
Malam setelah sholat isya semua orang sudah pulang kecuali Ghibran, Aretha, Nafisah dan Wahyu. Mereka akan menginap di rumah Kiyai Mahfudz.
"Sayang aku mau izin keluar sebentar boleh gak?" tanya Ghibran meminta izin pada istrinya.
"Mau kemana?" tanya Aretha yang tengah fokus merapikan pakaian mereka, karena besok pagi setelah sholat subuh mereka harus berangkat ke Jakarta.
" Ada temen ku yang ngajak ketemuan, katanya dia mau curhat sama aku." jawab Ghibran.
"Ooh ya udah aku ikut ya!"
"Maaf sayang, dia bilang dia gak mau ada orang lain yang denger."
"Oh ya udah sana." usir Aretha.
"Sayang jangan marah ya, beneran loh dia gak bolehin aku bawa kamu ke sana. Plis jangan marah ya...."
"Hmm."
"Ayang...." rengek Ghibran mengayunkan tangan Aretha seperti anak kecil yang meminta di belikan sesuatu oleh ibunya.
"Apa sih?" sinis Aretha.
"Jangan marah ya, nanti aku beliin sesuatu deh kalau aku pulang."
"Iya aku gak marah, udah sana pergi nanti keburu makin malam. Salam buat teman kamu."
"Nah gitu dong, ya udah aku pergi duluan ya. Kamu mau nitip aku beliin apa?" tanya Ghibran.
"Terserah kamu saja, semua makanan pasti aku makan kok." jawab Aretha.
"Ya udah aku pergi dulu, Assalamualaikum."
Cup.
Pamit Ghibran di iringi dengan kecupan di kening Aretha.
"Waalaikum salam, hati hati di jalan jangan. Oh iya kamu mau pakai kendaraan apa?" tanya Aretha, pasalnya mereka ke sini tidak membawa mobil.
"Aku di jemput di depan gerbang sama temen aku. Aku pergi dulu ya."
"Tunggu dulu." tahan Aretha.
"Ada apa hmm? Katanya tadi suruh cepat cepat berangkat."
"Aku belum salim." ucap Aretha sambil menunduk karena malu.
"Oh iya aku lupa, sini." menyodorkan tangannya dan di sambut oleh Aretha.
"Hati hati ya."
"Iya sayang, assalamualaikum."
"Waalaikum salam." balas Aretha.
Ghibran pun pergi meninggalkan Aretha sendirian di dalam kamar.
Saat melewati ruang tengah dan ruang tamu di sana sepi tidak ada orang sama sekali. Alhasil Ghibran pun pergi tanpa berpamitan pada yang lain terlebih dahulu, toh kasian juga Arthan yang sudah menunggu Ghibran lama di depan gerbang.
Tanpa Ghibran ketahui ada seseorang yang melihat kepergian Ghibran dari balik tembok menuju dapur.
"Itu Ghibran mau kemana?" gumam Nafisah yang melihat Ghibran pergi dengan pakaian yang rapi.
"Tak mau membuang waktu, Nafisah segera pergi ke kamar untuk mengambil tasnya. Kebetulan tadi Wahyu suaminya tengah tidak ada di kamar, alhasil dia pun dapat pergi dengan tenang tanpa ada gangguan meminta izin pada yang lainnya.
-
"Sorry kamu pasti nunggu lama ya." ucap Ghibran saat memasuki mobil Arthan.
"Iya santai aja, gw tahu kok izin keluar dari pesantren itu tidak mudah." balas Arthan dan di balas cengiran oleh Ghibran.
Arthan pun segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota Malang yang sejuk udaranya. Apalagi keadaan sehabis hujan seperti ini.
"Kita mau ngobrol di mana?" tanya Ghibran.
"Udah barusan sehabis sholat isya." jawab Ghibran.
"Ya udah kita ngobrol sambil minum kopi aja di cafe deket sini." usul Arthan dan di angguki oleh Ghibran.
Mereka berdua sudah sampai di cafe yang akan mereka gunakan buat Arthan curhat pada Ghibran. Mereka pun segera masuk dan berjalan menuju ruangan yang private karena tadi anak buah Arthan sudah memesankan nya.
