gw dengernya, tapi gak papa sih dah lama juga gw menanti hal itu. Apalagi kalau Aretha yang ngomong."


"Abang tenang aja, nanti Ghibran bakalan bantu sebisanya Ghibran. Tapi sebelum itu Ghibran mau tanya dulu sama Abi perihal masalah ini."


"Lo masih gak percaya sama gw?"


"Ya bukan begitu, kalau Ghibran tahu lebih jelasnya kan lebih enak."


"Iya dah terserah lo aja."


"Bang jangan lupa cari makanan." Ghibran mengingatkan Arthan.


Mereka pun mencari makanan untuk di bawa pulang. Setelah mendapatkannya mereka pun melanjutkan perjalanan pulang menuju pesantren. Makanan yang mereka dapat hanya martabak manis, martabak telur sama gula kapas yang tadi Ghibran dapat di pinggir jalan.


"Kamu gak mau ikutan masuk juga?" tanya Ghibran setelah mobil Arthan berhenti di depan gerbang pesantren.


"Gak deh lain kali aja, nanti kakek sama nenek bisa curiga lihat muka gw." tolak Aretha.


"Ooh gitu, ya udah aku masuk dulu ya. Assalamualaikum." Ghibran keluar dari mobil Arthan sambil tangannya penuh dengan makanan.


"Waalaikum salam. Hati hati saat masuk ndalem nanti, pasti bakalan ada drama. Siapkan mental Lo." peringat Arthan dan segera pergi dari sana.


Meskipun bingung dengan peringatan yang Arthan berikan, tapi Ghibran tetap menganggap santai akan hal itu. Dia pikir Arthan hanya bercanda saja.


Saat melewati jalan menuju ndalem, banyak para santri yang masih belum tidur memperhatikan Ghibran. Bahkan ada juga yang terang terangan membicarakan Ghibran. Tapi Ghibran mah masalah boda, toh dia tidak merugikan orang lain.


"Assalamualaikum." salam dua orang secara bersamaan.


Ghibran segera menoleh ke samping, dan betapa kagetnya dia saat melihat Nafisah ada di sampingnya dan sama membawa martabak dengan dirinya.


"Kamu...." ucapan Ghibran terhenti setelah mendengar suara orang menangis dari dalam.


"Waalaikum salam. Kalian." sahut orang orang dari dalam rumah Kiyai Mahfudz.


"Hiks hiks mas Ghibran hiks." Tangis Aretha saat melihat Ghibran datang bersama Nafisah.


"Sayang kamu kenapa?" panik Ghibran menghampiri Aretha tak memperdulikan Nafisah lagi.


"Kamu dari mana Hah?"sentak Wahyu bertanya pada Nafisah istrinya.


"Sabar dong mas jangan marah marah, aku tadi cuma pergi keluar sebentar bersama Ghibran." jawab Nafisah membuat semua orang menatap dirinya dan Ghibran bergantian.


"Mas benar itu hiks, kamu bilang tadi mau ketemu sama teman kamu. Dan apa buktinya kamu malah pergi sama dia hiks." tangis Aretha.


"Enggak sayang kamu jangan percaya sama dia, dia itu bohong." sangkal Ghibran.


"Kamu kok gitu sih Ghib, kan tadi kamu yang ngajakin aku pergi. Katanya mau kangen kangenan." sahut Nafisah dengan wajah yang pura pura bersedih.


"Heh, lo kalau ngomong jangan sembarang ya." marah Ghibran. Hilang sudah sopan santunnya.


Padahal biasanya Ghibran kalau berbicara pada orang itu mengunakan aku kamu, tapi kali ini tidak karena Ghibran sudah muak. Ghibran juga membuang semua makanan yang dia bawa tadi ke lantai hingga berceceran.


"Jangan bentak bentak istri saya." bela Wahyu pada istrinya.


"Kamu gak usah percaya sama istri mu itu, dia itu pembohong." balas Ghibran tak mau di salahkan.


"Astaghfirullah hallazim, enggak sayang aku enggak bohong. Tadi dia sendiri yang ngajakin aku pergi. Bahkan tadi aku sudah menolak karena aku sudah punya suami tapi dia tetap maksa aku. Katanya kalau aku gak mau dia bakal bongkar aib aku sama dia dulu mas." drama Nafisah sambil mengeluarkan air matanya dalam pelukan Wahyu.


"Heh, sekali lagi lo ngomong yang enggak enggak, gw abisin Lo." marah Ghibran.


"Tuh kan mas dia ancam aku, aku takut mas hiks hiks." tangis Nafisah.


"UDAH STOP STOP." teriak Aretha dan berlari menuju kamarnya.


"Sayang dengerin aku, ini semua hanya fitnah." ucap Ghibran sambil mengejar Aretha yang sudah masuk ke dalam kamar.


"Maaf Romo yai, ibu Nyai Wahyu izin mau pamit pulang saja. Besok Wahyu akan ke sini lagi untuk membicarakan masalah ini. Tidak baik bagi istri saya kalau terus terusan berada di sini." pamit Wahyu pada kiyai Mahfudz dan ibu nyai Halimah yang sedari tadi melihat perdebatan di depannya.


"Ya udah nak gak papa, kalian hati hati ya di jalan. Jangan terbawa emosi, selesaikan masalah ini dengan kepala dingin." ucap Kiyai Mahfudz.


"Inggih Romo yai."


Wahyu dan Nafisah pun pamit pulang setelah membereskan barang barang mereka.


...***...