
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam akhirnya mereka sampai Bandar Udara Abdulrachman Saleh. Mereka berdua di jemput oleh dua orang santri di pesantren KH Mahfudz yang sudah di perintahkan untuk menjemput Ghibran dan Aretha.
"Assalamualaikum neng Retha dan Gus Ghibran." salam mereka berdua saat Ghibran dan Aretha sudah ada di hadapannya.
"Waalaikum salam." balas Ghibran dan Aretha.
"Kalian jangan panggil saya Gus, saya belum pantas untuk di pangil seperti itu." ucap Ghibran.
"Maaf Gus, tapi itu perintah dari Romo yai." balas salah satu di antara mereka dengan sopan.
"Ya udah terserah kalian saja."
Sedangkan Aretha dia hanya diam saja, toh dia setiap kali ke tempat nenek kakeknya juga di pangil neng, jadi dia sudah terbiasa.
"Mari neng, gus mobilnya ada di sana." menunjuk sebuah mobil warna putih.
"Ya udah yuk." Ghibran menggandeng tangan Aretha mengikuti kedua santri menuju mobil.
Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk menuju ke pondok dengan Ghibran dan Aretha yang duduk di jok tengah. Terkadang Ghibran juga mengajak kedua santri itu berbicara agar tidak terlalu canggung saat dalam perjalanan.
Drrtt drrtt drrtt...
Ponsel Ghibran berdering, setelah melihat kontak namanya Ghibran segera mengangkat panggilan telepon itu.
'Assalamualaikum.' sapa Ghibran pada orang yang menelfonnya.
'Waalaikum salam.' balas orang yang ada di sebrang sana.
'Ghib, lo ada di mana? Gw mau ngajak lo ngobrol sekalian ngopi gitu.' ajak orang itu.
'Maaf Tan aku lagi ada di Malang sama istri aku, jadi aku gak bisa. Bagaimana kalau lain kali waktu aku udah pulang ke Jakarta.'
Ya, yang menelfon Ghibran adalah Arthan, entah apa yang akan Arthan bicarakan sampai sampai mau mengajak Ghibran nongkrong.
'Ya udah gak papa lain kali aja. Oh iya lo berapa lama di sana?' tanya Arthan.
'Gak tahu sih aku, tapi gak lama juga. Kan pekerjaan ku ada di Jakarta dan gak bisa di tinggal terlalu lama.' jawab Ghibran.
'Iya juga sih, ya udah lo lanjutin aja gw tutup telfonnya dulu.'
'Waalaikum salam, hati hati lo.'
Tut.
"Kenapa?" tanya Aretha penasaran.
" Ini si Arthan ngajak ketemuan katanya mau ada yang di omongin." jawab Ghibran.
"Oh."
"Ini pesantrennya masih jauh ya?" tanya Ghibran agak berbisik pada Aretha.
"Enggak kok, bentar lagi juga sampai. Entar di depan belok kiri trus sampai deh." jelas Aretha di balas anggukan oleh Ghibran.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga di pesantren milik kakek Aretha yang tak lain adalah Kiyai Mahfudz. Terlihat dari dalam mobil sudah ada Kiyai Mahfudz dan ibu nyai Halimah yang sudah menunggu kedatangan mereka di depan ndalem.
"Assalamualaikum nenek, kakek." heboh Aretha salim dan memeluk ibu nyai Halimah.
"Waalaikum salam, akhirnya cucu nenek sampai juga." balas ibu Nyai Halimah sambil memeluk Aretha.
"Assalamualaikum nek, kek." salam Ghibran salim pada kyai Mahfudz.
"Waalaikum salam nak."
"Yuk kita masuk, ngobrol di dalam saja sama yang lain." ajak Kiyai Mahfudz dan di setujui oleh mereka.
Mereka semua pun masuk ke ndalem. Ghibran sedari tadi memperhatikan keadaan pesantren milik kakek istrinya ini. Meskipun pesantrennya tidak terlalu besar, tapi santrinya di sini lumayan banyak. Terlihat dari banyaknya lalu lalang anak anak santri yang tadi Ghibran lewati.
"Assalamualaikum." salam mereka saat memasuki rumah Kiyai Mahfudz.
"Waalaikum salam." jawab orang orang yang ada di dalam.
Aretha menyalami para wanita yang ada di sana, sedangkan Ghibran ke para pria. Setelah itu mereka memperkenalkan diri mereka pada yang lain. Terutama Ghibran, kalau Aretha mah sudah banyak yang kenal.
...***...