
"STOP." teriak Ruby keluar dari tempat persembunyiannya.
"Babe!!" kaget Arthan dan mengurungkan niatnya untuk tadi mau memotong lidah orang itu.
"Stop, aku mohon sama kamu jangan lakuin itu. Ini dosa Arthan." ucap Ruby dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Enggak be, kamu salah faham. Ini tidak seperti apa yang kamu lihat." jelas Arthan mendekati Ruby yang mulai berjalan mundur untuk pergi dari sana.
"Stop, jangan mendekat. Kamu bereskan apa yang sudah kamu lakukan, aku mau pergi dulu." ucap Ruby melarang Arthan yang akan mendekati dirinya.
"Enggak be, kamu harus dengerin aku dulu."
"Gak ada yang perlu kamu jelasin, semuanya sudah jelas." setelah mengatakan itu Ruby balik badan dan berlari pergi dari sana.
"RUBY...." Teriak Arthan tapi tak di hiraukan oleh Ruby.
"Kalian bereskan semuanya, dan bawa dia ke kandang buaya. Gara gara dia Ruby ku jadi menjauh." perintah Arthan pada anak buahnya.
Bukannya tersadar, Arthan malah semakin bertindak di luar otak manusia. Setelah mendapatkan anggukan dari anak buahnya, Arthan pun berlari untuk mengejar Ruby yang sudah jauh dari jangkauannya.
Sementara di posisi Ruby, dia terus berlari menuju mobil taksi yang setia menunggu dirinya sedari tadi.
"Enggak by, lo harus bisa lupain Arthan. Dia gak baik buat Lo." ucap Ruby sambil berlari dan bolak balik menatap ke belakang untuk melihat apakah Arthan masih mengejarnya atau tidak.
"RUBY...."
Tuh kan benar saja, terlihat Arthan yang tengah berlari mengejar Ruby. Ruby pun menambah kecepatan larinya agar cepat sampai di mobil taksi.
"Ruby tunggu aku bisa jelasin semuanya." teriak Arthan berharap Ruby mau berhenti.
Sepuluh meter lagi Ruby akan sampai di mobil taksi, dengan nafas yang tersengal-sengal Ruby berusaha tetap kuat. Sudah terlalu jauh dia berlari hingga akhirnya Ruby sampai di mobil taksi dan segera masuk ke dalam.
"Ayo pak cepat jalan." perintah Ruby kepada supir taksi saat baru masuk.
"Tapi neng di belakang ada...."
"Udah pak ayo cepat, dia orang jahat. Emang bapak mau di palak penjahat?"
"Maknanya ayo cepat kita pergi." lanjut Ruby.
Dengan cepat sopir taksi itu pun melakukan mobilnya meninggalkan pelataran hutan yang sangat sepi.
"Ruby aku bisa jelasin semuanya." teriak Arthan sambil mengejar taksi yang di naiki Ruby.
"Ruby."
"Ruby."
Teriak Arthan yang sudah menghentikan larinya karena sudah tertinggal jauh oleh taksi yang di naiki Ruby.
Mau balik ngambil mobilnya pun percuma, karena posisi mobilnya terletak sangat jauh dari posisi taksi yang di naiki Ruby.
"Aagrr... si*l." umpat Arthan sambil menendangkan kakinya ke sembarang arah.
"Auwss...." ringis Arthan karena menendang akar pohon yang sangat kuat.
"Ini siapapun sih yang letakin akar di sini, ganggu orang aja." maki Arthan pada akar pohon yang tidak bersalah sedikitpun.
Arthan pun memutuskan untuk kembali ke tempatnya tadi, biarlah Ruby nanti saja dia urus setelah urusan selesai.
-
Sementara itu di kediaman Ghibran sudah ramai akan tamu tamu yang datang. Ghibran juga mengundang seluruh anak panti yang ada di panti asuhan ibu Yuni. Jadi bisa di lihat keadaan di rumah Ghibran sangatlah rame.
"Ini si Ruby mana sih, acara udah di mulai dari lima belas menit yang lalu tapi dia belum datang juga." ucap Aretha yang menanti kehadiran sahabatnya.
"Sabar sayang, mungkin dia lagi di jalan. Bang Arthan juga kelihatannya belum sampai, mungkin mereka berdua lagi berduaan dulu sebelum ke sini." balas Ghibran yang fikirannya selalu positif.
"Ya semoga saja." balas Aretha.
Sekarang tengah berlangsung acara pengajian, jadi Aretha juga duduk di sana bersama Ghibran untuk mengikuti acara pengajian.
...***...