
Bruk.
Aretha terjatuh dalam pelukan Ghibran. Beruntungnya tadi saat kaki Aretha tersangkut gamis yang dia pakai sendiri Ghibran segera berlari menangkapnya, sehingga Aretha tidak jadi terjatuh ke lantai.
"Kamu gak papa kan?" tanya Ghibran panik menatap seluruh tubuh Aretha mencari ada yang terluka apa tidak.
"Aku gak papa kok, maaf karena aku gak hati hati tadi." jawab Aretha merasa bersalah.
"Retha sayang kamu gak papa kan?" tanya Abi Umar menghampiri Aretha.
"Gak papa kok Bi." jawab Aretha.
"Makanya lo tuh lagi hamil, jangan kebanyakan gaya." cerocos Arthan yang berada di samping Abi Umar.
"Bang Arthan diam aja deh, kita gak ngajak abang bicara." balas Aretha sinis.
"Hus, kamu gak boleh ngomong gitu sama bang Arthan, gak sopan." tegur Ghibran.
"Tapi kan dia yang mulai duluan mas." balas Aretha.
"Udah udah, kita makan aja yok, Abi udah laper." ajak Abi Umar.
"Ya udah ayo, Arthan juga udah lapar." balas Arthan dan berlalu meninggalkan mereka semua menuju meja makan.
"Lah yang punya rumah siapa coba." cibir Aretha.
"Udah ayo kita makan, kamu pasti belum makan kan." ajak Ghibran menggandeng tangan Aretha menuju ruang makan.
Mereka pun makan dengan tenang, tidak ada keanehan yang Aretha perlihatkan. Dia bersikap biasa saja, seperti tidak ingin mengerjai Abi Umar dan Arthan.
"Bang...." pangil Aretha pada Arthan yang membuat bulu kuduk Arthan berdiri.
"Bi, Ghib gw pamit pulang dulu ya." pamit Ghibran untuk menghindari Aretha.
"Bang Arthan mau kemana?" tanya Aretha menahan Arthan.
"Abang mau pulang dulu, kerjaan abang sudah menunggu." jawab Arthan.
"Yah kok pulang sih, padahal kan Aretha mau minta sesuatu." sedu Aretha. Bahkan sekarang matanya sudah berkaca-kaca.
"Bee...." Aretha bergelayut di lengan Ghibran dan menggoyang goyangkan lengan Ghibran.
"Kenapa hmm?" tanya Ghibran.
"Minta uangnya." minta Aretha.
"Mau buat apa emang hmm, kan uangnya kamu yang pegang."
"Aku mau bayar bang Arthan biar dia tetap di sini." jawab Aretha polos yang membuat Ghibran menatap Arthan.
"Huh... baiklah." ngalah Arthan, toh Aretha juga saudaranya sendiri.
"Ya udah yuk." ajak Aretha menyeret Ghibran keluar dari rumah dan di ikuti Abi Umar serta Arthan.
Aretha menggajak mereka semua menuju belakang rumah yang terdapat kolam renang.
"Kita mau ngapain di sini?" tanya Arthan.
"Main petak umpet." jawab Aretha membuat ketiga lelaki itu seketika menepuk jidat mereka sendiri sendiri.
"Kamu gak salah yang?" tak percaya Ghibran.
"Ini permainan anak anak loh Ret." timpal Arthan.
"Aretha sayang, Abi duduk di sana aja ya, kan Abi sudah tua mana mungkin Abi main petak umpet." ucap Abi Umar agar tidak masuk dalam permainan Aretha.
"Iiih gak boleh Abi, Aretha maunya kita semuanya ikutan main." kekeuh Aretha.
"Udah ikut aja bi, biar awet muda." ajak Ghibran.
"Ya udah ayo." pasrah Abi Umar.
"Ya udah ayo sekarang kita hom pim pa." ajak Aretha mengulurkan tangan kanannya.
"Hom pim pa? apa itu?" tanya Arthan tidak tahu.
"Iiih masak bang Arthan gak tahu sih, itu loh yang tangannya di bolak balik trus nanti siapa yang beda sendiri dia yang jadi." jelas Aretha.
"Jadi apaan?"bingung Arthan.
"Jadi yang jaga. Udah ayo cepat biar cepat main." ucap Aretha.
Mereka berempat sudah saling mengulurkan tangan kanan mereka masing-masing dan Aretha pun mulai menyanyikan lagu dari hom pim pa.
"Hom pim pa walak walik gedang goreng." ucap Aretha bernyanyi.
Arthan yang tidak mengerti apa itu pun hanya mengikuti Abi Umar dan Ghibran.
"Yee bang Arthan tadi telat, berarti karena semuanya sama dan bang Arthan yang telat balik telapak tangan makan bang Arthan yang jaga." tunjuk Aretha pada Arthan.
"Lah kok gw, gw gak ngerti tadi cara mainnya." protes Arthan.
"Udah kamu turutin aja, dari pada nanti kita makin lama di sini emang kamu mau?" bisik Abi Umar.
"Ya udah iya gw yang jaga." putus Arthan.
...***...