AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 74



"Emang di mana buktinya?" tanya Aretha penasaran.


"Kalian berdua ini bodoh atau apa sih, masak yang punya toko malah gak tahu." ledek Arthan.


"Tuh lihat." lanjut Arthan menujuk ke arah pojok dengan dagunya.


"Astaghfirullah hallazim, kenapa aku lupa ya." heboh Ruby.


"Emang di pojok situ ada apaan?" tanya Aretha tidak faham.


"Loh, lo gak tahu kalau di pojok ada cctv?" tanya Arthan dan di balas gelengan kepala oleh Aretha.


"Kok bisa?"


"Hehehe itu aku yang taruh." cengir Ruby.


"Wah parah sih ini, masak yang punya toko malah tidak tahu di mana letak cctv nya." tak habis pikir Arthan.


"Apaan sih lo, orang Aretha sendiri kok yang nyuruh gw masang cctv di tempat paling tersembunyi dan gak bisa di lihat orang. Cuma gw lupa aja ngasih tahu Aretha." jelas Ruby tak mau di salahkan.


"Ya udah tunggu apa lagi, ayo kita ambil rekamannya." ucap Aretha tak sabaran.


"Lo bawel banget ya, heran gw kenapa Ghibran mau sama Lo." ucap Arthan.


"Ya kan cinta." balas Aretha santai.


"Udah ayo kita ambil rekaman cctvnya." ajak Aretha.


Mereka berempat pun beranjak menuju ruangan Aretha. Dan Arthan lah yang bertugas mencari rekaman cctv orang yang mencurigakan di toko Aretha.


Jika kalian bertanya di mana Ghibran, maka jawabannya adalah dia sedang bermanja-manja terhadap Aretha.


Ghibran tiduran di sofa yang ada di dalam ruangan kerja Aretha sambil paha Aretha yang menjadi bantalnya.


Sedangkan Ruby, dia tengah membuatkan minuman untuk mereka semua agar lebih semangat dalam mencari pelaku yang sudah menyusahkan mereka semua.


-


"Dari mana saja kamu?" bentak Wahyu menyambut kepulangan Aretha di ruang tamu rumah Wahyu dan Aretha.


"Mas-mas Wahyu kok udah pulang." gagap Nafisah.


"Saya tanya dari mana saja kamu Hah?" tegas Wahyu.


"A-aku...."


"Kemana saja kamu dua hari ini Hah, kamu ijin sama aku katanya mau pulang. Dan di sini kamu ijin ke ibu dan ayah kalau kamu balik lagi ke Malang. Dan aku pulang ke sini semalam kamu tidak ada di rumah. Dari mana saja kamu?" potong Wahyu.


"A-aku kan sudah bilang sama mas Wahyu kalau aku ada ketemuan sama sahabat aku. Dan dia ngajakin aku nginap di rumahnya. Maaf kalau aku gak izin sama mas Wahyu karena aku takut mas Wahyu gak akan ngizinin aku." bohong Nafisah.


"Terus kenapa kamu bohong sama ibu dan ayah hmm?" menatap Nafisah tajam.


"Aku takut mereka tidak akan izinin, karena keluarga aku ada masalah dengan keluarga sahabat aku." bohong Nafisah lagi.


Sepertinya dulu waktu SMA Nafisah adalah ratu drama yang paling terkenal seantero. Buktinya saja dia dengan mudah berbohong pada Wahyu tanpa harus di rencanakan.


"Benar kamu tidak bohong?" tanya Wahyu memastikan.


"Iya mas aku gak bohong, maaf sudah buat mas Wahyu khawatir." memeluk lengan Wahyu.


"Ya udah kamu bersih bersih sana, nanti aku mau bicara sesuatu sama kamu." suruh Wahyu dan langsung di laksanakan oleh Nafisah.


Nafisah pun pergi menuju kamarnya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya. Untung saja suaminya itu mudah di kibuli. Coba kalau tidak, udah habis Nafisah tadi.


-


"Nah dapat." seru Arthan membuat Aretha dan Ruby berbondong-bondong menghampiri Arthan.


"Siapa siapa?" heboh Aretha dan Ruby.