"Silahkan tuan, mau pesan apa?" tanya pelayan cafe pada Arthan dan Ghibran.
"Saya capuccino hangat saja mbak." jawab Ghibran.
"Kalau tuan?"
"Saya samakan saja dengan dia, sama tambah stik kentangnya dua mbak." jawab Arthan.
"Saya ulangi pesannya, capuccino hangat dua sama stik kentangnya dua." ucap pelayan cafe dan di angguki oleh mereka berdua.
"Silahkan di tunggu sebentar tuan, tidak sampai sepuluh menit pesanan akan datang."
"Hmm." jawab mereka berdua kompak yang membuat pelayan itu sempat terpesona.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua yang tengah duduk anteng dan saling diam satu sama lain.
"Kamu mau curhat apa?" tanya Ghibran to the poin.
"Gw bingung mau mulai dari mana, karena masalah ini sudah terlalu lama. Bahkan saat gw masih bayi dulu." jawab Arthan sedu.
"Emang masalahnya apa, masalah keluarga kah?"
"Hmm, ini masalah keluarga gw." balas Arthan sambil menatap kosong ke depan.
"Terserah kamu mau mulai dari mana, ceritakan saja pelan pelan aku pasti bakal mendengarkannya kok. Kalau nanti kamu memerlukan saran sebisa mungkin aku akan memberikan saran pada masalah yang kamu hadapi ini." ujar Ghibran dewasa.
"Jadi gw tuh punya saudara kembar, dan kami terpisah sejak bayi." jelas Arthan.
"Dulu gw waktu bayi di culik sama musuh bokap gw dan gw di taruh di depan panti asuhan. Gw gak tahu kalau gw masih punya saudara, gw tahunya waktu gw lulus SMP setelah mencari tahunya sendiri. Dan sekarang gw udah tahu di mana tempat tinggal saudara kembar gw sama keluarga gw yang lainnya."
"Trus?" tanya Ghibran heran, bukannya kalau sudah tahu tinggal temuin mereka saja dan jelasin semuanya. Selesai kan masalahnya. pikir Ghibran.
"Trus gw bingung harus gimana."
"Ya kamu tinggal temuin mereka aja kan mudah, mumpung masih di beri kesempatan buat ketemu sama mereka. Jangan sampai kamu seperti aku yang sudah tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuaku." sarana Ghibran simpel.
"Tidak semudah itu Ghib, musuh bokap gw masih hidup sampai sekarang. Dan orang itu mengira kalau gw udah mati, kalau gw kembali dan orang itu tahu maka orang itu akan mencelakai keluarga gw yang lain. Terlebih yang gw takutin orang itu akan mengincar saudara kembar gw."
"Susah sih kalau gitu,"
"Bagaimana kalau kamu ajak mereka ketemu secara diam diam kayaknya gini, kan otomatis mereka gak bakalan tahu." lanjut Ghibran memberikan saran.
"Kalau bisa itu udah gw lakukan dari lama Ghib, bahkan mungkin saja orang itu tahu kalau kita sekarang lagi ketemuan seperti ini."
"Hah seriusan, emang sehebat apa mereka sampai bisa mengawasi keluarga kamu semuanya?" tak menyangka Ghibran.
"Kalau di bilang hebat sih enggak karena masih hebat gw. Tapi mereka punya mata mata di keluarga gw sampai saat ini yang bahkan belum gw tahu siapa mata mata itu sampai sekarang." jelas Arthan.
"Susah juga sih kalau kayak gitu." Ghibran ikutan bingung.
"Terus rencana kamu mau gimana sekarang?" tanya Ghibran.
"Gw ngajak lo ketemuan di sini sekaligus ingin minta tolong sama Lo."
"Minta tolong apa? Kalau aku bisa pasti aku bantu."
"Jagain Aretha." ucap Arthan dengan mode serius.
"Hah, maksud kamu?" bingung Ghibran, apa hubungannya Arthan dan Aretha. pikir Ghibran.
"Ehh tunggu tunggu, jadi saudara kamu itu...."
...***...