"Tuh lihat aja sendiri." tunjuk Arthan pada layar laptop milik Aretha.


Aretha dan Ruby pun memperhatikan layar laptop yang menampilkan seseorang memakai pakaian serba hitam keluar dari kamar mandi dan berjalan mengendap-endap dan bersembunyi di balik tembok.


"Tapi itu wajahnya gak kelihatan." ucap Aretha.


"Makanya nona kalau melihat sesuatu itu usahakan sampai akhir baru komen, jangan nonton sebentar langsung komen." balas Arthan.


Aretha pun tak menghiraukan Arthan dia tetap fokus menatap layar laptop miliknya, hingga dia akhir video barulah di kaget.


"Nafisah." ucap Aretha tak percaya melihat siapa pelaku di balik ini semua.


"Ya, dialah pelakunya. Sebenarnya sih tanpa melihat rekaman ini gw juga sudah tahu siapa pelakunya. Tapi kalau gw langsung bilang kalian pasti tidak akan percaya kalau gak ada buktinya." balas Arthan yang emang sudah mengetahui rencana jahat Nafisah. Arthan selalu mengawasi gerak-gerik Nafisah setelah apa yang dia buat di Malang waktu itu.


"Lo kenal Ret sama dia?" tanya Ruby.


"Hmm, dia mantan mas Ghibran." balas Aretha.


"Wow beneran? Udah kelas sih ini motifnya pasti mau hancurin hidup lo terus nanti dia ambil Ghibran dari Lo." balas Ruby.


"Udah jelas kan semua pelakunya siapa, udah yuk yang kita pulang." ajak Ghibran yang sedari tadi diam saja.


"Kamu kok biasa aja sih lihat mantan kamu melakukan tindakan seperti itu?" curiga Aretha.


"Gak usah mikir yang aneh aneh deh, aku udah di kasih tahu sama bang Arthan tadi di rumah." sanggah Ghibran.


"Udah ahh yok pulang, biarin bang Arthan yang urus semua." ajak Ghibran menarik tangan Aretha pergi dari sana.


"Assalamualaikum." salam Ghibran dan Aretha.


"Waalaikum salam." balas Ruby.


"Woy lo berdua yang punya nih toko, kenapa jadi gw yang repot." teriak Arthan tapi tak di hiraukan oleh Ghibran.


"Apaan sih lo teriak teriak. Udah kerjain semuanya gw mau keluar dulu liat yang lain." pamit Ruby juga meninggalkan Arthan di ruangan kerja Aretha sendirian.


"Sekate kate ya lo pada." kesal Arthan, tapi dia tetap melanjutkan pekerjaannya.


Arthan langsung menyuruh anak buahnya untuk menjemput Nafisah dengan paksa. Bahkan kalau perlu suaminya juga sekalian di bawa biar dia tahu tingkah laku istrinya selama ini.


Sedangkan Ruby, dia mantau para karyawan yang tengah membereskan kekacauan yang di niat oleh para pedemo tadi.


-


Ghibran dan Aretha sudah selesai melaksanakan sholat ashar. Mereka berdua sekarang tengah bersantai di ruang televisi dengan Aretha yang tiduran di paha Ghibran. Dan Ghibran yang memainkan ponsel di tangannya.


"Kamu lagi ngapain sih, kok kayak sibuk banget?" tanya Aretha penasaran.


"Ini aku memantau perkembangan pembangunan cabang cafe di negara sebrang." jawab Ghibran tak mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di tangannya.


"Oh."


Mendengar istrinya dalam mode minta di manja, Ghibran pun meletakkan ponselnya di meja dan beralih mengelus kepala Aretha yang sedang tidak memakai jilbab nya. Karena di rumah kosong tidak ada orang lain selain mereka berdua, jadi aman buat Aretha kalau mau lepas jilbab.


"Kenapa hmm?" tanya Ghibran lembut.


"Kamu cuekin aku." cemberut Aretha.


"Kan aku lagi kerja sayang, cari uang buat kamu dan dedek bayinya nanti." ujar Ghibran sambil mengelus perut Aretha.


...***...